Sekolah Penyetaraan di Yapen Gelar Ujian, Jangkau Siswa Terpencil

  • 07 Apr 2026 14:39 WIB
  •  Serui

Sekolah Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) di Kabupaten Kepulauan Yapen terus berupaya menjangkau masyarakat yang belum tersentuh pendidikan formal. Upaya ini menjadi bagian dari visi dan misi sekolah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut.

Pada Selasa, 7 April 2026, SPNF juga tengah melaksanakan ujian bagi peserta didik program paket. Pelaksanaan ujian ini menjadi salah satu tahapan penting bagi warga belajar untuk memperoleh ijazah kesetaraan.

Baca Juga: https://berita.rri.co.id/serui/regional/2314717/dprk-waropen-gelar-kunjungan-kasih-paskah

Kepala Sekolah SPNF, Daud D. Noor, S.Th., menyampaikan bahwa jumlah anak tidak sekolah dan anak putus sekolah di Yapen masih cukup tinggi. Berdasarkan data statistik, terdapat sekitar 6.000 anak tidak sekolah serta jumlah anak putus sekolah yang hampir mendekati angka tersebut.

Menurutnya, kondisi ini disebabkan oleh minimnya akses pendidikan berkelanjutan di kalangan masyarakat. “Kami berusaha semampu kami bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat untuk sedikitnya bisa memberantas kelompok masyarakat yang tidak memiliki pendidikan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan sekolah paket menjadi solusi alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan ijazah untuk membuka peluang kerja. Banyak pekerjaan, termasuk sebagai aparat kampung, mensyaratkan kepemilikan ijazah sebagai dasar administrasi.

Baca Juga: https://berita.rri.co.id/serui/regional/2308840/jalan-salib-hidup-paroki-bunda-maria-serui-berlangsung-khidmat

Saat ini, jumlah peserta didik yang terdata dalam sistem dapodik mencapai 294 orang. Sementara itu, sebanyak 58 peserta didik mengikuti ujian dengan data yang telah dinyatakan valid, terdiri dari 28 peserta Paket B dan 30 peserta Paket C.

Peserta didik tersebut tidak hanya berasal dari Kota Serui, tetapi juga dari distrik-distrik yang cukup jauh. Di antaranya wilayah Ambaidiru, Poom, Dawai, dan Randawaya yang menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran.

Daud menjelaskan bahwa tantangan utama dalam pendidikan nonformal adalah proses menjangkau peserta didik. “Kami tidak seperti sekolah formal, siswa datang mendaftar, tetapi kami harus menjemput mereka ke kampung-kampung dengan pendekatan budaya dan kekeluargaan,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....