Pura Pabean dan Pemujaan Dewi Kwan Im

  • 11 Mei 2026 10:25 WIB
  •  Singaraja

RRI. CO.ID, Singaraja – Pura Pabean berada di pesisir pantai Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, berseberangan langsung dengan Pura Pulaki. Pura ini tidak hanya dikenal sebagai salah satu jajaran Pesanakan Ida Batara Pulaki (pura yang letaknya berdekatan dan memiliki keterkaitan sejarah serta upacara) sekaligus menjadi saksi bisu dan simbol akulturasi budaya Hindu Bali dan Tiongkok yang telah terjalin selama berabad-abad.

Secara historis, nama Pabean sendiri merujuk pada fungsi kawasan ini di masa lampau sebagai pelabuhan dan tempat pemungutan bea cukai bagi kapal-kapal dagang yang singgah di Bali Utara. Dengan lokasi yang menjorok ke laut (tanjung) menjadikannya sebagai gerbang alami bagi masuknya berbagai pengaruh, termasuk budaya Tiongkok.

Tempat Melukat (Pembersihan diri secara spiritual) di pesisir pantai kawasan Pura Pabean. (Foto: RRI/Wirati)

Pura ini dikenal sebagai salah satu tempat suci untuk melukat (pembersihan diri secara spiritual) dan memohon kesembuhan. Beberapa pelinggih (bangunan suci) yang ada di Pura Pabean antara lain:

Pelinggih Utama (Geriya Konco Dewi) tempat penghormatan kepada Ida Batari Dewi Ayu Manik Mas Subandar sebagai penguasa pelabuhan. Pelinggih Bathara Baruna, Pelinggih Ratu Anglurah, Padmasana, miniatur Klenteng (Pagoda), Widiadara Widiadari, Taksu, Pangelurah, Pengaruman Agung, Bale Paselang, dan Bale Panggungan.

Menurut Dosen yang juga selaku Kepala Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Singaraja, Dr. Putu Suarnaya, keberadaan tempat pemujaan Dewi Kwan Im di beberapa pura di Bali, seperti di kawasan Batur dan di Pura Pabean, adalah bukti nyata akulturasi budaya yang kuat. Akulturasi ini berakar pada sejarah masa pemerintahan Raja Sri Jayapangus dari Dinasti Warmadewa di Balingkang, Kintamani, yang menikah dengan seorang putri dari Tiongkok bernama Kang Cing Wie. Perkawinan ini menciptakan perpaduan budaya yang harmonis, yang masih dapat dilihat hingga kini melalui keberadaan pelinggih Ratu Subandar dan patung Dewi Kwan Im.

"Pemujaan Dewi Kwan Im di pura Hindu Bali bukan sebagai percampuran agama (sinkretisme), melainkan bentuk pemahaman umat Hindu Bali terhadap manifestasi Tuhan. Hal ini selaras dengan ajaran Rgveda yang berbunyi Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti, yang berarti "Tuhan itu Esa, tetapi disebut dengan banyak nama, " ujar Putu Suarnaya.

Dalam filsafat Hindu Bali, Dewi Kwan Im dimaknai sebagai Shakti atau energi kasih sayang dari Hyang Widhi (Tuhan). Keberadaannya dianggap sakral dan bukan sebagai dewa asing.

Penempatan pelinggih Dewi Kwan Im, yang secara visual sering kali menampilkan ornamen khas Tiongkok dengan dominasi warna merah, di dalam arsitektur pura Hindu yang didominasi batu hitam, menciptakan pemandangan yang sangat ikonik dan damai. Putu Suarnaya juga menekankan bahwa keberadaan Dewi Kwan Im selaras dengan filosofi Tri Hita Karana, Desa Kala Patra, Rwa Bhineda dan Tat Twam Asi, yang menekankan welas asih, keseimbangan dan harmoni.

"Hal ini menjadi simbol teologi kerukunan dan toleransi yang diwujudkan oleh masyarakat Bali hingga ke tingkat spiritual dan pemujaan," ujarnya mengakhiri.

Pura Pabean Pulaki kini bukan hanya tempat ibadah. Namun juga menjadi destinasi wisata spiritual yang mengajarkan tentang sejarah kebersamaan dan keharmonisan hidup dalam perbedaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....