SLF 2026 Ajak Publik Membaca Ulang Lontar Stri Sasana dan Peran Perempuan
- 03 Jul 2026 08:41 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Lontar Stri Sasana menjadi inspirasi utama tema Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Melalui tema "Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta", penyelenggara ingin mengajak masyarakat membaca kembali warisan manuskrip Bali sebagai ruang dialog mengenai perempuan, tradisi, dan peradaban.
Pendiri sekaligus Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti, mengatakan Stri Sasana tidak dapat dimaknai hanya sebagai kumpulan aturan mengenai perempuan. Menurutnya, naskah tersebut juga memuat nilai tentang ketangguhan, kebijaksanaan, dan peran perempuan dalam kehidupan sosial.
| Baca juga: Jegog Suar Agung Sukses Tampil di Jepang |
"Tema ini bukan untuk menempatkan perempuan sebagai objek. Justru kami ingin menunjukkan bahwa perempuan sejak lama hadir sebagai bagian penting dalam bangunan pengetahuan dan peradaban Bali," ujarnya dalam konferensi pers, Senin 22 Juni 2026.
Sonia menjelaskan, festival juga tidak bermaksud mengagungkan seluruh isi manuskrip maupun menghakiminya dengan ukuran masa kini. Sebaliknya, SLF ingin menghadirkan ruang diskusi kritis agar nilai-nilai yang masih relevan dapat dipahami sesuai konteks kehidupan sekarang.
| Baca juga: Jegog Jembrana Tampil Lagi di Jepang |
Secara etimologis, kata stri berarti perempuan, sedangkan sasana berarti ajaran, aturan, etika, atau landasan moral. Melalui pemaknaan tersebut, festival berupaya menunjukkan bahwa tradisi juga menyimpan gagasan mengenai martabat perempuan.
Menurut Sonia, dalam kosmologi Bali perempuan dipandang sebagai energi penciptaan, pemeliharaan, dan keberlanjutan kehidupan. Karena itu, kepemimpinan dan suara perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sosial, budaya, maupun lingkungan.
Ia menambahkan, festival ingin memperlihatkan bahwa feminisme tidak selalu bertentangan dengan tradisi. Justru tradisi dapat menjadi sumber pengetahuan untuk membaca kembali nilai-nilai kesetaraan yang hidup dalam masyarakat.
SLF 2026 akan berlangsung pada 3–5 Juli dengan menghadirkan 42 program, mulai dari diskusi sastra, kuliah umum, lokakarya, pameran, hingga pertunjukan seni yang melibatkan penulis, akademisi, filolog, dan pegiat budaya dari berbagai daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....