Mengenal Bripda Ananda Rafi, Polisi Humanis yang Tegas tanpa Bikin Warga Takut

  • 19 Agt 2026 13:47 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Ada banyak cara seorang polisi menegakkan aturan di jalan raya. Ada yang memilih pendekatan tegas, ada pula yang mengedepankan komunikasi persuasif agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima masyarakat.

Bripda Ananda Rafi dikenal sebagai salah satu sosok polisi yang memilih pendekatan tersebut.

Anggota Bintara Administrasi Subdirektorat Tata Tertib Direktorat Penegakan Hukum Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri ini cukup dikenal di media sosial. Sikapnya yang santun, lembut, suka membantu, serta kerap menyelipkan humor ketika berinteraksi dengan masyarakat membuat sosoknya mendapat perhatian positif dari netizen.

Salah satu gambaran bagaimana Ananda Rafi menjalankan tugasnya terlihat dalam unggahan di kanal YouTube miliknya pada 25 Juli 2026.

Saat sedang berpatroli, Ananda Rafi menemukan dua siswi SMA yang mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan helm. Keduanya ternyata masih berusia 16 tahun dan belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kedua siswi tersebut bahkan tidak menyadari ada polisi di belakang mereka. Begitu Ananda Rafi menyapa, keduanya menoleh dan langsung terlihat sangat terkejut. Mereka tampak shock hingga menangis.

Situasi tersebut sebenarnya bisa saja menjadi tegang. Namun, Ananda Rafi justru berusaha menenangkan keduanya.

“Kamu mau nangis? Kenapa? Jangan nangis,” ujar Ananda Rafi.

Ia kemudian mengajak kedua siswi tersebut berbicara dengan nada santai. Salah seorang siswi tampak memilin-milin ujung rambutnya ketika berhadapan dengan polisi.

Ananda Rafi lalu menanyakan asal dan tujuan mereka.

“Dari mana?”

“Nyari jajan,” jawab siswi tersebut.

“Oh, jauh banget nyari jajan sampai kemari,” kata Ananda Rafi.

Percakapan ringan itu perlahan membuat suasana yang semula menegangkan menjadi lebih cair. Ananda Rafi kemudian menanyakan usia kedua siswi tersebut.

“Umurnya berapa?”

“16.”

“Punya SIM enggak?”

“Enggak.”

Mendapati keduanya belum memiliki SIM, Ananda Rafi kemudian mengingatkan bahwa berkendara di jalan raya bukan hanya soal bisa mengendarai sepeda motor. Ada persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk memiliki SIM sesuai ketentuan dan menggunakan perlengkapan keselamatan.

“Kalau berkendara itu harusnya apa?” tanya Ananda Rafi.

“Pakai helm,” jawab siswi tersebut.

Teguran itu disampaikan tanpa membentak ataupun mengancam. Bahkan, ketika membicarakan bentuk hukuman, Ananda Rafi kembali menunjukkan sisi humorisnya.

“Aku harus kasih hukuman apa? Kan enggak mungkin push up,” ujar Ananda Rafi.

“Enggak bisa push up,” sahut salah seorang siswi.

Di tengah percakapan tersebut, seorang warga yang berada di sekitar lokasi ikut melontarkan celetukan.

“Joget, Pak,” kata warga tersebut.

“Joget,” timpal Ananda Rafi.

Momen singkat itu membuat suasana semakin santai. Namun, di balik candaan tersebut, Ananda Rafi tetap menyampaikan pesan penting kepada kedua pelajar itu.

Ia mengingatkan mereka agar menunggu hingga cukup umur dan memenuhi persyaratan sebelum kembali mengendarai sepeda motor.

“Ke depannya harus, tapi jangan ketemu lagi. Kalau ketemu Bapak mau hukum, Bapak mau tilang. Oke? Janji?” ujar Ananda Rafi.

Ia kemudian meminta kedua siswi tersebut pulang dengan hati-hati.

“Harus pulang ya. Hati-hati,” katanya.

Cara Ananda Rafi menghadapi kedua pelajar tersebut menjadi gambaran bagaimana ia menjalankan tugas. Pelanggaran tetap ditegur, tetapi teguran disampaikan dengan pendekatan yang membuat masyarakat tidak merasa sedang dipermalukan atau diintimidasi.

Polisi yang Dekat dengan Masyarakat

Pendekatan humanis seperti itu pula yang menjadi salah satu ciri Ananda Rafi ketika berinteraksi dengan masyarakat.

Dalam menjalankan tugas, ia kerap berkeliling di jalan-jalan Jakarta menggunakan sepeda motor besar Korlantas. Dari kegiatan patroli tersebut, ia menemukan berbagai pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pengguna jalan.

Ada pengendara yang tidak mengenakan helm, melawan arah, bonceng tiga, hingga menggunakan knalpot yang tidak sesuai ketentuan.

Namun, bagi Ananda Rafi, menemukan pelanggaran bukan semata-mata soal memberikan hukuman. Momen tersebut juga menjadi kesempatan untuk memberikan edukasi agar masyarakat memahami pentingnya tertib berlalu lintas.

Cara penyampaiannya pun menjadi daya tarik tersendiri.

Ia berbicara dengan santun, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan sesekali menyelipkan candaan. Meski demikian, kewibawaan sebagai seorang anggota polisi tetap ditunjukkan.

Pendekatan inilah yang membuat sosok Ananda Rafi kemudian mendapat tempat di hati banyak netizen.

Jadi Polisi Sesuai Keinginan Masyarakat

Ananda Rafi juga aktif membagikan aktivitasnya melalui media sosial. Ia menjadikan berbagai momen ketika bertugas sebagai konten yang dapat dilihat masyarakat.

Salah satu rangkaian unggahannya bahkan menggunakan tajuk “Jadi Polisi Sesuai Keinginan Masyarakat”.

Melalui konten tersebut, masyarakat dapat melihat sisi lain seorang polisi ketika berhadapan langsung dengan warga. Bukan hanya saat melakukan penindakan, tetapi juga ketika memberikan nasihat, membantu masyarakat, atau sekadar membangun komunikasi agar suasana tidak kaku.

Kehadiran Ananda Rafi di media sosial pun cukup populer. Akun Instagram-nya diikuti sekitar 430 ribu pengguna, TikTok sekitar 380 ribu pengikut, dan Facebook sekitar 130 ribu pengikut.

Video-video yang diunggahnya juga kerap mendapat sambutan positif dan masuk dalam rekomendasi atau FYP.

Popularitas itu tidak semata-mata muncul karena profesinya sebagai polisi. Karakter yang ditampilkan dalam setiap kontennya menjadi salah satu daya tarik utama.

Santun, humoris, suka membantu, dan mampu mencairkan suasana menjadi karakter yang membuat masyarakat merasa lebih dekat dengannya.

Namun, keramahan tersebut tidak membuatnya mengesampingkan aturan.

Ketika menemukan pelanggaran, ia tetap memberikan teguran. Ketika masyarakat perlu diingatkan, pesan mengenai keselamatan dan ketertiban lalu lintas tetap disampaikan.

Dengan gaya yang santai tetapi tetap tegas, Ananda Rafi menunjukkan bahwa menjadi polisi tidak selalu harus hadir dengan wajah yang membuat masyarakat takut.

Ada kalanya aturan justru lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan bahasa yang manusiawi.

Dan mungkin, itulah sosok polisi yang ingin diperlihatkan Ananda Rafi melalui setiap unggahannya, polisi yang tetap tegas menjalankan aturan, tetapi mampu membuat masyarakat merasa dilindungi, dihargai, dan didengar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....