Moderasi Beragama di Ruang Digital Jadi Kunci Jaga Toleransi di Era Meta
- 31 Mar 2026 21:17 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Moderasi Beragama
- Ruang Digital
- Toleransi di Era Meta
RRI.CO.ID, Singaraja – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat mendorong perubahan pola interaksi masyarakat dari dunia nyata ke ruang virtual. Kondisi ini menuntut adanya pemahaman yang kuat terkait moderasi beragama dan etika dalam bermedia sosial agar tercipta toleransi di tengah keberagaman.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Teguh Piadnyana, menyampaikan bahwa ruang digital saat ini telah menjadi representasi kehidupan sosial, bahkan memiliki intensitas interaksi yang lebih tinggi dibandingkan kehidupan nyata.
“Kadang kita melihat moderasi hanya dalam konteks umat beragama di dunia nyata. Padahal saat ini, kehidupan virtual dan media sosial hampir sama dengan kehidupan nyata, bahkan lebih dominan,” ujar Piadnyana.
Menurutnya, kurangnya pemahaman dasar terhadap penggunaan media sosial menjadi salah satu penyebab munculnya perilaku intoleran di dunia digital. Banyak pengguna yang memiliki jangkauan luas untuk berkomentar, namun tidak diimbangi dengan pemahaman yang cukup.
Moderasi beragama sendiri ditekankan bukan untuk mengurangi keyakinan seseorang, melainkan menghindari sikap ekstrem dalam beragama. Tujuannya adalah menciptakan kesadaran sebagai manusia yang mampu memanusiakan manusia lain.
Dalam konteks digital, konsep toleransi dapat diterapkan melalui pengendalian diri, memahami perbedaan budaya, serta mempertimbangkan dampak dari setiap konten yang dibagikan. Pengguna media sosial juga diingatkan untuk tidak sembarangan menggunakan foto atau identitas orang lain tanpa izin.
“Kalau kita tidak suka disakiti, jangan lakukan hal yang sama kepada orang lain. Prinsip ini penting diterapkan juga di dunia virtual,” katanya.
Selain itu, masyarakat diharapkan memahami aturan dan fitur dari setiap platform digital yang digunakan. Dengan demikian, pengguna dapat membedakan mana konten yang layak dibagikan dan mana yang berpotensi menimbulkan konflik.
Dialog ini juga menekankan pentingnya literasi digital sebagai bagian dari upaya membangun ruang virtual yang sehat, inklusif, dan penuh toleransi di tengah arus informasi yang semakin cepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....