Perjuangan Perempuan Pasar, Menolak Tunduk pada Keterbatasan

  • 14 Jun 2026 00:03 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Sampang - Di Pasar Tradisional Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, Madura, berdiri sebuah ruang kecil dengan tembok bermotif geometris berwarna krem keemasan berpadu nuansa cokelat lembut berdiri sebagai saksi perjalanan hidup. Motif itu seolah bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa diam yang menyampaikan kehangatan dan keakraban.

Ia merangkul setiap orang yang datang, menegaskan bahwa layanan keuangan tidak harus bersemayam di gedung tinggi yang berjarak, melainkan bisa tumbuh dari ruang sederhana yang menyatu dengan denyut pasar.

BACA JUGA: Dari Bidan dan Kru Kapal Pesiar, Menjadi Pelita Keuangan Masyarakat Desa

Sabtu pagi, 13 Juni 2026, riuh pasar sangat terasa suara pedagang menawar harga, aroma rempah yang menyeruak, dan deru mesin EDC yang sesekali berbunyi, berpadu menjadi simfoni kehidupan.

Di balik meja dengan papan nama Agen BRILink Alfan Jaya, seorang karyawan berhijab duduk tenang, melayani dua warga yang sedang melakukan transaksi keuangan.

Jam dinding yang tergantung di tembok, sertifikat berbingkai yang rapi, dan lemari kaca berisi barang-barang kecil menjadi ornamen yang menambah kesan resmi sekaligus bersahaja. Setiap detail ruang itu seakan berbicara, bahwa usaha ini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang kepercayaan, tempat di mana masyarakat menitipkan harapan dan cerita.

BACA JUGA: Kisah BRILink Murah Jaya Langsung Melejit Kelas Juragan

Di tengah keramaian pasar, Miatul Rofiqoh (29) dan suaminya Imam Ghozali (37) hadir bukan hanya sebagai pelayan transaksi, tetapi sebagai penjaga denyut ekonomi desa. Sejak tahun 2017, Pasutri ini menyalakan harapan baru lewat keberanian membuka Agen BRILink Alfan Jaya. Dari mesin EDC bekas, banner sederhana, dan tabungan yang dikumpulkan sejak masa sekolah, lahirlah sebuah simpul ekonomi yang kini menjadi nadi keuangan masyarakat Desa Tambelangan dan sekitar.

Karyawan BRILink Alfan Jaya sedang melayani warga yang akan melakukan transaksi stor tunai

Awal Perjalanan

Sejak kuliah, Mia sudah menyatu dengan denyut pasar. Ia membantu sang ibu menjaga toko sembako di depan dan sebelah barat pasar. “Saya tiga bersaudara cewek sendiri, jadi Umi maunya saya di rumah bantu,” kenangnya.

Kehidupan pasar menjadi panggung sehari-hari, penuh aroma rempah dan suara pedagang yang tak pernah henti. Dorongan untuk mandiri datang setelah ia menikah dan memiliki anak. “Masa iya terus bergantung pada orang tua,” ujarnya lirih.

BACA JUGA: Jawara BRILink Pulau Mandangin Mengubah Hidup Warga Pesisir

Keinginan punya penghasilan sendiri, bahkan rumah sendiri, membuatnya mencari jalan. Saat mendengar tentang BRILink, Mia sempat ragu. Ia bertanya pada teman.

“Briling itu gimana sih, Mbak?” Jawaban sederhana transfer, tarik tunai, hingga pencairan PKH cukup menyalakan rasa ingin tahu.

Modal dan Tantangan Awal

Dengan keberanian sederhana, Mia membawa KTP dan KK ke kantor cabang BRI Sampang. Sebulan kemudian, petugas datang ke rumahnya.

“Saya bilang, Pak, saya mau buka di pasar Tambelangan. Insya Allah ramai,” tutur Mia. Keyakinan itu berbuah hasil, ia mendapat mesin EDC bekas, lengkap dengan banner.

Modal awal ia ambil dari tabungan di koperasi BMT, sekitar Rp20 juta, hasil menyisihkan uang sejak SMP hingga kuliah. Karena waktu itu mau pinjam ke orang tuanya tidak dikehendaki.

BACA JUGA: Jejak Ragu yang Berbuah Jawara: Kisah Agen BRILink Syarifah

“Namanya orang tua, kudet. Dibilangnya nanti uang habis buat belanja online,” kenang Mia tentang keraguan ibunya dengan tertawa lirih.

Target dari mantri BRI adalah tujuh transaksi sehari. “Awal-awal, sehari cuma dua transaksi,” ujarnya. Demi memenuhi syarat, Mia dan Imam Ghozali mengakali dengan menggesek sendiri malam hari, memindahkan dana antar rekening.

“Pokoknya sehari harus tujuh, kalau nggak nyampe, bisa dicabut mesinnya dan berlansung selama tiga bulanan,” katanya tegas.

Outlet BRILink Alfan Jaya yang ada di pertokoan pasar Tradisional Tambelangan Sampang

Edukasi dan Perjuangan

Belum punya outlet, Mia menenteng mesin EDC ke rumah-rumah warga, bekerja sama dengan sepupunya yang kepala desa dan perakangkat desa.

“Kalau yang dapat banyak, admin Rp10.000. Kalau sedikit, saya potong Rp5.000,” jelasnya.

Dari PKH yang cair tiga bulan sekali, ia mulai dikenal warga. Dukungan kepala desa membuatnya lebih mudah menjangkau masyarakat. Awal-awal, edukasi menjadi bagian dari perjuangan.

“Orang tahunya ambil uang itu di ATM kalua kirim uang ke Bank. Jadi saya harus jelaskan, ini bisa transfer, bisa setor,” kenang Mia. Bahkan ada yang mengira mesin BRILink miliknya adalah alat jual es krim. Selama setahun, ia sabar memperkenalkan layanan keuangan digital kepada masyarakat desa.

Luka dan Dukungan Suami

Perjalanan juga diwarnai luka. Awal transaksi tarik tunai dengan dihutang oleh tetangganya sendiri, dan dua bulan setelah membuka BRILink, Mia tertipu Rp1 juta lewat pesan WhatsApp palsu. “Saya sampai tiga hari nggak tidur, waktu ketipu itu,” ujarnya.

Imam Ghozali Sang suami tercinta menenangkan, “Wiss, anggap saja sedekah. Yang penting sehat, besok cari lagi.”

Imam, yang bekerja di Mandiri Utama Finance Bangkalan, mendukung dari jauh. Lima tahun pertama mereka LDR, setiap malam menghitung uang kas lewat telepon. Hingga akhirnya, saat Mia hamil anak kedua dan harus bed rest, Imam memutuskan resign untuk fokus bersama keluarga dan usaha BRILink.

Naik Kelas Juragan dan Aset Usaha

Seiring perjalanan waktu. Kini, Mia memberdayakan dua karyawan dan bertahan di kelas Juragan BRILink dengan transaksi 4.500 per bulan.

“Sekarang sehari rata-rata 100 sampai 150 transaksi,” ujarnya. Dengan dua outlet di pasar dan di rumah perputaran uang mencapai Rp400–500 juta per hari. Dari hasil kerja kerasnya, Mia kini memiliki sejumlah asset, Rumah pribadi yang dibangun dua tahun lalu. Ruko tempat outlet BRILink di sebelah rumah. Kendaraan roda empat, peralatan usaha tambahan, termasuk dua mesin EDC aktif dan perlengkapan kasir digital.

Mia mengenang masa-masa awal dengan senyum getir. “Sengannya itu waktu pertama kali dapat pelanggan tetap. Rasanya kayak mimpi, dari yang dulu cuma dua transaksi, sekarang bisa ratusan,” ujarnya.

Ia juga teringat saat pertama kali menerima penghargaan dari BRI sebagai agen berprestasi.

“Itu momen paling berkesan, karena perjuangan saya dan suami akhirnya diakui.” Bagi Mia, senanngnya bukan hanya soal uang, tapi tentang kepercayaan.

Komentar dan Dukungan Karyawan

Dua karyawan, Fifin dan Aisyah, turut menjadi bagian penting perjalanan Mia. Fifin mengaku, “Dengan bergabung di Agen BRILink Alfan Jaya, saya bisa hidup mandiri, tak lagi banyak bergantung kepada orang tua.” Hubungan kerja pun terasa hangat. “Mbak Mia dan suaminya sudah seperti keluarga sendiri,” tambahnya.

Aisyah menambahkan, “Bekerja di sini juga belajar disiplin dan kepercayaan. Saya betah disini.”

Infografis BRLink Alfan Jaya

Simpul Ekonomi Desa

Lebih dari sekadar transaksi, BRILink Alfan Jaya milik Mia menjadi simpul ekonomi desa. TKW dari Arab Saudi dan Malaysia menitipkan kiriman, anak pondok menerima uang dari orang tua, hingga pabrik minyak, toko bangunan, agen kasur, Indomart, dan kurir-kurir lokal menjadikan Mia sebagai mitra setoran.

“Sangat terbantu sih orang desa dengan adanya agen BRILink,” ujarnya.

Apresiasi dari BRI

Aprisiasi dan dukungan juga datang dari Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BO BRI Sampang Vini Dwi Jayanti, dirinya sangat meng apresiasi Alfan Jaya dan berharap bisa bertahan terus di kelas Juragan.

“Di Tambelangan memang padat agen. Namun Mia unggul karena punya cabang di pasar dan di rumah. Itu yang membuat Alfan Jaya bisa bertahan sebagai juragan dan konsisten di bulan-bulan berikutnya,” ucap perempuan berhijab itu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....