Dari Alergi Bank, Agen BRILink Menjadi Pusat Perbankan Warga Desa

  • 15 Mei 2026 22:08 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Bangkalan – Waktu jam dinding menunjukkan pukul 08.35 Wib, Jum'at 15 Mei 2026 di sebuah sudut Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Mihal (46) tampak tenang memantau karyawannya yang sedang melayani pelanggan di gerainya, Agen BRILink Rizki Jaya. Namun, di balik bunyi beep mesin EDC yang kini terdengar biasa, tersimpan memori tentang perjuangan "babat alas" yang berdarah-darah. Mihal bukan sekadar agen bank ia adalah pria yang menantang rasa takut sebuah desa terhadap perbankan.

BACA JUGA: Kisah Sulton: Pemuda Desa Dari Sosmed ke BRIlink Kelas Jawara

Jauh sebelum menyandang status PPPK di SDN Daleman, hidup Mihal adalah tentang kerja keras serabutan. Lahir pada 1979, ia mengawali karier sebagai pesuruh sekolah bukan pengajar. Di rumah, ia membuka toko untuk menyambung hidup dengan berjualan pulsa, beras, mi instan, rokok, hingga bensin eceran.

Tahun 2017, sebuah tawaran datang dari Mantri BRI. Sebuah mesin EDC ditawarkan padanya untuk menjadi agen BRIlink. Namun, Mihal justru gentar. Ia menolak tawaran itu. Bukan sekali, tapi tiga kali.

BACA JUGA: Agen BRIlink di Kampung, Jembatan Keuangan Warga Pelosok

"Waktu itu orang punya ATM di satu desa paling banyak cuma sepuluh orang. Orang desa takut menabung ke bank, apalagi pinjam uang. Mereka alergi dengan bank," kenang Mihal. Namun, desakan sang Mantri yang terus kembali membuat Mihal luluh. Dengan modal awal saldo Rp2 juta dan uang tunai Rp3 juta, ia resmi menjadi agen BRIlink pertama di desanya.

BACA JUGA: Dari Karyawan Kontrak, KUR BRI Menjadi Jalan Tol Bisnis Wisata

Menjadi pionir berarti siap menjadi guru bagi masyarakat. Mihal menyadari bahwa mesin EDC saja tidak cukup. Ia harus terjun langsung ke lapangan. Strateginya unik: ia memanfaatkan forum-forum warga.

Dari satu kelompok Yasinan ke kelompok Yasinan lain, dari hajatan (koncengan) satu ke yang lain, Mihal selalu membawa lembaran kertas.

"Saya buat oret-oretan. Saya ajari cara buka tabungan, cara ambil uang. Saya yakinkan mereka bahwa transaksi di BRILink itu mudah, tidak perlu jauh-jauh ke bank," ucapnya dengan lirih.

Perjuangannya "menjual" rasa percaya membuahkan hasil. Ia bekerja sama dengan Mantri untuk setiap warga yang mengambil KUR agar langsung dibuatkan ATM. Strategi ini berhasil meruntuhkan tembok ketakutan warga. Gerainya pun mulai ramai, bahkan sempat menjadi pusat massa hingga 500 orang saat pencairan PKH di masa kejayaannya.

BACA JUGA: Raja Setrika Uap, Cerita UMKM Tumbuh Bersama KUR BRI

Namun, perjalanan ini tak selalu manis. Menjadi agen berarti memikul beban tanggung jawab yang besar. Mihal pernah mengalami getirnya salah transfer, mulai dari nominal Rp1 juta hingga Rp9 juta. Ada yang kembali karena kejujuran penerima, ada pula yang hilang tanpa bekas.

Kisah yang paling menyayat hati terjadi sekitar tahun 2019. Saat itu, gelombang penipuan SMS berhadiah motor menghantam warga desa. Mihal menjadi saksi mata bagaimana warga yang polos terpedaya.

"Wajah mereka pucat, mereka sudah kena hipnotis lewat telepon. Saya sudah peringatkan, tapi mereka tetap memaksa transfer. Ada yang sampai jual sepeda motor demi transfer ke penipu. Pas sadar, uang sudah habis," tutur Mihal lirih. Baginya, itu adalah duka terdalam sebagai agen melihat warga merugi bukan karena kesalahan sistem, melainkan karena kepolosan mereka sendiri.

Waktu bergulir hingga tahun 2026. Lanskap ekonomi Desa Paterongan telah berubah. Jika dulu Mihal adalah penguasa tunggal yang dikenal seluruh agen se-Kabupaten Bangkalan karena solidaritas paguyubannya, kini ia harus berbagi lahan.

Agen BRILink kini menjamur tanpa batas jarak. Efeknya nyata, kelas keagenan Mihal yang dulunya sempat menyentuh level Juragan, kini harus turun ke kelas Jawara. Transaksi yang dulu bisa mencapai 4.000 per bulan, kini merosot tajam.

"Bedanya, kalau agen baru sekarang tinggal buka dan duduk, masyarakat sudah kenal. Kami dulu yang mengenalkan awal ke masyarakat, perjuangannya turun ke desa-desa," ungkapnya dengan sedikit nada kecewa.

Meski transaksi tak lagi sebanyak dulu, Mihal tidak menyerah. Di gerainya yang dikelola bersama keluarga dan satu karyawan, ia tetap bertahan dari jam 7 pagi hingga 9 malam. Senjatanya kini hanya satu: Pelayanan.

"Sekarang yang penting pelayanan. Biarpun konsumen kadang 'ngeselin' atau bicara dengan nada buru-buru, kita harus menyikapi dengan sabar dan banyak tersenyum," tutupnya. Bagi Mihal, meski kelasnya turun ke Jawara, dedikasinya untuk melayani warga Desa Paterongan tetaplah berkelas Juragan.

Salah satu warga setempat Rusdi yang menjadi pelanggan setia sejak awal, masih ingat betul bagaimana Mihal meyakinkannya.

"Dulu saya termasuk yang paling takut kalau dengar kata bank. Takut uang hilang, takut dipersulit. Tapi Pak Mihal ini sabar sekali. Datang ke kumpulan warga, bawa kertas coret-coretan, menjelaskan sampai kami paham. Sekarang, bayar angsuran, dan kebutuhan transaksi berbankan tinggal ke tokonya mas Mihal,” ucapnya.

Kini, meski kelasnya turun, dedikasi Mihal tetap berkelas Juragan. Dari warga yang dulu alergi bank, kehadiran agen BRILink miliknya menjelma menjadi pusat perbankan warga desa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....