Umat Hindu Diajak Implementasikan Tri Hita Karana sebagai Ekoteologi
- 30 Jun 2026 11:18 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Umat Hindu diajak mengimplementasikan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk nyata menjaga keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan. Pesan tersebut disampaikan perwakilan PHDI Kabupaten Buleleng, Dr. Ida Bagus Wika Krisna, saat menyampaikan dharma wacana dalam rangkaian Piodalan ke-33 Pura Agung Jagatnatha Buleleng, Senin 29 Juni 2026.
Mengangkat topik “Tri Hita Karana Implementasi Ekoteologi”, Ida Bagus Wika Krisna menyampaikan bahwa ajaran Hindu sejak dahulu telah menempatkan alam sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia.
Ia mengutip ajaran dalam Kitab Atharva Veda XII.1.12, bagian Prithivi Sukta atau himne untuk bumi, melalui sloka “Mātā bhūmiḥ putro'haṃ pṛthivyāḥ” yang bermakna bahwa bumi adalah ibu dan manusia merupakan putra dari bumi pertiwi. Menurutnya, ajaran tersebut menjadi pengingat bahwa manusia bukan hanya memanfaatkan alam, tetapi memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat bumi.
“Karena kita adalah anak-anak dari bumi pertiwi, maka kewajiban kita tentu menjaga alam semesta ini, menjaga bumi ini,” ucapnya dalam dharma wacana tersebut.
Ia menjelaskan, konsep menjaga keharmonisan tersebut telah diwariskan dalam kehidupan masyarakat Bali melalui nilai sukertaning tata parahyangan, sukertaning tata palemahan (alam), dan sukertaning tata pawongan (manusia).
Namun dalam praktiknya, masyarakat dinilai masih sering lebih menonjolkan aspek Parahyangan atau hubungan dengan Tuhan, sementara aspek Palemahan dan Pawongan perlu terus diperkuat.
“Kita sering merasa sangat beragama ketika sudah melakukan persembahyangan, membawa canangsari, dan menghaturkan yadnya. Tetapi itu harus diimbangi dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menjaga keharmonisan sosial,” ujarnya.
Ida Bagus Wika Krisna menegaskan, pelaksanaan yadnya tidak hanya dilihat dari besar kecilnya sarana upacara, tetapi juga dari kesadaran umat dalam menjaga alam dan kehidupan bersama. Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan nilai yang tertuang dalam Lontar Bhuwana Mahbah, bahwa manusia diberikan peran dan tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan alam semesta.
Menurutnya, manusia memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana hubungan dengan lingkungan dibangun. Karena itu, menjaga alam merupakan bagian dari dharma manusia. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak umat untuk kembali merefleksikan konsep Tri Hita Karana, Ekoteologi, dan Green Dharma agar tidak hanya menjadi pemahaman, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
Salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama adalah pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik. Ia mengingatkan bahwa konsep kebersihan tidak cukup hanya dengan memastikan sampah tidak terlihat, tetapi bagaimana manusia benar-benar bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Kadang kita menganggap sudah bersih ketika sampah tidak terlihat di depan mata, padahal bisa saja lingkungan lain yang menjadi korban. Sehingga seringkali kemudian sungai menjadi korban. Atau mungkin tetangga kita jadi korban,” katanya.
Ia menambahkan, perubahan perilaku dalam menjaga lingkungan membutuhkan proses panjang dan harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan serta pembiasaan di keluarga.
“Sebagai putra-putri pertiwi, sebagai anak-anak bumi, dharma manusia untuk menjaga alam harus benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya mengakhiri.
Piodalan ke-33 Pura Agung Jagatnatha Buleleng berlangsung bertepatan dengan Purnama Kasa, Senin 29 Juni 2026, dan menjadi momentum bagi umat Hindu untuk meningkatkan sradha bhakti sekaligus memperkuat kesadaran menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....