Lindungi saluran pernapasan di tengah sebaran asab karhutla
- 17 Sep 2026 12:39 WIB
- Serui
RRI.CO.ID, Serui – Danpak Fenomena EL NINO tidak hanya menyebapkan menurunnya debit air karena berkurangnya curah hujan tetapi akibat kekeringan sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kebakaran lahan dan hutan, asab karhutla tidak hanya mengepung wilayah asal tetapi dengan cepat asab tersebut menyebar dan mengepung wilayah tetangga, beberapa faktor yang mendukung masuknya asab ke wilayah lain yaitu, adanya pola arah angin (pergerakan monosun) dimana asab bergerak mengikuti arah mata angin yang dominan, selain itu ketinggian kecepatan angin, asab dari kebakaran lahan gambut yang luas bisa naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi dan terbawa oleh angin kencang hingga ratusan kilometer bahkan melewati batas wilayah dan masuk ke negara tetangga, adanya efeck kuali (Trapping Effect )
Pada malam-pagi hari, suhu udara cenderung sangat dingin dibandingkan udara diatasnya ( inversi suhu ) inilah kenapa asab kiriman tereprangkap di dekat permukaan dan tidak bisa naik sehingga pada pagi hari kabut asab terasa sangat pekat dan menyebapkan mata menjadi perih.
Tauhkan Anda bahwa sebaran asab yang terlihat mengepung saat ini merupakan campuran kompleks dari gas beracun ,uap dan aprtikel padat maupun cair hasil pembakaran yang tidak sempurna, terbagi menjadi 2 kategori yaitu partikulat ( debu halus ) dan gas beracun.
partikulat terbagi menjadi:
PM 2.5 (Partikel Sangat Halus): Partikel yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini tidak dapat disaring oleh bulu hidung sehingga bisa masuk jauh ke dalam kantung paru-paru (alveolus) bahkan menembus aliran darah.
PM 10 (Partikel Kasar): Partikel berukuran hingga 10 mikrometer yang biasanya tertahan di saluran pernapasan atas, memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan.
Jelaga dan Logam Berat: Mengandung karbon murni serta pecahan logam berat karsinogenik seperti nikel, krom, dan kadmium (terutama pada asap kebakaran hutan dan limbah industri).
Gas-Gas Beracun yaitu:
Karbon Monoksida (CO): Gas yang tidak berbau dan tidak berwarna. Gas ini sangat berbahaya karena mengikat hemoglobin darah jauh lebih kuat daripada oksigen, sehingga tubuh kekurangan pasokan oksigen.
Sulfur Dioksida (SO2) & Nitrogen Dioksida (NO2): Gas asam yang bersifat sangat korosif. Gas ini langsung merusak lapisan lendir dan memicu penyempitan saluran napas (mengi/asma).
Ozon Permukaan (O3): Terbentuk akibat reaksi gas kimia asap dengan sinar matahari. Ozon di permukaan bumi bersifat racun kuat bagi jaringan paru-paru.
Senyawa Organik Volatil (VOC): Zat kimia aromatik seperti benzena dan formaldehida yang mudah menguap dan memicu kanker dalam jangka panjang.
Lakukan langkah perlindungan mandiri
Pantau ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara): Selalu cek kualitas udara melalui aplikasi resmi BMKG atau KLHK.
Gunakan Masker yang Tepat: Masker kain biasa kurang efektif menyaring PM 2.5 dari asap kiriman. Gunakan masker respirator seperti N95/KN95, atau minimal masker medis yang dilapisi jika terpaksa beraktivitas di luar rumah.
Isolasi Rumah: Tutup rapat pintu dan jendela agar partikel asap kiriman tidak masuk dan mengendap di dalam ruangan.
Minum air putih: Perbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kelembapan tenggorokan dan membantu mengeluarkan racun
Pantau kelompok rentan: Jaga anak-anak, lansia, dan ibu hamil agar tetap di dalam ruangan karena lebih mudah terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Periksa ke dokter: Segera datangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami batuk, sesak napas, atau nyeri dada
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....