Membanten Bukan Beban, Wujud Syukur Sesuai Kemampuan Umat
- 02 Jul 2026 15:21 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Membanten kerap dianggap sebagai tradisi yang membutuhkan biaya besar sehingga sebagian masyarakat, khususnya generasi muda, merasa terbebani untuk melaksanakannya. Padahal, dalam ajaran Hindu, esensi membanten bukan terletak pada kemewahan sarana persembahan, melainkan pada makna syukur dan ketulusan hati. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Putu Sariada, saat mengisi Obrolan Spada pada Selasa, 30 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa banten merupakan bentuk yadnya atau persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus refleksi diri yang dikenal dengan konsep pinake ragante, yakni menjadikan banten sebagai cerminan kualitas batin seseorang dalam mengucapkan rasa terima kasih atas segala anugerah kehidupan.
Menurut Putu Sariada, membanten merupakan kewajiban bagi umat Hindu sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan sebelum menikmati segala hasil yang diberikan alam semesta. Namun, kewajiban tersebut tidak berarti setiap orang harus membuat persembahan yang mewah atau bernilai tinggi. Ia menegaskan bahwa ajaran Hindu telah memberikan ruang bagi umat untuk menyesuaikan bentuk persembahan berdasarkan kemampuan masing-masing melalui tingkatan nista, madya, maupun utama. "Membanten adalah kewajiban umat Hindu, tetapi pilihan ada pada tingkatannya. Semua disesuaikan dengan kemampuan, tidak perlu memaksakan diri," ujar Putu Sariada.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa umat yang memiliki keterbatasan ekonomi tetap dapat menjalankan kewajibannya dengan sarana sederhana. Bahkan, persembahan berupa dupa yang dihaturkan dengan hati tulus tetap memiliki nilai spiritual yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menilai besar kecilnya persembahan, melainkan keikhlasan serta kesungguhan umat dalam melaksanakan yadnya. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang membanten sebagai beban finansial, melainkan sebagai bentuk komunikasi spiritual yang dapat dilakukan siapa saja sesuai kondisi kehidupan masing-masing.
Selain menekankan fleksibilitas dalam pelaksanaan yadnya, Putu Sariada juga mengajak masyarakat agar memahami dasar ajaran agama yang melandasi tradisi membanten. Menurutnya, pelaksanaan upacara yang hanya didasarkan pada kebiasaan tanpa mengetahui makna di baliknya berpotensi membuat umat kehilangan nilai filosofis dari tradisi tersebut. "Generasi muda jangan hanya mengikuti tradisi, tetapi juga perlu mempelajari sastra agar memahami alasan setiap persembahan dilakukan," ucap Putu Sariada. Dengan bekal literasi keagamaan yang baik, budaya yang berkembang di masyarakat dapat berjalan selaras dengan ajaran Hindu yang bersumber dari sastra.
Melalui pemahaman tersebut, membanten tidak lagi dipandang sebagai ukuran status sosial ataupun kemampuan ekonomi seseorang. Tradisi ini justru mengajarkan kesederhanaan, rasa syukur, dan tanggung jawab spiritual kepada Tuhan sesuai kapasitas masing-masing. Edukasi mengenai makna membanten juga menjadi langkah penting untuk menjaga agar nilai-nilai luhur Hindu tetap dipahami oleh generasi muda. Dengan demikian, tradisi dapat terus lestari tanpa menghilangkan esensi utama, yakni ketulusan dalam mempersembahkan yadnya sebagai ungkapan syukur atas segala berkah kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....