Sejarah Baju Koko Yang Belum Banyak Diketahui

  • 23 Mar 2025 05:43 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Baju koko sering digunakan sebagai baju untuk ibadah, misalnya salat. Bahkan sebagian besar kaum pria muslim di Indonesia menggunakan baju koko saat lebaran.

Perubahan model baju koko setiap tahunnya pun bisa berubah mengikuti tren di masyarakat. Namun, tahukan Anda tentang sejarah baju koko ini?

Dikutip dari berbagai sumber, baju koko berasal dari tui-khim yang merupakan pakaian untuk laki-laki Tionghoa. Pada umumnya masyarakat Tionghoa menggunakan baju ini yang dipadukan dengan celana panjang.

Akan tetapi, pamor baju tui-khim ini dikabarkan redup sejak masyarakat Tionghoa diperbolehkan menggunakan pakaian-pakaian bergaya Belanda atau Eropa, seperti kemeja, jas terbuka, dan pakaian lainnya. Terlebih sejak adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan yang menjadi perhimpunan Tionghoa modern pertama di Hindia Belanda pada tahun 1900-an.

Selain itu, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh runtuhnya Dinasti Cheng pada 1911. Kemudian setelahnya terjadi upaya persamaan hak berpakaian orang Cina dan warga Eropa. Hal tersebut membuat semakin sedikitnya masyarakat Tionghoa pada saat itu yang menggunakan baju tui-khim ini.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia mulai menggunakan baju ini karena sering membaur dengan masyarakat Tionghoa. Selain itu, baju tui-khim digunakan masyarakat Betawi. Masyarakat setempat sering menyebut baju ini dengan nama baju tikim. Ciri-ciri baju tersebut juga hampir sama dengan baju koko yang digunakan masyarakat untuk ke masjid. Istilah ‘baju koko’ ini muncul karena panggilan pria Tionghoa adalah engko-engko. Dalam bahasa Indonesia, panggilan tersebut sering disebut koko.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....