Relevansi Pola Asuh Nitiśāstra di Era Modern

  • 04 Mei 2026 09:28 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital, Nitiśāstra Sloka IV.20 menawarkan konsep pola asuh anak berbasis tahapan perkembangan usia.

Konsep ini dinilai memiliki benang merah yang kuat dengan berbagai teori pendidikan modern seperti yang dikemukakan oleh Jean Piaget, Erik Erikson hingga Lev Vygotsky.

Menurut I Putu Suarnaya Dosen STKIP Agama Hindu Singaraja, Nitiśāstra IV.20 membagi perlakuan orang tua terhadap anak ke dalam lima fase krusial:

1. Usia 0–5 Tahun (Fase Raja): Anak diperlakukan dengan kasih sayang penuh tanpa tekanan. Hal ini bertujuan untuk membangun rasa aman dan kepercayaan diri dasar.

2. Usia 6–10 Tahun (Fase Disiplin): Fokus beralih pada pelatihan kepatuhan dan kedisiplinan untuk membentuk fondasi etika.

3. Usia 10–15 Tahun (Fase Literasi): Anak mulai dibekali dengan ilmu pengetahuan dan literasi yang lebih intensif.

4. Usia 16 Tahun ke Atas (Fase Sahabat): Orang tua menempatkan diri sebagai teman diskusi guna menjaga keterbukaan komunikasi di masa remaja.

5. Masa Dewasa (Fase Reflektif): Anak diarahkan secara halus (reflektif) karena mereka dianggap telah memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan.

“Metode ini menunjukkan bahwa Pendidikan efektif harus adaftif, humanistic serta menyeimbangkan aspek kognitif, afektif dan sosial untuk membentuk individu yang mandiri dan berintegritas,” ujar Putu Suarnaya melalui sambungan telepon, Senin, 4 Mei 2026.

Ia juga menegaskan bahwa pendidikan Hindu bersifat developmental (berbasis perkembangan), humanistik (berbasis kasih sayang dan relasi), dan transformative (menuju kemandirian diri). Menariknya, pola ini sangat relevan dengan beberapa teori besar di dunia Barat:

Jean Piaget (Perkembangan Kognitif): Tahapan dalam Nitiśāstra sejalan dengan perkembangan cara berpikir anak dari konkret ke abstrak.

Erik Erikson (Psikososial): Penekanan kasih sayang di usia dini mendukung pembentukan basic trust (kepercayaan dasar).

Lev Vygotsky (Konstruktivisme): Pendekatan Fase Sahabat mendukung konsep Student-Centered Learning (Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa), pendidik berperan sebagai fasilitator, bukan otoritas mutlak.

Putu Suarnaya menambahkan bahwa penerapan Nitiśāstra IV.20 di era sekarang dianggap mampu menjawab krisis karakter pada generasi muda. Dengan menempatkan anak sesuai porsinya, kapan harus dimanja, kapan harus disiplin, dan kapan harus diajak berdiskusi sebagai rekan, orang tua dapat menciptakan hubungan yang harmonis dan efektif.

"Pendidikan modern terbaik tetap menyesuaikan metode dengan tahap tumbuh kembang anak itu sendiri,” ujar Putu Suarnaya.

Implementasi nilai-nilai ini diharapkan tidak hanya berhenti di ranah akademis, tetapi juga dipraktikkan dalam lingkup keluarga sebagai unit pendidikan terkecil, guna mencetak generasi yang cerdas secara intelektual dan matang secara emosional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....