Kalazion: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya
- 24 Okt 2024 19:01 WIB
- Serui
KBRN, Serui: Kalazion adalah kondisi yang sering disalahartikan sebagai bintitan (hordeolum), namun keduanya memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda. Kalazion terjadi ketika kelenjar meibomian di kelopak mata tersumbat, yang mengakibatkan pembengkakan atau benjolan yang keras.
Malansir laman detikhealth, berikut cici-ciri, penyebab dan penanganan Kalazion :
Ciri-Ciri Kalazion
1. Benjolan Keras: Berbeda dengan bintitan yang umumnya lunak dan nyeri, kalazion biasanya terasa lebih keras dan tidak selalu disertai rasa nyeri.
2. Pertumbuhan Perlahan: Kalazion cenderung tumbuh perlahan-lahan dan bisa bertahan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan bintitan.
3. Tidak Merah atau Membengkak: Meski bisa menyebabkan sedikit kemerahan, kalazion jarang menyebabkan bengkak menyeluruh pada kelopak mata.
Penyebab Kalazion
Penyebab utama kalazion adalah penyumbatan pada kelenjar meibomian, yang memproduksi minyak untuk menjaga kelembaban mata. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kalazion antara lain:
- Kebersihan kelopak mata yang buruk.
- Kondisi kulit tertentu seperti dermatitis seboroik atau rosacea.
- Paparan kontaminan atau iritasi.
Penanganan Kalazion
Meskipun kalazion seringkali dapat sembuh dengan sendirinya, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mempercepat proses penyembuhan:
1. Kompres Hangat: Mengompres daerah yang terkena dengan kain bersih yang dicelupkan dalam air hangat dapat membantu membuka sumbatan.
2. Pembersihan Rutin: Menjaga kebersihan kelopak mata dengan membersihkannya secara lembut dapat mencegah penumpukan minyak dan kotoran.
3. Konsultasi Dokter: Jika benjolan tidak kunjung membaik atau semakin membesar, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter mata untuk evaluasi lebih lanjut.
Kesimpulan
Kalazion adalah kondisi umum yang dapat memengaruhi kenyamanan mata, tetapi dengan perawatan yang tepat, gejalanya dapat dikelola dengan baik. Meski mirip dengan bintitan, penting untuk mengenali perbedaan antara keduanya agar dapat melakukan penanganan yang sesuai. Jika mengalami gejala yang mencurigakan, jangan ragu untuk mencari bantuan medis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....