Waspada Polusi Udara jelang Kemarau Dini 2026
- 16 Mar 2026 03:14 WIB
- Serui
RRI.CO.ID. Serui - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prediksi iklim terbaru yang patut menjadi perhatian serius seluruh masyarakat. Tahun ini, Indonesia diperkirakan akan menghadapi musim kemarau yang datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih lama dari biasanya.
Dilansir dari berbagai sumber terpercaya salah satunya detikheath.com. Kemarau 2026 bukan sekadar tentang suhu panas yang menyengat, tetapi juga dapat memicu lonjakan polusi udara hingga ke tingkat yang sangat membahayakan. Dengan berakhirnya fenomena La Niña yang identik dengan intensitas hujan tinggi pada Februari 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air diprediksi akan turun drastis.
Menurut BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia akan memulai musim kemarau lebih awal, dimulai dari Nusa Tenggara pada bulan April dan meluas ke berbagai daerah lainnya hingga Juni. Data menunjukkan bahwa 64,5 persen wilayah Indonesia kemungkinan besar akan mengalami kemarau dengan kondisi Bawah Normal, yang berarti lebih kering dari rata-rata tahun-tahun sebelumnya.
Dampak Kemarau Kering terhadap Kesehatan Pernapasan
Hujan biasanya membantu membersihkan polutan di udara dengan membawanya turun ke permukaan. Namun, di musim kemarau kering, debu dan partikel polusi seperti PM2.5 justru bertahan lebih lama di atmosfer dan terhirup oleh masyarakat.
Diungkapkan oleh Piotr Jakubowski, salah satu pendiri aplikasi pemantau kualitas udara ecoCare Pure Air, kualitas udara di Jakarta tahun lalu rata-rata berada di atas indeks 40. Saat musim kemarau, angkanya dapat melonjak hingga 80-100, bahkan sesekali menyentuh angka 200. Indeks 200 mengindikasikan kualitas udara yang sangat tidak sehat, yang dapat menyebabkan udara terasa berat, berdebu, dan meningkatkan risiko terkena ISPA hingga gangguan jantung.
Meski banyak yang mengandalkan alat pembersih udara (air purifier) di dalam ruangan sebagai solusi sementara, Piotr mengingatkan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada indikator warna (seperti hijau, kuning, atau merah) yang ditampilkan oleh perangkat tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya pemantauan kualitas udara sepanjang tahun sebagai langkah awal untuk memperbaiki kondisi lingkungan secara komprehensif. Dengan data yang konsisten selama 365 hari, pemerintah dan masyarakat dapat mengetahui kapan kualitas udara membaik atau memburuk serta menggunakannya untuk langkah-langkah perbaikan yang lebih sistematis.
Musim kemarau panjang dengan ancaman polusi udara adalah tantangan besar bagi semua pihak. Penting bagi kita untuk tetap waspada dan segera mengambil langkah pencegahan demi menjaga kesehatan serta keselamatan bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....