Sambangan: Pecalang Tempo Dulu dan Perkembangannya Kini
- 19 Mar 2026 19:00 WIB
- Singaraja
RRO.CO.ID, Singaraja - Dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi di Bali, terdapat berbagai tradisi yang sarat makna dan nilai kebersamaan. Salah satu yang cukup dikenal di masa lalu adalah sambangan, sebuah aktivitas yang dilakukan oleh pecalang sebagai bagian dari tugas menjaga ketertiban desa adat.
Menurut Wayan Tamtam, Secara etimologis, kata sambangan berasal dari kata “sambang” yang berarti mengunjungi atau mendatangi. Dalam konteks Nyepi, sambangan dimaknai sebagai kegiatan pecalang yang berkeliling atau mendatangi rumah-rumah warga untuk menyampaikan informasi, imbauan, sekaligus memastikan kesiapan masyarakat dalam menjalankan rangkaian Nyepi. Peran sambangan sangat penting, terutama pada masa ketika akses komunikasi masih terbatas.
"Melalui sambangan, pecalang dapat berinteraksi langsung dengan warga, menjelaskan makna Nyepi, serta mengingatkan aturan yang harus dipatuhi selama pelaksanaannya," ujarnya.
Adapun tugas-tugas pecalang dalam kegiatan sambangan menjelang Nyepi antara lain menyampaikan imbauan terkait pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yaitu tidak menyalakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan), tidak bekerja (amati karya), dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan). Selain itu, pecalang juga memastikan lingkungan dalam keadaan aman, tertib, serta bebas dari aktivitas yang dapat mengganggu kesucian Nyepi.
Tidak hanya itu, Wayan Tamtam menjelaskan sambangan juga menjadi sarana untuk mendata kondisi warga, seperti memastikan kebutuhan mendesak sudah terpenuhi sebelum Nyepi berlangsung. Pecalang juga dapat memberikan solusi atau koordinasi jika ada warga yang memerlukan perhatian khusus, seperti orang sakit atau keadaan darurat.
"Tugas sambangan disini tidak memberikan sanksi langsung melainkan hanya mencatat apa yang diperlukan warga termasuk pelanggaran yang dilakukan saat Nyepi yang kemudian diserahkan kepada aparat desa," katanya menjelaskan.
Namun, seiring perkembangan zaman, praktik sambangan mulai mengalami perubahan. Kemajuan teknologi komunikasi membuat penyampaian informasi menjadi lebih cepat melalui media sosial, grup pesan instan, dan pengeras suara di lingkungan banjar. Hal ini menyebabkan kegiatan sambangan secara langsung semakin jarang dilakukan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....