Literasi Agama Kunci Memahami Makna Membanten Bagi Generasi Muda
- 02 Jul 2026 15:22 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Perkembangan zaman membuat sebagian generasi muda mulai mempertanyakan makna berbagai tradisi keagamaan, termasuk membanten dalam ajaran Hindu. Tidak sedikit yang menjalankan tradisi tersebut hanya karena kebiasaan keluarga atau lingkungan tanpa memahami filosofi yang melandasinya. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Putu Sariada, mengingatkan pentingnya literasi keagamaan agar praktik budaya tetap berjalan selaras dengan ajaran agama. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Obrolan Spada, Selasa, 30 Juni 2026 dengan menekankan bahwa pemahaman terhadap sastra menjadi bekal penting dalam menjaga nilai spiritual sebuah tradisi.
Menurut Putu Sariada, membanten merupakan bentuk yadnya yang menjadi kewajiban umat Hindu sebagai ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun, kewajiban tersebut tidak identik dengan keharusan membuat persembahan yang rumit atau mahal. Hindu telah mengatur tingkatan persembahan mulai dari nista, madya, hingga utama yang dapat dipilih sesuai kemampuan ekonomi dan kondisi masing-masing umat. "Agama tidak mengajarkan umat untuk memaksakan diri. Tingkatan banten sudah disesuaikan agar setiap orang tetap bisa melaksanakan kewajibannya," ujar Putu Sariada.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi tertentu, persembahan sederhana tetap dapat dilakukan selama didasari ketulusan hati. Bahkan, penggunaan dupa sebagai sarana persembahan sudah cukup apabila memang itulah kemampuan yang dimiliki seseorang. Yang paling penting adalah niat tulus serta pemahaman terhadap makna yadnya yang dilakukan. Dengan demikian, umat tidak perlu merasa rendah diri apabila belum mampu membuat banten dalam bentuk yang lebih lengkap karena nilai spiritual tidak ditentukan oleh kemewahan sarana.
Selain itu, Putu Sariada menilai literasi agama menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi. Ia berharap anak muda tidak hanya melestarikan budaya secara turun-temurun, tetapi juga memahami dasar sastra yang menjadi landasan setiap tradisi. "Budaya dan agama harus berjalan seimbang. Karena itu generasi muda perlu belajar sastra agar memahami makna setiap tradisi yang dijalankan," kata Putu Sariada. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat tidak mudah terjebak pada anggapan bahwa seluruh praktik budaya wajib dilakukan secara seragam tanpa melihat konteks ajaran agama.
Pemahaman yang benar mengenai membanten diharapkan mampu menghilangkan anggapan bahwa tradisi Hindu selalu identik dengan biaya besar. Sebaliknya, masyarakat diajak melihat bahwa inti persembahan adalah rasa syukur, ketulusan, serta kesadaran spiritual kepada Tuhan. Literasi agama juga menjadi jembatan untuk menyelaraskan praktik budaya dengan ajaran sastra sehingga tradisi tetap lestari tanpa kehilangan makna filosofisnya. Dengan bekal pengetahuan tersebut, generasi muda diharapkan mampu menjaga warisan budaya Hindu secara bijaksana sekaligus memahami nilai-nilai keagamaan yang terkandung di dalamnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....