Kisah Mantan TKI Berlabuh ke Jembatan Keuangan Desa

  • 15 Jun 2026 22:46 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Malam itu Senin, 15 Juni 2026, di Dusun Batu Lebar, Desa Palenggiyan, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, terasa sunyi, hanya suara jangkrik dan desir angin yang menemani. Jalan desa yang sepi seakan menutup diri dari dunia luar, namun di tengah gelap itu, cahaya lampu neon biru bertuliskan BRIlink Zaim Cell memancar, menjadi mercusuar kecil bagi warga yang mencari kemudahan.

Toko sederhana itu berdiri tegak, seakan berbisik “Di sini ada harapan, di sini ada kemudahan.”

BACA JUGA: Perjuangan Perempuan Pasar, Menolak Tunduk pada Keterbatasan

Di dalamnya, lantai keramik bermotif merah muda memantulkan cahaya lampu, menghadirkan nuansa hangat. Meja kayu sederhana menjadi pusat pertemuan warga duduk santai, ada yang menunggu giliran transaksi, ada yang sekadar berbincang ringan.

Suasana malam berubah akrab, obrolan kecil diselingi tawa, dan sesekali terdengar suara ponsel berbunyi tanda notifikasi transaksi berhasil.

Spanduk besar di dinding toko menampilkan daftar layanan: isi ulang pulsa, token listrik, pembayaran BPJS, hingga transfer dana. Bagi warga desa yang jarang ke kota, spanduk itu bukan sekadar tulisan, melainkan pintu menuju dunia baru. “Dekat, cepat, mudah, lengkap,” begitu slogan yang terpampang, dan benar adanya di tengah heningnya malam desa, BRILink Zaim Cell milik Subadi (32 tahun) menjadi pusat aktivitas jembatan keuangan masyarakat setempat.

BACA JUGA: Kisah BRILink Murah Jaya Langsung Melejit Kelas Juragan

Subaidi sedang melayani dua warga yang akan melakukan transaksi

Jejak Perantauan

Sebelum membuka BRILink, Subaidi pernah merantau jauh. Tiga tahun di Arab Saudi, ia bekerja dalam proyek pembangunan Masjidil Haram, bergelut dengan besi dan panas padang pasir. Tiga tahun berikutnya di Malaysia, ia menekuni perencanaan produksi batu bata, berhadapan dengan hitungan detail dan rancangan arsitektur.

Dari pengalaman itu lahir kesadaran tenaga harus dikelola, uang harus dihemat, dan mimpi harus diwujudkan di tanah kelahiran.

Pulang Kampung dan Pilihan BRI

Ketika pulang kampung, Subaidi tidak langsung membuka usaha. Ia menata kembali hidup, membenahi apa yang perlu diperbaiki. Namun benih mimpi sudah lama tertanam menjadi agen BRILink. Ia sempat mendapat banyak tawaran dari agen bank lain, tetapi akhirnya tetap memilih BRI.

BACA JUGA: Tak Lulus SD, Perempuan Desa Sukses Pertahankan Agen BRILink Kelas Juragan

“Sebelum buka BRILink, memang banyak tawaran dari agen bank lain. Tapi saya lihat kondisi di kampung, mayoritas warga nasabahnya BRI. Jadi tidak mungkin saya berlabuh ke bank lain. Pilihan saya tetap BRI, karena di sini sudah jadi kepercayaan masyarakat,” ucapnya.

Dari Mindset ke Jawara

Maret 2026 menjadi titik bersejarah. Ia resmi diterima sebagai agen BRILink. Hari-hari pertama penuh rasa canggung, namun juga penuh harapan. Banner sederhana di depan rumah menjadi saksi awal kepercayaan warga.

“Sejak awal sebenarnya sudah ada transaksi. Warga sudah datang, meski hanya untuk tarik tunai lewat BRIMO. Dari situ kepercayaan mulai tumbuh,” katanya.

BACA JUGA: Jawara BRILink Pulau Mandangin Mengubah Hidup Warga Pesisir

Target fee bulanan yang semula dianggap berat, ia lampaui dengan mudah. Dalam satu bulan, ia mampu menembus 300 hingga 400 fee, jauh di atas batas minimal 150. Kini, rata-rata 25 hingga 45 orang datang setiap hari. Transaksi bulanan mencapai lebih dari Rp2,2 juta fee, menjadikannya agen kelas Jawara.

Subaidi sedang melayani dua anak muda yang akan melakukan transaksi dana

Cerita Lucu Nasabah

Cerita lucu pun mewarnai hari-harinya. Pernah dua nasabah berselisih paham karena saldo mengendap berbeda, padahal nominal saldo mereka sama. Satu bisa menarik Rp270 ribu, satu lagi hanya Rp240 ribu.

“Kartunya berbeda, jadi aturan saldo minimalnya juga berbeda. Itu yang sering jadi kerancuan,” jelas Subaidi sambil tersenyum.

Pengalaman Pahit

Namun tak semua kisah penuh tawa. Ada pula pengalaman pahit ketika sistem merchant sempat bermasalah. Seorang nasabah kehilangan Rp300 ribu karena saldo terpotong, tetapi transaksi tidak masuk.

“Itu pengalaman pahit, tapi jadi pelajaran. Bahwa sebagai agen kita harus siap menghadapi risiko, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat,” kenangnya.

Edukasi dan Produk Baru

Selain melayani transaksi, Subaidi juga aktif mengedukasi warga tentang produk BRI terbaru, seperti Simpedes UMI. Ia menawarkan pembuatan rekening gratis bagi yang belum memiliki.

“Sekalian ambil uang, sekalian buka rekening. Jadi lebih mudah, dan sekaligus melestarikan produk BRI,” tuturnya.

Infografis BRILink Zaim Cell

Suara Sang Istri dan Warga

Komentar seirama datang dari sang istri, Natihah (30 tahun), yang mendampingi dengan penuh kesederhanaan.

“Awalnya saya ya agak bingung, soalnya usaha ini baru dan belum sampai setahun. Tapi alhamdulillah, tiap hari ada saja orang datang. Yang penting orang kampung bisa gampang ambil uang, bayar listrik, atau isi pulsa,” ucapnya dengan nada polos khas kampung.

Seorang warga setempat, Maisaroh, yang rutin bertransaksi di Zaim Cell, juga menyampaikan kesannya dengan suara agak grogi.

“Saya ini orang kampung, jarang ke kota. Kalau ada perlu uang atau bayar listrik, biasanya bingung harus ke bank jauh. Tapi sekarang ada Zaim Cell, jadi lebih gampang. Saya dan masyarakat disini sangat terbantu sekali, jadi nggak repot jauh ke kecamatan atau ke kota Sampang lagi,” katanya sambil tersenyum malu.

Apresiasi BRI

Suara apresiasi datang dari Vini Dwi Jayanti, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BO BRI Sampang, yang turut mengawal perjalanan Zaim Cell sejak awal. Ia mengakui bahwa keputusan menerima pengajuan Subaidi sebagai agen BRILink sempat penuh keraguan.

“Untuk Zaim Cell, itu kan agen BRILink baru. Dia sebelumnya memang sudah membuka jasa transaksi di rumahnya, tapi pakai BRIMO. Terus dia tertarik menjadi agen BRILink, akhirnya saya survei, lokasinya oke. Walau cukup jauh dari keramaian, bahkan bisa dibilang masuk hutan, kanan kiri depannya pepohonan. Waktu pertama kali saya ACC, sempat hopeless juga, ini nggak ada yang transaksi. Masak di dalam rimbun pohon ada yang transaksi,” ungkap Vini.

Namun keraguan itu segera terjawab. Target minimal 100 transaksi dan fee Rp150 ribu yang ditetapkan untuk pengajuan mesin EDC, justru mampu dicapai Subaidi dalam waktu kurang dari sebulan.

“Ternyata nggak sampai sebulan sudah bisa nyampe target itu. Akhirnya saya ajukan mesin, dan di bulan depannya langsung dapat. Setelah itu, dia langsung jawara, naik kelas. Jadi nggak butuh waktu lama untuk naik kelas,” tambahnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....