Makna Tembang Lir Ilir Karya Sunan Kalijaga, Ajakan Bangkit dan Memperbaiki Diri

  • 04 Jun 2026 19:37 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Tembang “Lir Ilir” merupakan salah satu karya dakwah budaya yang sangat populer di masyarakat Jawa. Lagu tradisional ini diyakini diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai media penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa.

Hingga kini, syair “Lir Ilir” masih sering dinyanyikan dalam berbagai kegiatan keagamaan maupun kebudayaan. Selain memiliki irama yang sederhana dan mudah diingat, tembang ini juga menyimpan makna filosofis yang mendalam.

Berikut penggalan lirik tembang “Lir Ilir”:

“Lir-ilir, lir-ilir

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar”

Secara harfiah, “lir-ilir” berarti bangun atau sadar dari tidur. Dalam makna spiritual, syair tersebut mengajak manusia untuk bangkit dari kelalaian dan mulai memperbaiki keimanan.

Kalimat “tandure wus sumilir” menggambarkan tanaman yang mulai tumbuh dan menghijau. Hal itu dimaknai sebagai tanda harapan dan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki diri selagi masih diberi kehidupan.

Sementara itu, bagian lirik “cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi” memiliki simbol yang erat dengan ajaran Islam. Buah belimbing yang memiliki lima sisi dimaknai sebagai lambang lima rukun Islam.

Dalam syair selanjutnya disebutkan:

“Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro”

Makna dari kalimat tersebut ialah ajakan agar manusia tetap berusaha menjalankan kewajiban agama meskipun menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup.

Tembang ini juga mengingatkan manusia untuk memperbaiki diri sebelum datangnya ajal. Hal itu tergambar pada lirik:

“Dodotiro, dodotiro kumitir bedah ing pinggir

Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore”

Pakaian yang robek diibaratkan sebagai diri manusia yang penuh kesalahan dan dosa. Karena itu, manusia diminta untuk “menjahit” kembali atau memperbaiki amal dan ketakwaannya sebelum menghadap Sang Pencipta.

Selain mengandung nilai religius, tembang “Lir Ilir” juga sarat pesan moral tentang kerja keras, semangat hidup, dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Pesan tersebut terlihat pada lirik:

“Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane”

Artinya, manusia diminta menggunakan kesempatan hidup sebaik mungkin selagi masih sehat, memiliki waktu, dan kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Melalui pendekatan budaya seperti tembang dan kesenian, Sunan Kalijaga dikenal berhasil menyebarkan ajaran Islam secara damai dan mudah diterima masyarakat Jawa pada masanya.

Hingga kini, “Lir Ilir” tidak hanya dipandang sebagai lagu tradisional, tetapi juga warisan budaya yang mengandung pesan spiritual lintas generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....