Kisah BRILink Murah Jaya Langsung Melejit Kelas Juragan

  • 09 Jun 2026 10:02 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Bangkalan - Hari Selasa, 9 Juni 2026. Matahari baru saja terbit dari ufuk timur, menyinari jalanan yang masih basah oleh embun pagi. Cuaca dingin menyelimuti Jalan Raya Jokotole Socah, Bangkalan, sementara lalu lalang masyarakat mulai tampak, pedagang menuju pasar tradisional, ibu-ibu membawa keranjang belanja, dan anak-anak mulai menuju sekolah.

Tepat di nomor 69, sebuah toko sederhana perlahan membuka mata harinya. Pak Sindrang (55) dengan tangan kokoh menggulung rolling door, sementara di sampingnya Bu Nurul Istiana (54) menyapu halaman dengan penuh ketekunan.

BACA JUGA: Jawara BRILink Pulau Mandangin Mengubah Hidup Warga Pesisir

Rak-rak yang sempat berantakan ditata kembali, seakan menyiapkan panggung bagi aktivitas yang akan segera ramai. Dari toko kelontong yang dulu hanya menjual sabun, mie, dan gula, dan perlengkapan lainnya kini berdiri sebuah konter layanan keuangan: BRILink Murah Jaya.

Suasana pagi itu bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol perjalanan panjang. Tiga tahun lalu, usaha kelontong mereka tersengal. “Omzetnya tidak menentu,” kenang Pak Sindrang. Ia lalu mencoba Fastpay, namun mayoritas ada keluhan dari para nasabahnya. Hingga suatu hari, dari radio mobil, ia mendengar iklan BRILink. Katanya lebih murah, lebih dekat.

BACA JUGA: Tak Lulus SD, Perempuan Desa Sukses Pertahankan Agen BRILink Kelas Juragan

Besoknya ia langsung ke cabang BRI, bertanya ke CS, dan mendapat nomor Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK). Proses berjalan cepat, dengan melengkapi persyarat yang telah ditentukan dengan saldo awal yang ia taruk sebesar Rp50 juta.

Dua warga sedang antri untuk melakukan transaksi tarik tunai di agen BRIlink Murah Jaya, Socah, Bangkalan

Awalnya hanya bermodalkan aplikasi di HP, tanpa mesin EDC. Katanya harus 300 transaksi per bulan untuk mendapat mesin. Tapi Pak Sindrang tidak main-main. Bulan pertama, transaksinya tembus seribu lebih. Dua bulan kemudian, mesin pertama datang. Enam bulan setelah daftar, statusnya langsung naik kelas Juragan. Mesin kedua pun dikirim. Dari aplikasi HP ke kelas Juragan, secepat itu.

“Orang heran, kok bisa secepat itu?” Pak Sindrang tersenyum kecil.

Jawabannya sederhana: “Saya cuma pindahkan pelanggan toko saya dulu ke BRILink.”

BACA JUGA: Jejak Ragu yang Berbuah Jawara: Kisah Agen BRILink Syarifah

Kepercayaan Warga

Puluhan tahun membuka toko kelontong membuatnya hafal wajah warga Socah dan sekitar satu per satu, tukang sayur, pemilik toko klontong, kurir paket, hingga TKI yang mengirim uang dari luar negeri. Kepercayaan itu sudah ia bangun lama.

Hari pertama buka: 60 transaksi. Kini rata-rata 150 transaksi per hari, dengan perputaran uang mencapai Rp300 juta.

“Kadang ada setoran Rp100 juta sekali masuk. Dari setengah tujuh pagi hingga jam sembilan malam, konter itu tak pernah sepi,” ucapnya.

Bu Nurul menambahkan dengan suara lembut, seolah meneguhkan perjalanan mereka: “Kami berdua menjaga usaha ini dengan hati. Kadang ada kendala, sinyal hilang atau saldo kurang, tapi kami belajar memberi solusi. Yang penting orang merasa aman. Kepercayaan itu lebih berharga dari apa pun.”

BACA JUGA: Dari Alergi Bank, Agen BRILink Menjadi Pusat Perbankan Warga Desa

Komentar warga pun menguatkan reputasi Murah Jaya. Jufri, warga Kauman Socah, berkata dengan nada puas:

“Kalau urusan transfer atau setor, saya lebih percaya ke Murah Jaya. Cepat, nggak ribet, dan kalau ada masalah selalu dibantu sampai selesai. Rasanya seperti dilayani keluarga sendiri.”

Toko agen BRILink Murah Jaya tampak depan

Apresiasi dari BRI

Dari sisi perbankan, apresiasi juga datang. Satria Maulana, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BRI BO Bangkalan, menilai Agen BRILink Murah Jaya memang layak melejit.

“Kalau Murah Jaya dari awal memang unggul. Lokasinya strategis di pusat keramaian, dekat pasar. Pelayanannya juga bagus, sehingga sangat menunjang untuk masuk ke kelas Juragan. Usia Pak Sindrang bukan halangan, malah makin matang. Dari pengalaman di Fastpay, beliau sudah melek teknologi. Itu jadi modal besar. Dari 913 agen aktif di Bangkalan, Murah Jaya termasuk yang menonjol,” kata Satria.

Menjaga Kepercayaan

Naik kelas cepat, tapi ujiannya juga datang cepat. Yang paling membuat jantung berdebar adalah transaksi berstatus “proses”. Uang nasabah sudah terpotong, tapi belum masuk ke rekening tujuan.

“Kalau saya kenal orangnya, saya talangi dulu pakai uang pribadi,” kata Pak Sindrang. Biar nasabah tenang, tidak curiga. Alhamdulillah, sampai sekarang selalu kembali.

Tepat di depan konternya berdiri BRI Teras. Namun, warga tetap memilih BRILink Murah Jaya.

“Mereka lebih suka cepat. Nggak antre lama,” ujarnya. Di situlah letak keunggulan pelayanan yang dekat dan sigap.

Infografis toko agen BRILink Murah Jaya

Kini sertifikat Juragan dari BRI terpajang di dinding. Sesekali Pak Sindrang ikut kumpul komunitas agen, berbagi cerita tentang saldo, sinyal, hingga dana talangan antaragen. Rencana ke depan sederhana, membuka cabang baru di sekitar Socah, sekaligus membuka lapangan kerja.

Ketika ditanya apa rasanya enam bulan langsung naik Juragan, Pak Sindrang terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan. “Senangnya kalau transaksi ramai. Itu artinya orang percaya sama saya.”

Dari toko kelontong yang tersengal, BRILink Murah Jaya melesat menjadi kelas Juragan. Warga Socah kini punya jawaban singkat setiap kali ingin transfer: “Ke Murah Jaya aja. Cepat.”

Kepercayaan yang dijaga dengan sepenuh hati, ternyata bisa mengangkat seseorang secepat cahaya. Dan di balik meja konter sederhana itu, ada sepasang suami-istri yang setiap pagi menyalakan pelita harapan bagi masyarakatnya dengan dukungan nasabah setia dan pengakuan resmi dari BRI.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....