Menjaga Suara Luhur Dharma Gita di Era Digital

  • 25 Nov 2025 10:17 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Dharma Gita sebagai salah satu warisan spiritual Hindu di Bali memegang peran penting dalam setiap pelaksanaan upacara yadnya. Tradisi nyanyian suci ini bukan hanya sekadar lantunan merdu, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai-nilai kebenaran dan kebajikan.

Dalam obrolan SPADA bersama penyuluh agama Hindu Kabupaten Buleleng Luh Reni Adnyani, terungkap bahwa Dharma Gita adalah bagian dari Panca Suara atau Panca Gita yang terdiri dari suara gamelan, genta, mantra, kulkul, dan kidung atau Dharma Gita. Kelima unsur suara sakral ini menjadi pelengkap kekhidmatan setiap upacara keagamaan Hindu.

Namun, di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus modernisasi, kesadaran anak muda untuk mempelajarinya masih dianggap kurang. Banyak yang lebih mudah menghafal soundtrack drama Korea daripada pupuh suci, sehingga pelestarian Dharma Gita menjadi tantangan tersendiri di era sekarang.

Reni menjelaskan bahwa mempelajari Dharma Gita bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan instan. Diperlukan ketekunan, kemauan serta proses yang panjang untuk memahami nada, cecok, dan filosofi maknanya.

“Tidak bisa belajar hanya satu jam langsung hafal, untuk memahami Dharma Gita diperlukan proses bertahun-tahun,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa umat Hindu sebenarnya memiliki kewajiban moral untuk memahami dan melestarikan Dharma Gita, setidaknya pada bagian dasar yang digunakan saat sembahyang, seperti Kidung Wargasari. Pembelajaran pun kini sangat terbantu dengan kemajuan teknologi digital.

Media sosial menyediakan banyak referensi untuk belajar secara otodidak, tanpa harus mengikuti pelatihan formal. Menurut Reni, belajar dimulai dari pupuh yang disukai sehingga mudah diserap dan menumbuhkan minat yang lebih besar.

Meski tantangannya besar, Reni bersyukur bahwa masih banyak anak muda yang peduli. Hal ini terlihat dari pelaksanaan lomba Dharma Gita tingkat SMP dan SMA yang digelar Pokjaluh Kabupaten Buleleng pada bulan Oktober lalu.

Antusias peserta sangat tinggi hingga panitia harus membatasi pendaftaran karena kuota sudah penuh sebelum waktu penutupan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap Dharma Gita sesungguhnya masih sangat kuat.

Lomba dan festival semacam ini menjadi strategi penting untuk merangsang perhatian anak muda agar semakin mencintai tradisi leluhur mereka sendiri. Melalui berbagai upaya pembinaan, lomba, dan pemanfaatan sosial media, pelestarian Dharma Gita diharapkan semakin berkembang di tengah generasi digital.

Reni mengajak anak-anak muda untuk mulai mencoba, meski kemampuan menyanyi belum sempurna. “Ayo belajar. Mulai dari yang paling sederhana. Suara boleh biasa saja, tapi niat melestarikan budaya leluhur itu luar biasa,” katanya.

Kehadiran generasi muda menjadi harapan besar bagi keberlanjutan Dharma Gita, agar bukan hanya menjadi simbol budaya, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari spiritualitas masyarakat Hindu Bali. Dengan semangat pelestarian yang semakin tumbuh, Dharma Gita diyakini akan terus bergema sebagai suara suci yang menjaga kesucian dan keharmonisan kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....