Edukasi dan Pengelolaan Residu Jadi Tantangan Utama Penanganan Sampah Desa
- 09 Apr 2026 23:38 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Edukasi
- Pengelolaan Residu
- Penanganan Sampah
- Penanganan Sampah Desa
RRI.CO.ID, Singaraja – Meski berbagai upaya telah dilakukan, pengelolaan sampah di tingkat desa masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal edukasi masyarakat dan penanganan sampah residu.
Hal tersebut disampaikan oleh pengelola KSM TPS 3R Baktiseraga Bersih, Kadek Dwinda Yudha Pratama. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.
“Kalau masyarakat belum paham, biasanya sampah residu menjadi paling banyak. Padahal sebenarnya jumlah residu hanya sekitar 6 sampai 10 persen jika sampah dipilah dengan benar,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebiasaan mencampur sampah, khususnya plastik dengan sisa makanan, menjadi kendala utama dalam proses pengelolaan. Sampah yang tercampur tidak hanya sulit diolah, tetapi juga menimbulkan bau dan mengurangi nilai ekonominya.
Selain edukasi, persoalan lain yang belum terpecahkan adalah pengelolaan sampah residu. Hingga saat ini, residu masih bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA), sementara kapasitas TPA semakin terbatas.
“Organik sudah banyak solusi, plastik juga ada bank sampah. Tapi residu ini yang masih menjadi pekerjaan rumah besar,” ucapnya.
Menurutnya, diperlukan kebijakan yang lebih terintegrasi dari pemerintah daerah, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah terpadu yang mampu menangani berbagai jenis sampah secara menyeluruh.
Ia juga menyoroti keterbatasan anggaran desa, khususnya di wilayah Buleleng, yang menjadi kendala dalam pengadaan teknologi pengolahan seperti insinerator. Hal ini berbeda dengan daerah lain yang memiliki kapasitas anggaran lebih besar.
Sebagai upaya mendorong perubahan perilaku, Desa Baktiseraga menerapkan sistem reward dan punishment. Warga yang disiplin memilah sampah mendapatkan insentif berupa bantuan tanaman dan pupuk, sementara yang tidak patuh mendapat teguran.
Yudha berharap ke depan ada sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, desa, dan masyarakat dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari rumah tangga,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....