Pura Tanah Lot: Sejarah dan Asal-usul

  • 02 Jan 2026 11:48 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Pura Tanah Lot adalah salah satu ikon pariwisata Bali yang paling terkenal. Pura ini erletak di atas bongkahan batu karang besar di lepas pantai Desa Beraban, Kabupaten Tabanan.

Dikutip dari kemdikbud.go.id, sejarah Pura Tanah Lot berawal dari perjalanan Dang Hyang Nirartha, seorang pendeta Hindu dari Jawa yang datang ke Bali pada abad ke-16 untuk menyebarkan ajaran Hindu. Pada masa itu, Pulau Bali diperintah oleh Raja Dalem Waturenggong, yang mendukung penyebaran agama Hindu di seluruh pelosok pulau.

Saat melakukan perjalanan spiritualnya, Dang Hyang Nirartha melihat sinar suci dari arah laut selatan. Penasaran, beliau mengikuti cahaya tersebut hingga tiba di Desa Beraban, Tabanan, dan menemukan sebuah batu karang berbentuk burung beo di tepi laut.

Merasa tempat ini memiliki energi spiritual yang kuat, beliau pun bersemedi di atas batu tersebut. Pada masa itu, pemimpin Desa Beraban bernama Bendesa Beraban Sakti, yang menolak ajaran Hindu yang dibawa oleh Dang Hyang Nirartha.

Bendesa Beraban Sakti merasa tidak senang, karena banyak warga desa yang mulai tertarik dengan ajaran baru Dang Hyang Nirartha. Kemudian, Bendesa Beraban dengan sisa pengikutnya berusaha mengusir sang pendeta saat bersemedi di atas batu karang.

Namun, peristiwa luar biasa yang terjadi kemudian mengubah segalanya. Menurut legenda, saat Bendesa Beraban dan pengikutnya mencoba mengusir Dang Hyang Nirartha yang sedang bermeditasi, beliau melambaikan selendangnya.

Seketika, muncullah ular poleng (ular dengan pola hitam-putih) yang menyerang mereka. Peristiwa ini membuat Bendesa Beraban terkejut dan mulai menyadari kesaktian sang pendeta.

Sejak saat itu, masyarakat Bali percaya bahwa ular suci ini adalah penjaga spiritual Pura Tanah Lot, melambangkan perlindungan dan keseimbangan energi di sekitar pura. Hingga kini, ular tersebut masih dapat pengunjung temukan di area pura, sering kali bersembunyi di celah batu karang.

Spesies ular ini dalam bahasa latin bernama Bungarus candidus atau ular weling, yang memiliki pola hitam-putih khas. Meskipun dihormati sebagai penjaga pura, ular ini berbisa, sehingga pengunjung disarankan untuk tidak mengganggunya.

Tidak hanya menciptakan ular suci, menurut legenda, Dang Hyang Nirartha juga menunjukkan kesaktiannya dengan memindahkan batu karang tempatnya bermeditasi ke tengah laut. Hal ini terjadi setelah ia merasa terusik oleh upaya pengusiran dari Bendesa Beraban.

Dengan kekuatan spiritualnya, batu karang tersebut bergeser ke tengah laut, menciptakan sebuah tempat suci yang kemudian terkenal sebagai Tanah Lot. Dalam bahasa Indonesia, Tanah Lot berarti tanah di tengah laut, sesuai dengan lokasi batu karang yang terpisah dari daratan.

Keajaiban ini semakin mengguncang keyakinan Bendesa Beraban dan pengikutnya. Menyaksikan peristiwa luar biasa ini, mereka akhirnya menerima ajaran Hindu dan mengikuti tuntunan Dang Hyang Nirartha.

Sejak saat itu, Pura Tanah Lot berdiri di atas batu karang tersebut berfungsi sebagai tempat pemujaan bagi Dewa Baruna, dewa laut dalam kepercayaan Hindu Bali. Seiring waktu, Pura Tanah Lot tidak hanya menjadi tempat suci bagi umat Hindu.

Namun juga masyarakat lokal percaya tempat suci berfungsi sebagai benteng perlindungan spiritual yang menjaga Bali dari energi negatif. Keindahan dan aura sakralnya menjadikannya salah satu destinasi wisata budaya paling terkenal di Bali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....