Lebih dari Sekadar Bendungan, Ini Cerita Palasari
- 05 Feb 2026 16:42 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Jembrana - Bendungan Palasari adalah destinasi wisata yang terletak di Jembrana, Bali. Bendungan ini awalnya dibangun untuk pengaturan dan pengendalian irigasi bagi pertanian di sekitarnya, tetapi juga telah menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati pemandangan alam dan lingkungan yang tenang.
Bendungan Palasari dikelilingi oleh hutan tropis di Utara dan persawahan luas di bagian Selatan, jadi tempat ini cocok bagi anda yang menginginkan hari-hari tenang dan tenteram. Lingkungan sekitar bendungan yang indah ini juga digunakan oleh penduduk lokal dan wisatawan untuk bersepeda, trekking di hutan, memancing, berkemah, hiking dan berkano.
Berikut sejarah tentang Bendungan Palasari:
Pada tahun 1946, masyarakat yang tinggal di sekitar hilir sungai Sang Hyang Gede mengusulkan pembangunan bendungan karena lahan pertanian di sekitar hilir sungai Sang Hyang Gede selalu kekurangan air selama musim kemarau. Pada dekade 1950-an, usulan pembangunan bendungan di sekitar hilir sungai Sang Hyang Gede mulai ditindaklanjuti oleh Direktorat Jenderal Pengairan.
Pada tahun 1971, Indah Karya mulai melakukan studi kelayakan mengenai pembangunan bendungan ini. Kemudian pada tahun 1975, bersama Sir M MacDonald & Partners, Indah Karya mulai merancang bendungan ini. Pada tahun 1982, ELC Electroconsult asal Italia dan ADC asal Korea Selatan mulai menyusun rancangan rinci dari bendungan ini.
Data curah hujan, suhu udara, dan kelembapan udara yang digunakan pada tiga kegiatan tersebut didapat dari sebuah gereja yang terletak tidak jauh dari lokasi bendungan ini, karena gereja tersebut telah mencatat curah hujan, suhu udara, dan kelembapan udara di sana sejak tahun 1955.
Pada tahun 1983, pemerintah menunda pembangunan bendungan ini, karena dianggap belum layak untuk dibangun. Setelah diupayakan oleh Suyono Sosrodarsono, bendungan ini akhirnya dapat mulai dibangun pada tahun 1987 oleh Brantas Abipraya dan mulai dioperasikan pada tanggal 14 Februari 1989.
Saat tinggi air yang terbendung mencapai 73 meter, sempat terjadi kebocoran di sisi kanan dan kiri bendungan dengan total debit mencapai 19,6 meter kubik per detik, sehingga kemudian dilakukan penutupan kebocoran dan pemasangan filter untuk mencegah erosi buluh. Bendungan ini lalu diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 31 Juli 1989. Air yang terbendung oleh bendungan ini kemudian mulai dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian pada tanggal 1 September 1989.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....