Kasus HIV/AIDS di Kepulauan Yapen Tembus 3.211, Dinkes Masyarakat Wajib Periksa
- 16 Sep 2026 14:04 WIB
- Serui
RRI.CO.ID, Serui - Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kepulauan Yapen terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen mencatat sebanyak 3.211 kasus HIV/AIDS, dengan rincian 491 orang telah meninggal dunia dan 2.720 orang masih hidup.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen, Karolis Tanawani, SKM., MPH., mengatakan, pihaknya terus memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui pemeriksaan kesehatan serta penelusuran kasus di berbagai wilayah.
Menurut Karolis, peningkatan jumlah kasus membuat Dinas Kesehatan harus lebih aktif melakukan pemeriksaan, khususnya di wilayah yang berpotensi menjadi tempat penyebaran infeksi menular seksual yang dapat berujung pada HIV/AIDS.
“Dinas Kesehatan terus melakukan pengecekan di 17 distrik dan 160 kampung, baik di Kota Serui maupun kampung-kampung lainnya. Dari pemeriksaan tersebut, kami mendapatkan data sebanyak 3.211 kasus,” ujar Karolis.
Karolis menjelaskan, Kabupaten Kepulauan Yapen merupakan wilayah yang terbuka dan banyak didatangi masyarakat dari berbagai daerah. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat diminta untuk mengetahui status kesehatannya sejak dini.
Dari total 3.211 kasus yang tercatat, sebanyak 2.720 orang masih hidup. Kasus tersebut ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai dari anak di bawah satu tahun, usia 1–14 tahun, 15–19 tahun, 20–24 tahun, 25–49 tahun, hingga kelompok usia 50 tahun ke atas.
Kelompok usia 25–49 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sebanyak 1.772 orang.
Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen, kasus HIV/AIDS juga tercatat pada masyarakat Papua maupun non-Papua. Dari keseluruhan kasus, 3.052 merupakan orang asli Papua dan 159 orang non-Papua.
Sementara berdasarkan faktor risiko, penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual, dari ibu kepada anak, maupun melalui transfusi darah. Karolis menyebut penularan melalui hubungan seksual menjadi salah satu faktor risiko yang ditemukan paling tinggi.
Dari sisi jenis kelamin, jumlah kasus pada perempuan tercatat sebanyak 2.135 orang. Tingginya angka pada perempuan, menurut Karolis, salah satunya berkaitan dengan pemeriksaan HIV yang dilakukan dalam pelayanan kehamilan.
“Setiap ibu hamil yang memeriksakan kehamilan wajib mendapatkan pemeriksaan HIV. Dengan pemeriksaan sejak awal, kondisi kesehatan ibu dapat diketahui sehingga apabila ditemukan HIV bisa segera mendapatkan penanganan,” jelasnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan praktik pertolongan persalinan maupun pengobatan tradisional yang berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV.
Karolis meminta para dukun beranak untuk tidak menangani persalinan dan menyerahkan proses tersebut kepada tenaga kesehatan, terutama bidan yang memiliki kompetensi dalam menangani kehamilan dan persalinan.
“Dukun beranak kami minta tidak lagi menolong persalinan. Serahkan kepada bidan atau tenaga kesehatan karena kondisi kesehatan ibu harus diperiksa terlebih dahulu, termasuk status HIV,” tegas Karolis.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap praktik pengobatan tradisional seperti pemijatan dengan cara yang dapat menyebabkan luka atau penggunaan alat maupun bahan yang bersentuhan dengan darah.
Menurutnya, praktik yang melibatkan darah tanpa memperhatikan kebersihan dan keamanan dapat meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit, sehingga masyarakat perlu mendapatkan pengobatan melalui fasilitas kesehatan.
Untuk penanganan pasien HIV, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen telah menyediakan obat Antiretroviral (ARV). Karolis menjelaskan, ARV bukan obat yang membunuh virus HIV, tetapi berfungsi menekan jumlah virus di dalam darah sehingga dapat membantu menjaga kondisi kesehatan pasien.
“Obat ARV sangat membantu. ARV tidak membunuh virus HIV, tetapi menekan jumlah virus dalam darah serendah mungkin,” kata Karolis.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen kembali mengimbau masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan secara dini dinilai penting agar status kesehatan dapat diketahui dan penanganan dapat segera diberikan apabila ditemukan HIV.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....