Mindset Bersyukur, Kunci Hidup Tenang Anak Muda
- 14 Des 2025 16:50 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Bersyukur kerap dianggap sebagai hal sederhana, namun sejatinya menjadi konsep dasar yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Di tengah tekanan hidup, standar sosial di media, dan tuntutan pencapaian, rasa syukur justru sering terabaikan, terutama oleh generasi muda. Padahal, kesadaran paling dasar seperti masih bisa bernapas setiap pagi sudah merupakan bentuk syukur yang nyata.
Hal tersebut disampaikan oleh Putu Sariada, S.Sos., Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, dalam obrolan spada yang membahas pentingnya membangun mindset bersyukur dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, bersyukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara pandang terhadap hidup itu sendiri.
“Bernapas saja sebenarnya sudah patut disyukuri, artinya kita masih diberi kesempatan untuk hidup, memperbaiki diri, dan menjalani karma kita,” ujar Putu Sariada.
Ia menjelaskan bahwa rasa syukur sangat erat kaitannya dengan pola pikir atau mindset seseorang. Dalam psikologi maupun kehidupan spiritual, mindset terbagi menjadi dua, yakni fixed mindset dan growth mindset.
Fixed mindset cenderung membuat seseorang takut menghadapi masalah dan enggan berkembang, sedangkan growth mindset mendorong individu untuk belajar dari setiap peristiwa, baik suka maupun duka. Dalam konteks ajaran Hindu, mindset yang sehat adalah pola pikir yang berlandaskan Dharma.
Manusia tidak pernah lepas dari masalah, namun cara memaknai masalah itulah yang menentukan tingkat rasa syukur. Ketika seseorang mampu melihat tantangan sebagai proses pembelajaran, maka rasa syukur akan tumbuh secara alami.
Putu Sariada menyoroti fenomena anak muda saat ini yang kerap terjebak dalam perbandingan sosial akibat media digital. Standarisasi kebahagiaan, kesuksesan, hingga kepemilikan materi sering membuat seseorang merasa kurang, meskipun kebutuhan dasarnya telah terpenuhi. Kondisi inilah yang perlahan mengikis rasa syukur.
“Masalahnya sekarang, banyak anak muda mengukur hidupnya dari standar media, melihat orang lain lebih sukses, lebih bahagia, lalu merasa dirinya kurang, padahal kebutuhannya sebenarnya sudah tercukupi,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa dalam Hindu, rasa syukur tidak bisa diseragamkan karena setiap orang memiliki kebutuhan, tujuan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Oleh karena itu, rasa cukup seharusnya menjadi pijakan utama sebelum mengejar hal-hal yang lebih besar.
Kebutuhan boleh diusahakan, namun tidak boleh dipaksakan, karena pemaksaan justru melahirkan tekanan batin.Kitab suci Hindu juga banyak mengajarkan tentang pola pikir ini.
Dalam Bhagavad Gita Bab II Sloka 47, misalnya, manusia diajarkan untuk bekerja sesuai kewajibannya tanpa terikat pada hasil. Ajaran ini menjadi kunci penting dalam membangun rasa syukur, yakni fokus pada proses dan tanggung jawab, bukan semata-mata hasil.
Selain itu, membaca dan merenungkan kitab-kitab suci seperti Weda, Bhagavad Gita, Sarasamuscaya, Itihasa, dan lontar-lontar Hindu di Bali diyakini mampu membentuk pola pikir yang lebih bijaksana. Dengan pemahaman tersebut, manusia diajak untuk tidak mudah menghakimi, tidak terjebak perbandingan, dan lebih mampu melihat hidup secara utuh.
Menutup pemaparannya, Putu Sariada mengajak anak muda untuk memulai syukur dari hal paling sederhana: bangun pagi, bernapas, memiliki kesempatan belajar, bekerja, dan bertumbuh. Sebab, dari rasa syukur itulah ketenangan batin, semangat hidup, dan keseimbangan spiritual akan tumbuh secara perlahan namun pasti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....