Kesadaran dan Kepercayaan Diri Perempuan Dorong Partisipasi Publik

  • 25 Agt 2026 10:22 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Ruang partisipasi perempuan melalui kebijakan pemerintah harus diikuti dengan peningkatan kesadaran diri dan kepercayaan diri agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
  • Penyuluh Agama Hindu Ni Putu Dewi Pradnyan menyampaikan pentingnya kesiapan personal perempuan dalam merespons kebijakan pengarusutamaan gender.
  • Dialog Pro 1 RRI Singaraja membahas efektivitas pengarusutamaan gender sebagai strategi untuk meningkatkan partisipasi perempuan di berbagai sektor.

RRI.CO.ID, Singaraja - Terbukanya ruang partisipasi bagi perempuan melalui berbagai kebijakan pemerintah perlu diikuti dengan peningkatan kesadaran diri dan kepercayaan diri. Tanpa kesiapan personal, ruang yang telah tersedia berpotensi belum dimanfaatkan secara optimal.

Penyuluh Agama Hindu, Ni Putu Dewi Pradnyan, S.Fil., M.Ag., menyampaikan hal tersebut dalam Dialog Pro 1 RRI Singaraja bertajuk “Efektivitas Pengarusutamaan Gender dalam Meningkatkan Partisipasi Perempuan”, di Studio Pro 1 RRI Singaraja, Senin, 24 Agustus 2026.

Dewi menjelaskan, salah satu hambatan perempuan untuk berpartisipasi di ruang publik adalah konstruksi sosial yang telah terbentuk sejak lama. Perempuan kerap dibentuk dengan anggapan bahwa dirinya harus lemah-lembut, lebih banyak menjalankan pekerjaan domestik, serta berada dalam posisi yang bergantung pada laki-laki.

“Perempuan perlu menyadari bahwa dirinya memiliki martabat, hak dan kesempatan yang sama untuk berperan sesuai kemampuan. Perempuan tidak hanya sekadar hadir, tetapi harus mampu mengambil peran dan berkontribusi di dalamnya,” ujar Dewi.

Menurutnya, anggapan bahwa perempuan harus selalu berada di ranah domestik tidak seharusnya dipandang sebagai kodrat perempuan. Kodrat berkaitan dengan kondisi biologis yang melekat pada perempuan, sedangkan pembagian peran di rumah maupun masyarakat merupakan konstruksi sosial yang dapat berkembang dan berubah.

“Yang disebut kodrat adalah sesuatu yang berkaitan dengan kondisi biologis perempuan. Sementara pembagian peran di rumah dan masyarakat merupakan konstruksi sosial, sehingga dapat berubah sesuai perkembangan zaman,” jelasnya.

Sementara itu, Mahasiswa IAHN Mpu KuturanNi Luh Putu Sri Widiari mengatakan, di kalangan generasi muda saat ini sudah mulai terlihat perempuan memimpin organisasi maupun bekerja di berbagai bidang. Namun, stereotip bahwa perempuan kurang cocok menjadi pemimpin masih dapat ditemukan.

Karena itu, ia menilai dukungan lingkungan sangat penting. Kesetaraan tidak hanya membutuhkan keberanian perempuan untuk mengambil kesempatan, tetapi juga dukungan keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat.

“Kesetaraan itu bukan tentang menentukan siapa yang harus menjadi apa, tetapi memastikan setiap orang punya kesempatan untuk memilih siapa dirinya dan jalan apa yang ingin dia tempuh,” kata Widiari.

Keduanya mendorong perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas, berani menyampaikan pendapat dan mengambil peran di ruang publik tanpa harus memandang relasi dengan laki-laki sebagai sebuah persaingan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....