Suka Duka Pemain Barongsai, dari Kejar Cuan hingga Cedera Badan
- 07 Jul 2026 11:18 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Di balik gemerincing alat musik dan decak kagum penonton, pemain barongsai memikul beban fisik dan mental yang berat. Mereka harus menanggung panas pengap di dalam kostum, menghafal koreografi yang menguras stamina, dan berjuang melawan risiko cedera demi melestarikan budaya di tengah masyarakat.
Seni tari tradisional Tiongkok yang sarat akan makna keberuntungan ini menuntut dedikasi tinggi dari para pelakunya. Namun harus disadari realitas suka dan duka yang dialami oleh para pemain barongsai.
Bagi para pemain, menampilkan Barongsai adalah hobi yang menghasilkan cuan. Itulah yang dikatakan Sandi, salah seorang pemain Barongsai.
Melihat senyum dan antusiasme penonton, terutama anak-anak, adalah kebahagiaan terbesar. Pertunjukan mereka selalu dinantikan dalam berbagai perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh.
Lebih jauh lagi, barongsai kini telah menjadi seni yang inklusif. Di berbagai daerah, pemainnya datang dari latar belakang suku dan agama yang beragam, menjadikannya simbol toleransi dan kebersamaan di lingkungan masyarakat.

Dibalik beragam suka yang dialami, beban Fisik dan Risiko Cedera juga harus dirasakan. Berada di dalam kostum bukanlah hal yang mudah.
Sandi yang merupakan anggota grup Barongsai Wong Tiang Long menyebut pemain bagian depan harus memikul beratnya kepala barongsai yang terbuat dari rotan dan bulu domba, sementara pemain belakang harus menopang rekannya dalam berbagai gerakan akrobatik. Risiko cedera seperti keseleo, kaki patah, hingga benturan akibat jatuh dari ketinggian sangat membayangi para atlet setiap kali berlatih maupun tampil.
"Lecet, baret, jatuh, patah tulang mah udah biasa kita, itu resiko," ucapnya santai saat ditemui RRI Sabtu, 4 Juli 2026 disela-sela latihan.
Untuk bisa tampil memukau selama belasan hingga puluhan menit, para pemain harus menjalani latihan yang intensif. Gerakan tari, keseimbangan saat menaiki tonggak, serta sinkronisasi dengan pemusik harus berjalan sempurna.
"Di dalam kostum panas dan pengap, tapi semua itu terbayar lunas saat kita melihat senyum penonton dan tepuk tangan meriah dari masyarakat yang memadati arena pertunjukan," ujar sang pemain dengan mata berbinar bangga.

Jasa pertunjukan barongsai biasanya sangat bergantung pada musim perayaan tertentu, sehingga penghasilan pemain sering kali tidak menentu. Selain itu, regenerasi pemain menjadi salah satu tantangan besar karena generasi muda kerap enggan menjalani latihan fisik yang keras dan disiplin tinggi.
Meskipun harus menghadapi berbagai rintangan yang menguras tenaga dan air mata, semangat para pemain barongsai tidak pernah pudar. Mereka terus melompat, menari, dan melestarikan tradisi agar seni ini terus hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....