Sebaiknya Anda Tahu? Ada Sesuatu di dalam Diri Kita yang Tidak Pernah Menua

  • 08 Agt 2026 14:40 WIB
  •  Serui

RRI.CO.ID, Serui - Menyadari bahwa kita bukanlah pikiran, emosi atau tubuh kita. Siapa diri kita saat kita menanggalkan nama, pekerjaan dan semua cerita masa lalu kita? Sering kali kita terjebak dalam penderitaan karena kita salah mengira identitas diri kita. Kita mengira kita adalah rasa cemas yang sedang melanda, kita mengira kita adalah tubuh yang mulai menua dan lelah atau kita mengira kita adalah pikiran-pikiran buruk yang berseliweran dikepala.

Dalam perjalanan menuju hidup berkesadaran (Living Consciousness), kita diajak untuk melihat kedalam dan menemukan kebenaran yang membebaskan: bahwa kita bukanlah semua objek yang berubah-ubah itu. Kita adalah ruang kesadaran tempat semua itu terjadi. Kita adalah sang penyaksi yang tenang, yang selalu ada di sana, mengamati badai pikiran dan ombak emosi tanpa ikut hancur bersamanya.

Ketika kita menyadari hal ini, kita tidak lagi sibuk menolak atau bertengkar dengan apa yang kita rasakan. Kita cukup menjadi langit yang luas, yang mengizinkan setiap awan emosi untuk datang, menetap sejenak dan pergi dengan sendirinya.

Sejak kecil. kita terbiasa mendefinisikan diri lewat apa yang terlihat dan terasa. Ketika melihat cermin, kita mengira kita adalah tubuh ini. Ketika merasa sedih atau marah, kita mengira kita adalah emosi itu. Dan saat kepala kita berisik, kita mengira kita adalah pikiran-pikiran tersebut. Kita melekat begitu kuat pada ketiganya, sampai kita lupa siapa pemilik aslinya. Tubuh kita terus berubah dan menua setiap hari. Emosi kita datang dan pergi seperti cuaca, pagi bisa bahagia, sore bisa cemas. Pikiran kita pun terus timbul-tenggelam tanpa henti. Jika semua hal tersebut terus berubah dan bisa hilang, bagaimana mungkin itu adalah diri kita yang sejati?

Saat kita merasakan sedih, ada bagian dari diri kita yang tahu bahwa kita sedang sedih. Dan saat pikiran kita sedang kacau, ada bagian yang mengamati kekacauan itu. Nah, bagian yang menyadari dan mengamati itulah diri kita yang sesungguhnya. Kita adalah kesadaran-sang penyaksi yang tenang.

Kita bukan awan yang bergerak di langit; kita adalah langit luas tempat awan-awan itu melintas. Tubuh, emosi dan pikiran hanyalah objek yang lewat di dalam kesadaran kita. Tubuh kita bisa sakit, emosi kita bisa terluka dan pikiran kita bisa cemas. Tapi diri kita yang sejati-sang pengamat di dalam- selalu aman, utuh dan tidak tersentuh oleh semua drama itu.

Hidup akan terasa jauh lebih ringan saat kita mulai melepaskan identifikasi keliru ini. Kita tidak lagi panik saat emosi buruk datang, karena kita tahu itu bukan kita, ia hanya tamu. Kita tidak lagi stres dengan pikiran kita, karena kita hanya perlu mengamatinya berlalu. Kita kembali ke posisi duduk kita yang asli: menjadi ruang yang tenang dan penuh kedamaian. Mari kita ambil jarak sejenak. Tarik napas, rasakan tubuhmu, amati pikiranmu dan sadari bahwa kita adalah yang mengamati semua itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....