Apa itu Ekuinoks dan Mengapa Peristiwa 23 September 2026 Penting Diketahui?

  • 20 Sep 2026 19:12 WIB
  •  Serui

RRI.CO.ID, Serui - Ekuinoks merupakan Fenomena Astronomi ketika posisi semu Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa Bumi. Fenomena ekuinoks muncul dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret dan September, Ekuinoks September (Autumnal Equinox) Terjadi antara tanggal 21 hingga 24 September setiap tahunnya, tahun Ini (2026): Akan segera berlangsung pada tanggal 23 September 2026 pukul 00:05 UT / 07:05 WIB (08:05 WITA / 09:05 WIT). peristiwa ekuinoks 23 september 2026 penting untuk di ketahui hal ini di karenakan sebagai Penanda Pergantian Musim: Menandai awal musim gugur di Belahan Bumi Utara dan musim semi di Belahan Bumi Selatan, Posisi Matahari: Matahari terbit hampir tepat di timur dan terbenam tepat di barat, Dampak di Indonesia: Karena Indonesia dilintasi garis khatulistiwa, sinar matahari terasa lebih optimal dan terik pada siang hari. Namun, BMKG memastikan fenomena ini alamiah dan tidak menyebabkan kenaikan suhu ekstrem yang berbahaya.

Berikut adalah dampak dan kondisi cuaca di Indonesia di sekitar periode ekuinoks 23 September 2026 yang penting untuk diketahui.
1. Suhu Udara Tetap dalam Batas Normal
  • Bukan Gelombang Panas (Heatwave): BMKG berulang kali meluruskan isu keliru bahwa ekuinoks menyebabkan suhu melonjak hingga 40°C. Ekuinoks berbeda dari gelombang panas

  • Kisaran Suhu Maksimum: Suhu maksimum harian di Indonesia umumnya tetap bertahan normal di kisaran 32°C hingga 36°C. Peningkatan suhu yang terasa sedikit lebih terik hanya terjadi karena pancaran sinar matahari jatuh secara tegak lurus di wilayah ekuator

2. Dominasi Musim Kemarau dan Pengaruh El Niño
  • Kemarau Lebih Panjang: Saat ekuinoks September ini berlangsung, hampir setengah daratan Indonesia (48,77%) masih berada dalam periode musim kemarau. Berdasarkan data terkini BMKG, puncak musim kemarau diproyeksikan masih akan bertahan hingga akhir Oktober 2026 akibat pengaruh fenomena El Niño kategori sangat kuat.

  • Potensi Kekeringan & Karhutla: Minimnya tutupan awan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di area sensitif seperti lahan gambut dan semak belukar.

3. Waspada Hujan Lokal dan Angin Kencang
  • Pengaruh Atmosfer Lokal: Walaupun iklim cenderung kering, curah hujan dengan kategori rendah hingga menengah masih terjadi secara tidak merata akibat gangguan atmosfer lokal (seperti gelombang Rossby dan sirkulasi siklonik).

  • Wilayah Siaga Hujan Lebat: Selama periode ekuinoks berlangsung (21–24 September 2026), masyarakat di wilayah Papua Tengah diimbau berada dalam status Siaga terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang juga berpeluang membasahi sebagian wilayah Sumatra, Jawa Barat, Kalimantan, dan Sulawesi.

  • Potensi Angin Kencang: Perlu diwaspadai adanya potensi angin kencang di beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.

Masyarakat disarankan untuk tetap tenang menghadapi ekuinoks, menghemat penggunaan air bersih menyusul kemarau yang masih berlanjut, serta menghindari aktivitas membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan. Informasi cuaca dan peringatan dini terbaru dapat terus dipantau secara mandiri melalui aplikasi InfoBMKG

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....