Keluarga dan Generasi Muda Jadi Kunci Penguatan Moderasi Beragama
- 14 Agt 2026 08:06 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Penguatan moderasi beragama harus dimulai dari lingkungan keluarga sebagai fondasi pemahaman keberagaman generasi muda.
- Pendidikan sejak dini dalam keluarga menjadi kunci untuk mencegah perbedaan agama, budaya, dan pandangan berkembang menjadi sumber konflik.
- Keluarga berperan sebagai pendidikan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak dan pemahaman nilai-nilai keagamaan.
RRI.CO.ID, Singaraja — Penguatan moderasi beragama dinilai perlu dimulai dari lingkungan keluarga, terutama dalam membangun pemahaman generasi muda terhadap keberagaman. Pendidikan sejak dini menjadi dasar agar perbedaan agama, budaya maupun pandangan tidak berkembang menjadi sumber konflik.
Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, I Kadek Parmeyas, M.Phil., mengatakan keluarga menjadi pendidikan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak, termasuk dalam memahami nilai-nilai keagamaan dan perbedaan.
“Pendidikan yang pertama dan utama itu adalah keluarga,” kata I Kadek Parmeyas dalam dialog moderasi beragama di Pro 1 RRI Singaraja.
Menurutnya, pemahaman terhadap perbedaan perlu diberikan secara bijaksana. Anak-anak harus dibimbing agar tidak memahami suatu persoalan hanya dari satu sudut pandang, terlebih di tengah derasnya informasi dari media sosial.
Ia menyoroti munculnya perdebatan di media sosial yang kerap terjadi karena setiap orang melihat persoalan dari sudut pandangnya masing-masing. Karena itu, masyarakat perlu belajar mencari titik temu dan memahami konteks sebelum memberikan penilaian.
“Dilihat di sinilah kita harus bisa mencari benang merah, mencari titik temu,” ujarnya.
Selain keluarga, pemerintah dan tokoh agama juga memiliki peran dalam membangun karakter masyarakat yang mampu menghargai perbedaan. Sikap tersebut dapat diwujudkan melalui toleransi dalam kehidupan bertetangga, menghormati kegiatan ibadah umat lain, serta membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
I Kadek Parmeyas menekankan, moderasi beragama tidak cukup hanya dipahami sebagai teori. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari melalui sikap menghargai, membantu dan menjaga hubungan harmonis dengan sesama tanpa melihat latar belakang agama maupun budaya.
Menurutnya, ketika perbedaan dapat dimaknai sebagai anugerah, nilai kemanusiaan akan semakin kuat dan toleransi dapat tumbuh secara alami di tengah masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....