Agen BRIlink di Kampung, Jembatan Keuangan Warga Pelosok
- 09 Mei 2026 12:38 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Sabtu pagi, pukul 06.20 WIB, Dusun Gunung Barat di Desa Gunung Kesan, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, masih diselimuti suasana kampung yang khas. Kokok ayam bersahutan dari balik pagar bambu dan sebagian sudah mencari makan ditegalan, burung-burung kecil berceloteh di ranting pohon depan rumah. Matahari baru saja menyingkap kabut tipis, menandai dimulainya aktivitas warga.
Di sebuah rumah sederhana dengan tembok yang masih baluran semen halus terpampang banner bertuliskan “Agen BRIlink”. Teras rumah itu menjadi saksi perubahan sejak tahun 2020, ketika seorang pemuda bernama Muhsin (31) berani membuka layanan keuangan di pelosok desa.
BACA JUGA: Irza: Dari Kampus ke Kandang, Merintis Ternak Kambing dengan KUR BRI
Dari sinilah warga tiga desa bisa melakukan tarik tunai, setor uang, hingga membeli pulsa tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kota.

Suara notifikasi transaksi dari ponsel Mohsin kini menjadi bunyi baru yang menyatu dengan riuh kampung. Pagi itu, tiga warga sudah datang untuk melakukan tarik tunai. Kehadiran mereka menandai betapa layanan BRIlink milik Muhsin telah menjadi denyut baru ekonomi desa dengan layanan yang cukup sederhana, kursi kayu yang sudah disiapkan diteras rumah untuk melayani para warga yang akan melakukan transaksi sebagai saksi bisu perjalanan Muhsin.
BACA JUGA: Dari SPG ke Owner Laundry Berkat KUR BRI
Awalnya, Muhsin hanya melihat keresahan warga sekitar. Banyak yang merantau ke luar negeri, kiriman uang pun sering ditransfer melalui dirinya. Ada pula pengusaha genteng yang kesulitan bertransaksi karena kartu ATM sering bermasalah. Jarak tempuh ke Kecamatan dan Kota sampang terlalu jauh, ongkos ojek bisa mencapai Rp100 ribu hanya untuk menarik uang Rp5 juta. Dari situ, ia mengajukan diri menjadi agen BRIlink.
“Saya ingin warga tidak perlu jauh ke kota, cukup di kampung bisa setor, tarik, dan bayar,” ujarnya. Sabtu, 9 Mei 2026, saat di temui di teras rumahnya.
Modal awal bukan perkara mudah. Ia harus menyiapkan saldo minimal Rp50 juta, meminjam ke bank, dan melengkapi izin usaha. Namun hasilnya luar biasa. Pada masa pencairan PKH, transaksi bisa mencapai seribu kali dalam tiga hari, dengan nilai hingga Rp700 juta. Layanan BRIlink miliknya menjangkau tiga desa di perbatasan Gunung Kesan, Desa Lepelle, Desa Blu'uren dan Desa Palenggien .
Selain melayani transaksi keuangan, Muhsin tetap menjalankan usaha genteng yang menjadi mata pencaharian utama warga. Ia memodali tujuh gudang produksi, menyediakan tanah, kayu, hingga pembakaran, lalu menjual genteng ke wilayah Madura dan Jawa.
“Kehadiran BRIlink justru memperkuat bisnis genteng karena warga lebih mudah mengatur keuangan,” ucap pria dua anak itu dengan tersenyum.
Ada kisah unik saat melayani warga. Pernah seorang anak diminta ayahnya mengambil uang, tapi tak tahu PIN ATM. Transaksi pun terblokir.
“Dulu orang kampung bingung apa itu PIN. Sekarang mereka sudah paham,” kenangnya pria yang juga pengusaha genteng karang penang itu.
Kini, meski agen BRIlink bertambah hingga empat titik di sekitar kampung, Muhsin tetap dikenal sebagai pelopor. Harapannya sederhana agar penempatan agen tidak terlalu berdekatan sehingga persaingan sehat tetap terjaga.
“Kalau bisa jaraknya tiga kilometer, jangan sampai 500 meter. Biar usaha tetap hidup,” katanya.
Di balik kesibukan sebagai agen BRIlink, Muhsin juga seorang guru madrasah. Ia mengajar setiap hari setelah mendapat sertifikasi PPG. Kadang, istrinya atau mertua membantu menjaga layanan BRIlink di rumah.
“Ini usaha keluarga, gantian kalau saya keluar,” ujarnya.
Pendapatan dari BRIlink kini berkisar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per bulan, belum termasuk fee tambahan dari warga. Meski tidak sebesar awal berdiri, Muhsin tetap bangga karena ia menjadi pionir. Baginya, BRIlink jembatan yang memudahkan warga desa mengakses dunia perbankan dan untuk perekonomin keluarganya.
Salah satu konsumen tetap, Moh Yadi saat detemui usai melakukan transaksi mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan BRIlink milik Muhsin.
“Dulu kalau mau ambil uang harus ke kota, keluar ongkos besar. Sekarang cukup ke Toko Berkah Jaya, lebih cepat dan aman dan tidak pernah ribet,” ungkapnya detemuai usai melakukan transaksi.
Ia menambahkan, kehadiran BRIlink di kampung membuat warga lebih tenang dalam mengatur keuangan.
“Kalau dulu harus pakai ojek, bayar Rp100 ribu hanya untuk ambil uang Rp5 juta. Sekarang cukup jalan kaki ke toko, tidak perlu keluar ongkos besar. Anak-anak sekolah juga bisa kirim uang jajan dari orang tuanya yang merantau dengan mudah,” ucap Yadi.
Menurutnya, kehadiran agen BRIlink milik Muhsin sebagai penolong warga desa.
“Kalau ada masalah transaksi, beliau sabar menjelaskan. Bahkan pernah saya lihat ada orang bingung soal PIN ATM, langsung dibantu sampai selesai. Jadi bukan hanya bisnis, tapi juga membantu masyarakat,” tuturnya.
Yadi berharap layanan BRIlink milik Muhsin bisa terus bertahan meski kini banyak agen bermunculan.
“Harapan saya, usaha ini jangan sampai mati karena persaingan. Muhsin sudah jadi pelopor, jadi warga tetap percaya dan nyaman bertransaksi di sini,” kata Yadi dengan mengakhirnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....