Nelayan di Yapen Resah Harga BBM Tidak Stabil

  • 12 Jan 2026 14:06 WIB
  •  Serui

RRI.CO.ID, Serui - Kepulauan Yapen, mengeluhkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tidak stabil. Para nelayan mengaku harus membeli BBM dengan harga pengencer mencapai Rp13.000 per liter, sehingga sangat memberatkan aktivitas melaut mereka.

Para nelayan berharap agar harga BBM dapat diturunkan menjadi Rp10.000 hingga Rp11.000 per liter, agar lebih terjangkau dengan penghasilan mereka sebagai nelayan tradisional. Tingginya harga BBM dinilai menjadi kendala utama dalam mencari ikan di laut.

Akibat mahalnya BBM, harga ikan di pasar pun ikut berfluktuasi. Ikan batu dan ikan cakalang, misalnya, dijual dengan harga mulai dari Rp50.000, bahkan bisa melonjak hingga Rp100.000, Rp150.000, sampai Rp200.000, tergantung hasil tangkapan dan biaya operasional. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh distribusi BBM di sejumlah SPBU mini, salah satunya yang berada di kawasan Pasar Ikan, tepat di dekat Jembatan Tiga Ribu, lokasi tempat pembuangan sampah.

Salah satu perwakilan nelayan dari Kampung Bawai, Yohanis Ayorbaba mewakili nelayan dari lima kampung, menyampaikan keresahan tersebut.

“Kami nelayan sangat terbebani dengan harga BBM yang mahal. Saat ini kami beli dengan harga Rp13.000 per liter. Kalau bisa diturunkan ke Rp10.000 atau Rp11.000, itu sangat membantu kami untuk tetap bisa melaut,” ujar Yohanis.

Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak langsung pada harga jual ikan di masyarakat.

“Seperti di Kampung Ansus, ikan dijual per satu tali bisa sampai Rp100.000. Ini bukan karena nelayan mau mahal, tapi karena biaya melaut yang tinggi,” jelasnya.

Yohanis berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Yapen, khususnya Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) melalui Komisi yang membidangi Ekonomi, dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini dengan menghimbau SPBU-SPBU mini yang ada di wilayah tersebut.

Sebagai nelayan tuna atau ikan cakalang, lanjutnya, jarak tempuh melaut juga cukup jauh.

“Untuk mencari ikan tuna atau cakalang, kami harus menempuh jarak sekitar 10 mil laut, dari Kampung Bawai ke arah Pulau Kurun. Itu membutuhkan BBM yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Oleh karena itu, para nelayan tuna dan cakalang berharap agar dinas terkait dapat lebih jeli dan tegas dalam mengawasi harga BBM, khususnya di SPBU-SPBU yang melayani kebutuhan nelayan, sehingga aktivitas melaut dan kestabilan harga ikan di pasar dapat terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....