Sejarah Pura Tirta Sudamala Bangli, Bali

  • 30 Jan 2026 20:36 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Bangli - Pura Tirta Sudamala bukan hanya sebuah tempat peribadatan, melainkan juga simbol kekuatan spiritual dan warisan budaya yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat Bangli. Sebagai salah satu tempat melukat paling suci di Bali, sejarah tempat ini tidak bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan Pura Kehen, salah satu pura terbesar dan tertua di Kabupaten Bangli.

Keterkaitan sejarah antara kedua tempat suci ini tercatat dalam peninggalan Prasasti Pura Kehen, yang menjadi sumber informasi penting mengenai asal-usul dan fungsi spiritual Pura Tirta Sudamala sejak zaman kerajaan. Pada masa kejayaan Kerajaan Bangli, diceritakan bahwa para leluhur, khususnya para pemuka agama, memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya air suci atau tirta sebagai unsur utama dalam berbagai upacara keagamaan, terutama dalam prosesi pemelastian atau penyucian simbol-simbol sakral. Dalam konteks ini, Raja Bangli kala itu mengutus seorang brahmana suci bernama Ida Brahmana Hender untuk mencari tiga mata air suci yang kelak akan digunakan sebagai tempat penyucian pretima (arca suci) Ida Betara di Pura Kehen.

Dengan penuh ketekunan dan spiritualitas tinggi, Ida Brahmana Hender melakukan perjalanan panjang dan tapa yoga (semedi) di berbagai tempat di wilayah Bali Tengah hingga akhirnya menemukan tiga mata air suci yang dipercaya memiliki kekuatan luar biasa. Ketiga sumber tirta tersebut adalah:

1. Pura Tirta Sudamala yang terletak di Banjar Sedit, Kelurahan Bebalang

2. Pura Taman Sari di Banjar Sidembunut, Kelurahan Cempaga

3. Segara Watu Klotok di pesisir Kabupaten Klungkung.

Ketiga tempat ini sejak saat itu menjadi titik-titik penting dalam pelaksanaan upacara besar di Kehen. Khususnya saat Karya Agung atau upacara besar yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali, para pemangku dan masyarakat pengempon Pura Kehen akan melakukan prosesi pemelastian ke ketiga lokasi suci tersebut untuk menyucikan pretima Ida Betara. Tradisi ini tetap lestari hingga saat ini, menjadi warisan spiritual yang terus dijaga oleh masyarakat Bangli.

Selain makna sejarah dan spiritualnya, daya tarik Pura Tirta Sudamala juga hadir dari segi keindahan alamnya. Terletak di lembah yang tenang dan hijau, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan aliran sungai yang jernih.

Di lokasi melukat, terdapat sembilan pancoran utama yang menjulang tinggi, dikenal sebagai Pancoran Dewata Nawa Sanga, melambangkan sembilan penjuru mata angin dalam kepercayaan Hindu Bali. Selain itu, terdapat pula beberapa pancoran yang lebih rendah, salah satunya digunakan khusus untuk keperluan upacara Pitra Yadnya atau penyucian roh leluhur.

Seiring perkembangan zaman, Pura Tirta Sudamala mengalami proses penataan yang semakin mendukung fungsinya sebagai tempat suci sekaligus destinasi spiritual. Pada tahun 2012, berkat kerja sama antara para pengempon, pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Pariwisata, serta dukungan masyarakat luas.

Dilakukan renovasi besar-besaran terhadap area pura dan tempat melukat. Hasil dari upaya kolektif ini membuahkan hasil nyata, dan pada tahun 2014, Pura Tirta Sudamala secara resmi ditetapkan sebagai Daya Tarik Wisata (DTW) Spiritual oleh Pemerintah Kabupaten Bangli.

Kini, Pura Tirta Sudamala tak hanya menjadi tujuan utama bagi umat Hindu yang ingin melakukan melukat, tetapi juga menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik mengikuti wisata rohani di Bali. Dengan perpaduan antara nilai sejarah, keagungan spiritual, dan pesona alam. Tirta Sudamala terus memancarkan daya tarik yang tak lekang oleh waktu, sebagai tempat di mana tubuh dan jiwa disucikan, dan warisan leluhur dijaga dengan penuh hormat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....