Esensi Naur Sesangi dalam Perspektif Hindu Bali

  • 01 Mei 2026 18:46 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja — Tradisi naur sesangi memiliki makna mendalam dalam kehidupan spiritual umat Hindu di Bali. Lebih dari sekadar ritual, praktik ini mencerminkan komitmen moral dan tanggung jawab seseorang terhadap janji yang telah diucapkan.

Secara makna, naur berarti membayar, sedangkan sesangi berarti janji, kaul, atau nazar. Dengan demikian, naur sesangi dimaknai sebagai memenuhi janji atau membayar kaul yang pernah diucapkan. Dalam ajaran Hindu, janji tersebut dipandang sebagai utang spiritual yang wajib ditunaikan oleh orang yang mengucapkannya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Buleleng, Dr. Drs. I Gde Made Metera, M.Si, menjelaskan bahwa ketika seseorang sudah menyatakan atau mengucapkan sesangi, maka ia wajib untuk menunaikannya. Kewajiban membayar utang, termasuk utang dalam bentuk janji spiritual, merupakan bagian dari ajaran agama Hindu.

“Janji, kaul, atau nazar adalah utang bagi yang mengucapkan. Utang itu harus dibayar pada waktunya,” ujarnya kepada RRI, Jumat 1 Mei 2026.

Ia menambahkan, dalam konteks naur sesangi, ajaran ini berkaitan erat dengan pelaksanaan karma baik, yakni tindakan benar yang akan membuahkan hasil baik. Selain itu, juga berkaitan dengan konsep satya, khususnya satya wacana, yaitu kesetiaan terhadap ucapan. Ketika seseorang telah mewacanakan atau mengucapkan sesangi, maka ia berkewajiban untuk menepatinya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa secara ajaran agama Hindu, mengucapkan sesangi sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan, terlebih jika dimaknai sebagai bentuk “gratifikasi” kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hal tersebut dinilai kurang tepat, karena Tuhan tidak memerlukan dan tidak dapat “diberi imbalan” melalui janji-janji tersebut.

“Kalau terlanjur mengucapkan sesangi, maka harus naur. Utang atau janji itu wajib dibayar,” katanya menegaskan

Apabila seseorang belum mampu menunaikan sesangi, maka dapat dilakukan mepiuning, yaitu menyampaikan permakluman secara spiritual bahwa yang bersangkutan belum dapat memenuhi janji tersebut.

Dengan demikian, naur sesangi tidak hanya menjadi kewajiban religius, tetapi juga cerminan nilai etika dalam kehidupan umat Hindu, seperti kejujuran, tanggung jawab, serta konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....