Jejak Ragu yang Berbuah Jawara: Kisah Agen BRILink Syarifah
- 25 Mei 2026 23:30 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Di sebuah jalan raya Dusun Bungkak, Desa Batorasang, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, jalur penghubung antara Sampang dan Bangkalan berdiri sebuah toko kecil bernama Agen BRILink Syarifah. Toko ini milik Muhammad Aris Alwan (37 tahun), seorang pria yang berani menembus keraguan demi membuka jalan baru bagi warga sekitar.
BACA JUGA: Dari Alergi Bank, Agen BRILink Menjadi Pusat Perbankan Warga Desa
Senin, 25 Mei 2026, sekitar pukul 09.45 WIB, suasana toko itu begitu riuh. Warga datang silih berganti, ada yang melakukan tarik tunai, setor tunai, membayar listrik, membeli pulsa, hingga berbagai jasa pembayaran lain. Di balik meja sederhana, Alwan dan istrinya sibuk melayani, memastikan setiap transaksi berjalan lancar.

Agustus 2018 menjadi titik awal. Seorang teman istrinya datang membawa mesin kecil, bukan komputer besar seperti di minimarket. “Ini mesin apa? Ngambil uang kok bisa?” kenang Alwan. Awalnya ia acuh, bahkan tak percaya. Namun setelah berembuk dengan sang istri, ia melihat peluang besar. Saat itu belum banyak agen BRILink berdiri, dan kesempatan itu akhirnya ia ambil.
BACA JUGA: Kisah Sulton: Pemuda Desa Dari Sosmed ke BRIlink Kelas Jawara
Yang membuat kisah ini semakin berkesan, Alwan memutuskan langsung datang ke Bank BRI Sampang untuk mendaftarkan diri dengan modal awal Rp5 juta. Prosesnya cepat, hanya seminggu setelah pengajuan, ia ditelepon untuk mengambil mesin EDC konvensional dengan tombol mirip kalkulator. Dari situlah perjalanan panjangnya dimulai.
Kenangan transaksi pertama dan cerita lucu
Alwan masih ingat betul kenangan awal-awal membuka layanan. Transaksi pertamanya hanyalah bayar listrik prabayar.
“Hari itu cuma ada tiga transaksi, besoknya dua, lalu tiga lagi. Rasanya senang sekali, meski kecil, karena itu tanda orang mulai percaya,” kenang pria dua anak itu.
BACA JUGA: Dari Kuli Tinta ke Pengusaha Mebel, Bangun Harapan lewat KUR BRI
Dua minggu kemudian, ada warga yang berani tarik tunai Rp100 ribu, lalu Rp200 ribu. Dari situlah ia merasa usahanya mulai berjalan.
Kenangan awal juga menyimpan kisah lucu. Warga yang baru pertama kali datang ke tokonya mondar-mandir di depan rumah, mencari-cari mesin besar seperti ATM.
BACA JUGA: Agen BRIlink di Kampung, Jembatan Keuangan Warga Pelosok
“Mereka kira ada mesin besar di dalam. Padahal mesinnya kecil, mirip kalkulator. Sampai ada yang bilang, ‘Lho mas, mesinnya kok mungil sekali, bisa keluar uang beneran?’” kenang Alwan sambil tertawa. Cerita-cerita seperti ini membuat suasana toko Syarifah terasa hangat dan penuh kekeluargaan.
Modal awal hanya Rp5 juta. Lama-lama, saldo itu terasa kurang. Ia pun mengajukan KUR Rp25 juta ke BRI. Dua tahun kemudian lunas, lalu naik kelas ke Rp50 juta.
“Alhamdulillah, tidak pernah menunggak sepeser pun,” katanya dengan bangga.

Pahit-manis perjalanan
Perjalanan Alwan penuh cerita. Salah satu kenangan pahit yang masih ia ingat adalah ketika awal-awal membuka layanan, ia mengaktifkan notifikasi SMS untuk setiap transaksi. Ia tak menyangka, setiap SMS itu memotong Rp500 dari saldonya.
“Kalau sehari ada 30 transaksi, bisa habis Rp15 ribu hanya untuk SMS,” kenang dalam ceritanya. Bukannya untung, justru buntung. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa teknologi digital seperti BRImo lebih efisien dibanding sistem lama.
Ada pula kisah mendebarkan, salah transfer Rp19 juta ke rekening orang lain bernama Imam Syafi’i. Panik, ia mencari penerima hingga bertemu langsung dengan keluarganya. Beruntung, uang itu kembali. Namun ada juga pengalaman pahit ketika ia tertipu hingga Rp33,8 juta raib tanpa kembali. Meski begitu, ia tak patah semangat.
BACA JUGA: Dari Karyawan Kontrak, KUR BRI Menjadi Jalan Tol Bisnis Wisata
“Kalau dihitung, pengalaman baiknya jauh lebih banyak daripada yang buruk,” ujarnya dengan tersenyum.
Alwan mengenang, dulu ia sudah senang jika sehari bisa mendapat Rp30 ribu–Rp50 ribu. Kini, setelah beberapa tahun berjalan, penghasilannya melonjak drastis.
“Minimal Rp250 ribu–Rp300 ribu per hari, bersih,” ungkapnya.
Transaksi pun meningkat tajam, rata-rata 40–50 per hari, bahkan bisa tembus 60. Uang yang berputar sehari mencapai Rp150 juta, dengan tarik tunai terbesar Rp100 juta.
Meski kini agen BRILink menjamur, Agen BRILink Syarifah tetap menjadi pionir yang dipercaya. Bahkan ada warga dari luar desa, bahkan luar kabupaten, yang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk bertransaksi di tokonya.
“Ada orang jauh, rela menunggu saya pulang satu jam, padahal bisa saja ambil di agen sebelah. Tapi mereka bilang, lebih nyaman di sini,” tuturnya.
Suara dari sang istri
Di balik kesuksesan Alwan, ada sosok istrinya, Syarifatus Sofiyah, yang setia mendampingi. Ia kerap membantu melayani nasabah ketika Alwan sedang keluar.
“Awalnya saya juga ragu, apa orang mau datang ke rumah hanya untuk ambil uang? Tapi ternyata banyak yang percaya. Kadang mereka bilang, lebih enak dilayani di sini karena suasananya kekeluargaan,” ungkap Sofi.
Baginya, agen BRILink Syarifah bukan sekadar usaha, melainkan wadah untuk memperdayakan keluarga.
“Kami jalani bersama-sama. Anak-anak pun tahu kalau rumah ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga tempat orang mencari solusi keuangan,” tambahnya.
Kelas Jawara dan peran pengurus
Kini, Alwan menempati posisi kelas Jawara dalam jaringan BRILink. Status ini bukan sekadar label, melainkan pengakuan atas konsistensi transaksi dan kepercayaan masyarakat.
“Alhamdulillah, bisa bertahan di kelas Jawara bertahun-tahun. Itu artinya pelayanan kami dipercaya, meski persaingan semakin ketat,” ujarnya.
Tak hanya itu, Alwan juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Pengurus BRILink se-Sampang, membawahi 1.400 agen aktif. Peran ini membuatnya tak hanya fokus pada usaha pribadi, tetapi juga menjadi penghubung dan penyelesai masalah bagi sesama agen.
Kisah Alwan dan agen Syarifah adalah potret nyata bagaimana sebuah toko kecil di pinggir jalan raya bisa menjelma pusat layanan keuangan desa, bahkan menjadi tujuan warga dari luar daerah. Dari kenangan transaksi pertama, cerita lucu warga, hingga pengalaman pahit dan manis, semuanya membentuk perjalanan panjang yang penuh pembelajaran.
Dari rasa ragu, Alwan menjelma pionir. Dari dukungan keluarga, ia bertahan. Dan dari kepercayaan masyarakat, ia tumbuh menjadi penggerak ekonomi lokal lintas kabupaten.
Sebuah perjalanan yang membuktikan, kepercayaan adalah modal terbesar dalam membangun usaha dan dukungan keluarga adalah fondasi yang membuatnya bertahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....