Wabah Sifilis Pernah Pengaruhi Tren Mode Bangsawan Eropa

  • 20 Mei 2026 12:16 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja — Wabah sifilis yang melanda Eropa pada abad ke-17 ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga memengaruhi perkembangan tren mode di kalangan bangsawan Inggris dan Eropa.

Dalam sejarah mode, berbagai gaya busana dan aksesoris populer pada masa itu awalnya muncul sebagai cara untuk menyembunyikan gejala penyakit sifilis. Namun seiring waktu, gaya tersebut justru berubah menjadi simbol kemewahan dan status sosial kaum aristokrat.

Salah satu tren yang paling terkenal adalah penggunaan rambut palsu atau wig besar yang diberi bedak putih. Dikutip dari sejumlah sumber sejarah mode, sifilis pada masa itu sering menyebabkan kerontokan rambut, ruam, dan luka pada kulit kepala. Untuk menutupi kebotakan akibat penyakit tersebut, para bangsawan mulai menggunakan wig.

Tren wig kemudian semakin populer setelah dipakai oleh Raja Louis XIV dari Prancis dan menjadi simbol kemewahan di berbagai istana Eropa, termasuk Inggris.

Selain wig, mode kerah tinggi berkerut atau ruff collar juga berkembang pada masa itu. Kerah besar dan kaku tersebut dipercaya digunakan untuk menyamarkan luka atau ruam di area leher akibat infeksi sifilis.

Tak hanya itu, penggunaan bedak wajah putih secara tebal juga menjadi tren di kalangan bangsawan pria maupun wanita. Selain dianggap sebagai standar kecantikan aristokrat, bedak tersebut digunakan untuk menutupi perubahan warna kulit dan lesi akibat penyakit.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kondisi kesehatan masyarakat pada masa lalu dapat memengaruhi perkembangan budaya dan gaya hidup, termasuk dunia fesyen.

Sejumlah sejarawan mode menyebut wabah sifilis menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan medis akhirnya berkembang menjadi simbol status sosial dan tren mode mewah di Eropa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....