Waisak Jadi Momentum Perkuat Kebersamaan dan Kerukunan Umat Beragama di Buleleng

  • 31 Mei 2026 17:23 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Waisak
  • Momentum Perkuat Kebersamaan
  • Kerukunan Umat Beragama
  • Buleleng

RRI.CO.ID, Singaraja - Perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai kebersamaan, toleransi, dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut disampaikan Penyelenggara Buddha Kementerian Agama Kabupaten Buleleng Nengah Budiasta Piyadasi, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Buleleng Dr. I Gde Made Metera, serta Ketua WALUBI Kabupaten Buleleng Bagus Wiharta Harijana.

Penyelenggara Buddha Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Nengah Budiasta Piyadasi, mengatakan Waisak bukan hanya perayaan keagamaan bagi umat Buddha, tetapi juga momentum untuk menyebarkan pesan kedamaian dan kerukunan kepada seluruh masyarakat.

Menurutnya, semangat Waisak mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara harmonis. Nilai cinta kasih, kepedulian terhadap sesama, dan sikap saling menghormati perlu terus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kementerian Agama hadir untuk memastikan setiap perayaan keagamaan, termasuk Waisak, dapat berlangsung dengan aman, tertib, damai, dan khidmat. Ini juga menjadi bagian dari upaya menyebarkan pesan kebersamaan dan kerukunan kepada masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Ketua FKUB Kabupaten Buleleng, Dr. I Gde Made Metera, menegaskan pentingnya membangun komunikasi dan dialog antarumat beragama. Menurutnya, FKUB secara rutin melakukan dialog pada setiap perayaan hari besar keagamaan agar masyarakat dapat saling memahami makna dan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh umat agama lain.

"Ketika masyarakat memahami makna hari raya saudara-saudaranya yang berbeda keyakinan, maka akan tumbuh rasa saling menghargai. Dari situlah tercipta situasi yang aman dan nyaman sehingga setiap umat dapat menjalankan ibadah dengan tenang," ucapnya.

Ia menambahkan, bentuk toleransi tidak selalu harus berupa keterlibatan langsung dalam kegiatan keagamaan, tetapi dapat diwujudkan melalui dukungan moral serta menjaga suasana yang kondusif selama perayaan berlangsung.

Dalam dialog tersebut juga dibahas mengenai kehidupan keluarga yang memiliki perbedaan keyakinan. Mereka sepakat bahwa kebebasan beragama merupakan hak setiap warga negara yang harus dihormati, selama tetap menjaga toleransi, keharmonisan, dan kerukunan dalam keluarga maupun lingkungan sekitar.

Nengah Budiasta menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan teladan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini. Menurutnya, keluarga yang rukun akan menjadi fondasi terciptanya kerukunan di lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Melalui peringatan Waisak tahun ini, para narasumber berharap masyarakat Buleleng terus memperkuat semangat toleransi, gotong royong, dan saling menghormati demi terwujudnya kehidupan yang damai dan harmonis di tengah keberagaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....