Kisah Sulton: Pemuda Desa Dari Sosmed ke BRIlink Kelas Jawara
- 13 Mei 2026 13:33 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Hari Rabu, sekitar pukul 09.00 WIB, jalan raya Dusun Bungkak, Desa Batorasang, Kecamatan Tambelangan, Sampang, yang merupan akses lalu lintas perbatasan antar Kabupaten Bangkalan ramai oleh kendaraan yang hilir mudik tanpa henti. Di tengah riuh itu, berdiri sebuah toko bernama Sahabat BRIlink yang menjadi saksi perjalanan seorang pemuda desa, Sulton Maulana Akbar, 31 tahun sejak tahun 2020 lalu.
Dengan dukungan penuh kedua orang tuanya, usaha yang ia mulai dari rasa penasaran di media sosial kini tumbuh pesat. Dari ponsel sederhana hingga mesin BRIlink, trafik transaksi terus meningkat. Enam tahun berjalan, toko Sahabat BRIlink milik akhirnya menembus kelas Jawara.

“Awalnya saya lihat di sosmed, terus tanya-tanya ke teman. Kayaknya menjanjikan, langsung ke Bank BRI Sampang. Ternyata gampang, cukup KTP, modal nggak harus banyak,” kenang Sultan. Tanpa mesin, hanya bermodalkan ponsel, ia mulai melayani transaksi warga.
BACA JUGA: Agen BRIlink di Kampung, Jembatan Keuangan Warga Pelosok
Hari-hari pertama penuh tantangan. Warga belum tahu, promosi dilakukan dari mulut ke mulut dan bener di depan tokonya. Transaksi pertama hanya pulsa, namun perlahan kepercayaan tumbuh. Kini, rata-rata 30–50 orang datang setiap hari, kebanyakan untuk kiriman uang dari keluarga yang merantau ke Jawa atau luar negeri.
“Tarikan terbesar pernah sampai Rp50 juta,” ujarnya bangga saat ditemuai RRI.co.id di sela-sela kesibukan melayani warga yang melakukan transaksi sembari duduk di kursi depan etalasenya.
BACA JUGA: Dari SPG ke Owner Laundry Berkat KUR BRI
Usaha ini dijalankan bersama adik kandungnya Agil Malik Fathulloh (25). Jam operasional dari jam enam pagi hingga sepuluh malam, toko itu tak pernah sepi. Perputaran uang harian bisa mencapai Rp100 juta lebih. Dukungan keluarga menjadi kunci, meski risiko selalu ada.
“Kadang ada salah transaksi, salah ketik angka, bisa rugi jutaan. Tapi kedua orang tua selalu mengingatkan hati-hati,” tuturnya.

Kisah Lucu yang Tak Terlupakan
Perjalanan enam tahun penuh warna. Ada warga yang minta admin diturunkan meski sudah murah. Ada pula yang berhutang token listrik setelah transaksi.
BACA JUGA: Kafe Klasik: Dari Hobi Nongkrong ke Ruang Edukatif Mahasiswa
“Lucunya, ada yang isi token, sudah transaksi, malah dihutang. Tidak bayar sampai sekarang,” kata Sultan “kacau” sambil tertawa.
Kesalahan teknis juga pernah terjadi. Ia pernah salah ketik nominal hingga Rp1,5 juta.
“Salah nol aja kan, semuanya transfer Rp100 ribu, jadi Rp1 juta. Pernah juga Rp1,5 juta. Untung bisa dikembalikan,” kenangnya.
Pengalaman Sedih
Tak semua kisah berakhir dengan tawa. Ada momen ketika saldo chas kosong saat warga ingin menarik uang dalam jumlah besar.
“Kadang orang ambil 50 juta, ketepaan uang ada di Saldo tidak ada chas. Jadi harus punya modal besar. Kalau saldo chas kosong, rasanya sedih karena nggak bisa bantu,” ujarnya.
Risiko kehilangan uang akibat salah transaksi juga membuat hati was-was. “Kedua orang tua selalu mendukung, tapi juga selalu bilang hati-hati. Soalnya kalau salah nol, bisa hilang jutaan,” katanya lirih.
Kelas Tingkat BRIlink
Dalam sistem BRIlink, agen dibagi dalam beberapa kelas Pemula, Jawara dan Juragan, Kelas ditentukan berdasarkan volume transaksi, jumlah nasabah, dan konsistensi layanan.
Toko Sahabat BRIlink milik Sulton kini sudah masuk kelas Jawara. Artinya, transaksi harian dan perputaran modalnya sudah stabil, dengan peluang besar untuk naik kelas berikutnya.
Perjalanan enam tahun ini tidak ia jalani sendirian. Selain dukungan kedua orang tuanya menjadi pondasi, sementara tangan adiknya, ikut menjaga roda usaha tetap berputar dan terus naik kelas.
“Saya ikut membantu dari awal, memastikan transaksi berjalan lancar. Kadang ada kesalahan atau saldo kosong, tapi saya belajar bersama, yang jaga juga bergantian dengan kakak,” ungkap Agil dengan nada penuh kebanggaan.
Keberhasilan Sulton juga dirasakan langsung oleh warga sekitar. Salah satunya Atika Rahman pelanggan setia, mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan BRIlink di desanya.
“Kalau dulu harus ke Kecamatan dulu untuk kirim uang atau ambil transfer, sekarang cukup ke tokonya Sulton. Pelayanannya ramah, cepat, dan aman. Saya rutin pakai jasanya karena memang memudahkan sekali,” ujarnya.
Mimpi dan Harapan Kedepan
Kini, Sulton bermimpi menambah mesin dan memperbesar modal agar layanan semakin lancar. Baginya, BRIlink bukan sekadar usaha, melainkan jembatan kepercayaan antara warga desa dan dunia perbankan.
“Kalau modal semakin banyak, transaksi semakin banyak, nasabah semakin banyak,” harapnya.
Di tengah persaingan sehat antaragen BRILink, Sultan tetap teguh. Sahabat BRIlink bukan hanya nama toko, tetapi juga filosofi hidupnya, menjadi sahabat bagi warga, menghadirkan kemudahan transaksi keuangan, dan membuka jalan menuju ekonomi desa yang lebih mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....