Gunung Anak Krakatau Level III, 8 Orang di Selat Sunda Masih Dicari

  • 11 Sep 2026 15:22 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga berdasarkan hasil analisis Badan Geologi hingga Jumat, 11 September 2026.
  • Erupsi menerus yang berlangsung selama 25 jam dari Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB telah berakhir.
  • Meskipun erupsi menerus telah berhenti, aktivitas letusan masih terjadi dalam bentuk erupsi strombolian yang lebih terbatas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berada pada Level III atau Siaga berdasarkan hasil analisis Badan Geologi hingga Jumat, 11 September 2026. Meski erupsi menerus telah berakhir, aktivitas letusan masih terjadi dalam bentuk erupsi strombolian.

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, atau sekitar 25 jam.

Setelah erupsi menerus berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Hingga Jumat, 11 September 2026 pukul 06.00 WIB, tercatat 14 kali erupsi strombolian.

Badan Geologi menjelaskan, erupsi menerus merupakan aktivitas letusan yang berlangsung berkesinambungan dalam periode panjang. Sementara erupsi strombolian terjadi secara episodik dalam bentuk letusan yang terpisah.

Dengan demikian, berakhirnya erupsi menerus tidak berarti seluruh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berhenti. Dalam perkembangan terakhir, karakteristik erupsi kembali berupa letusan strombolian.

Dari sisi kegempaan, gempa vulkanik yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dangkal, yakni gempa low frequency dan hybrid atau fase banyak, masih berfluktuasi dengan kecenderungan menurun sejak berakhirnya erupsi menerus.

Nilai perataan amplitudo RSAM yang sempat meningkat pada Sabtu, 5 September 2026 juga kembali menunjukkan penurunan sejak Minggu, 6 September 2026.

Namun, gempa yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dalam cenderung meningkat. Kondisi tersebut menjadi indikasi adanya suplai magma dari kedalaman.

Badan Geologi menilai dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih terus berkembang dan perlu dipantau. Probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya juga masih dinilai tinggi.

Pada periode pengamatan Kamis, 10 September 2026 hingga Jumat, 11 September 2026, kondisi Gunung Anak Krakatau teramati dari jelas hingga tertutup kabut. Cuaca cerah hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang bertiup ke arah utara dan barat laut.

Pengamatan visual menunjukkan adanya erupsi, meski tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Pada periode tersebut tercatat satu kali gempa erupsi, 21 kali gempa low frequency, 13 kali gempa hybrid atau fase banyak, tremor menerus, 28 kali gempa vulkanik dangkal, dan 18 kali gempa vulkanik dalam.

Potensi bahaya dari aktivitas Gunung Anak Krakatau berupa lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Selain itu, aliran lava juga berpotensi terjadi apabila erupsi menerus kembali berlangsung.

Masyarakat Dilarang Beraktivitas dalam Radius Tiga Kilometer

Berdasarkan perkembangan tersebut, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.

Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk pengunjung dan wisatawan, tidak diperbolehkan memasuki maupun melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik, aktivitas di luar rumah perlu dikurangi. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diimbau menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.

Sementara itu, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diimbau tetap tenang. Masyarakat juga diminta tidak mempercayai informasi mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau yang dikaitkan dengan potensi tsunami apabila informasi tersebut tidak berasal dari kanal resmi pemerintah.

Aktivitas masyarakat dapat berlangsung seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan BPBD setempat.

Delapan Orang Masih Dalam Pencarian

Di sisi lain, operasi pencarian terhadap delapan orang yang kehilangan kontak di perairan Selat Sunda masih terus dilakukan tim SAR gabungan.

Kedelapan orang tersebut terdiri atas lima jurnalis, dua awak, dan satu pemandu. Mereka berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Tim SAR gabungan melakukan operasi pencarian delapan orang yang masih belum diketahui keberadaannya di perairan Selat Sunda, Kamis 10 September 2026. Operasi pencarian dilakukan melalui jalur laut dan udara dengan melibatkan sejumlah unsur SAR. (Foto: BPBD Kabupaten Serang)

Posisi terakhir rombongan diketahui sekitar pukul 14.42 WIB. Komunikasi dengan rombongan kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB.

Operasi pencarian dilakukan melalui jalur laut dan udara. Area pencarian di sisi selatan Gunung Anak Krakatau diperluas hingga sekitar 20 nautical mile (NM) dari pusat aktivitas gunung api.

Area pencarian kemudian diperluas ke arah utara dengan mempertimbangkan arus, pergerakan gelombang, dan arah angin, termasuk hingga perairan Lampung.

Dukungan pencarian dari udara dilakukan menggunakan helikopter. Tim juga mengerahkan drone untuk membantu pemantauan visual di sejumlah wilayah yang menjadi sasaran pencarian.

Dalam pencarian melalui udara pada Kamis, 10 September 2026, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan kedelapan orang tersebut di daratan pulau-pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.

Pemantauan visual di Pulau Sertung juga belum menunjukkan tanda keberadaan mereka. Pencarian langsung di Pulau Sertung tetap mempertimbangkan faktor keselamatan karena wilayah tersebut berada dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Tim juga menemukan sebuah benda yang diduga berupa pelampung atau jaket keselamatan. Namun, benda tersebut masih dalam proses identifikasi sehingga belum dapat dipastikan memiliki keterkaitan dengan rombongan yang dicari.

Operasi pencarian terus dioptimalkan dengan melibatkan Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, BPBD Kabupaten Serang, BPBD Provinsi Banten, TNI/TNI AL, Polri/Polairud, unsur SAR Lampung, pemerintah daerah, nelayan, masyarakat, Potensi SAR, serta unsur terkait lainnya.

Hingga Jumat, 11 September 2026, keberadaan maupun kondisi delapan orang tersebut masih belum dapat dipastikan. Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian secara intensif.

BNPB bersama instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan operasi pencarian di Selat Sunda. Informasi terbaru akan disampaikan berdasarkan hasil pemantauan dan perkembangan operasi di lapangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....