Makna Hari Raya Tumpek Landep Bagi Umat Hindu

  • 18 Apr 2026 04:18 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Hari Raya Tumpek Landep merupakan salah satu hari suci dalam ajaran Hindu yang diperingati setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Pawukon, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Landep. Perayaan ini memiliki makna filosofis yang mendalam, tidak hanya sebatas ritual penyucian benda-benda berbahan logam, tetapi juga sebagai momentum introspeksi diri.

Secara etimologis, kata Tumpek merujuk pada hari peringatan, sementara Landep berarti tajam atau runcing. Ketajaman yang dimaksud tidak hanya pada senjata atau alat berbahan besi, melainkan juga ketajaman pikiran manusia. Oleh karena itu, Tumpek Landep dimaknai sebagai hari untuk mempertajam budhi pekerti dan kejernihan pikiran.

Menurut Jro Mangku Maliarsa, saat Hari Raya Tumpek Landep umat Hindu biasanya melakukan persembahyangan serta memberikan sesajen pada berbagai alat seperti kendaraan, senjata tradisional, hingga peralatan kerja. Hal ini merupakan simbol rasa syukur atas teknologi dan sarana penunjang kehidupan yang telah membantu aktivitas manusia.

"Pemujaannya di Merajan dengan tumpeng putih kuning, daging ayam, rerasmen dan lainnya dengan ayaban Peras Pejati Suci, Sesayut Jayeng Perang, Sesayut Pasupati dan disertasi menaruh air atau toya anyar untuk mohon "wangsuh pade " atau Tirta kepada Tuhan dengan manifestasinya Ida Bhatara Siwa Pasupati," ujarnya.

Lebih dari sekadar ritual, nilai spiritual Tumpek Landep tercermin dalam ajaran sastra Hindu. Salah satu kutipan yang kerap dijadikan pedoman berasal dari ajaran Sarasamuscaya yang menyebutkan, “Manah eva manushyanam karanam bandha mokshayoh”, yang berarti pikiranlah yang menjadi penyebab manusia terikat maupun mencapai kebebasan. Kutipan ini menegaskan bahwa pengendalian pikiran menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan yang harmonis.

Selain itu Jro Maliarsa juga menyebut perayaan Tumpek Landep adalah tertuju pada diri manusia yaitu untuk mewujudkan konsep "landepaning idep" yaitu menajamkan pikiran agar bisa menggunakan logika atau pikiran dengan baik berdasarkan dharma atau kebenaran. Hal ini dapat diwujudkan dengan ilmu pengetahuan, baik Para Widya yaitu pengetahuan untuk meningkatkan kerohanian berupa ajaran agama Hindu maupun Apara Widya yaitu ilmu pengetahuan duniawi yang diperoleh dari buku-buku ilmu pengetahuan .

"Ada ucapan bijak yang sangat perlu direnungkan dan diimplementasikan dalam mengarungi hidup dan kehidupan agar mencapai kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran serta kemuliaan yaitu ajaran agama untuk mengarahkan hidup dan ajaran ilmu pengetahuan adalah untuk memudahkan hidup. Ini berarti ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan lainnya merupakan landasan yang kuat untuk menyeimbangkan untuk mencapai ketajaman pikiran atau "landepaning idep", s ehingga mencapai hidup yang bahagia lahir dan batin," ucapnya.

Dengan demikian, Tumpek Landep mengajarkan umat Hindu untuk tidak hanya merawat benda fisik, tetapi juga mengasah kecerdasan spiritual dan moral. Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, nilai-nilai ini tetap relevan sebagai pengingat agar manusia bijak dalam menggunakan kemampuan dan alat yang dimiliki.

Perayaan ini pun menjadi refleksi penting bahwa ketajaman pikiran harus selalu diimbangi dengan kebijaksanaan hati, sehingga tercipta keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....