Jawara BRILink Pulau Mandangin Mengubah Hidup Warga Pesisir
- 07 Jun 2026 22:18 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Pulau Mandangin, Sampang, dikenal dengan hasil lautnya yang melimpah. Namun di balik riuh ombak dan aroma ikan segar, ada kisah seorang lelaki sederhana yang menjembatani harapan warga dengan dunia perbankan. Namanya Abd. Muktadir, 43 tahun, pemilik kios klontong di Dusun Kramat, sekaligus pengepul hasil laut. Dari tempat kecil itulah ia menapaki jalan panjang hingga dipercaya sebagai Ketua Paguyuban BRILink se‑Kabupaten Sampang.
Tahun 2016, ketika BRI menawarkan program KUR mikro, Muktadir mengumpulkan tokoh masyarakat di Balai Desa. Dari sosialisasi itu, lahirlah tawaran untuk menjadi agen BRILink. Awalnya ia ragu.
BACA JUGA: Tak Lulus SD, Perempuan Desa Sukses Pertahankan Agen BRILink Kelas Juragan
“Orang tua dan mertua awalnya menolak karena dianggap berisiko besar,” kenangnya awal membuka Agen BRILink, Minggu 7 Juni 2026.
Menurutnya, jaringan internet pun masih lemah, transaksi harus dilakukan di lantai dua rumah atau di pinggir pantai.
“Seringkali saldo terpotong, tetapi uang tak kunjung masuk. Namun, saya tetap bertahan, dengan tekad bahwa masyarakat pulau harus merasakan kemudahan layanan perbankan,” kata Muktadir dengan nada optimis.

Promosi sederhana, kepercayaan yang tumbuh
Tanpa papan nama, ia memulai promosi dari mulut ke mulut. Warga bertanya: “Kalau narik uang di sini, aman tidak?” Pertanyaan itu dijawab dengan kesabaran. Ia mengedukasi, meyakinkan, dan perlahan menumbuhkan kepercayaan.
BACA JUGA: Dari Alergi Bank, Agen BRILink Menjadi Pusat Perbankan Warga Desa
Suka duka menjadi agen tak terhitung. Pernah salah transfer hingga puluhan juta karena salah input angka, namun nasabah beritikad baik mengembalikan kelebihan dana. Pernah pula transaksi Rp30 juta pending karena gangguan jaringan, meski penerima sudah mengonfirmasi uang masuk. “Itu karena sama-sama menjaga kepercayaan,” kenangnya.
Gangguan sinyal adalah cerita lama yang tak pernah dilupakan. Untuk menjaga nama baik, Muktadir rela mengeluarkan uang pribadi terlebih dahulu sebelum saldo masuk ke sistem. Keberanian itu membuat masyarakat tetap percaya, meski sistem kadang tak bersahabat.
Suara keluarga, karyawan dan warga pulau
Kini ia mengelola dua outlet BRILink. Istri dan anaknya, Ahmad Zainul Muttakin, yang sejak kelas 5 SD sudah terbiasa melayani nasabah, ikut membantu.
BACA JUGA: Kisah Sulton: Pemuda Desa Dari Sosmed ke BRIlink Kelas Jawara
“Awal-awal warga skeptis karena anak saya yang menangani. Namun, perlahan berubah menjadi keyakinan, ketika melihat anak kecil mampu melayani transaksi dengan cekatan,” ucapnya.
Dalam sehari, transaksi bisa mencapai 30–50 kali, dengan perputaran uang hingga 300–400 juta rupiah di musim ramai. Bahkan, ia juga melayani kiriman uang dari luar negeri, terutama dari keluarga yang merantau ke Arab Saudi dan Malaysia.
Di balik keteguhan Muktadir, ada doa dan dukungan dari sang istri, Lu’lu Annuroniyah. Dengan nada penuh ketulusan, ia berkata “Menjadi agen BRILink bukan hanya soal bisnis, tapi soal amanah. Saya melihat suami saya berjuang menjaga kepercayaan masyarakat, bahkan rela mengorbankan waktu istirahat demi melayani. Bagi kami, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengabdian.” Suara istri tercinta menjadi penguat, bahwa perjuangan ini adalah jalan pengabdian keluarga bagi masyarakat Pulau Mandangin.

Sementara itu, sang putra kedua, Ach. Zainul Muttaqin, menambahkan dengan polos namun penuh semangat “Dulu orang-orang tidak percaya kalau saya bisa melayani transaksi. Mereka ragu, tapi saya buktikan bisa. Sekarang saya senang bisa membantu ayah, melayani nasabah, dan membuat orang percaya bahwa anak muda juga bisa berperan,” ungkap Zainul Muttaqin dengan nada senang.
BACA JUGA: Jejak Ragu yang Berbuah Jawara: Kisah Agen BRILink Syarifah
Dari suara anak dan istri, terlihat jelas bahwa perjuangan Muktadir bukanlah perjalanan seorang diri, melainkan kisah keluarga yang bersama-sama menjaga amanah dan kepercayaan masyarakat Pulau Mandangin.
Tidak hanya keluarga, karyawannya pun merasakan hal yang sama. Malihah, salah satu karyawan yang sudah berkeluarga, mengungkapkan, Bekerja bersama Abah Muktadir membuatnya merasa nyaman.
“Beliau tidak hanya memikirkan usaha, tapi juga kesejahteraan karyawan. Saya bisa membantu ekonomi keluarga, sekaligus belajar banyak tentang dunia perbankan. Rasanya seperti bekerja sekaligus belajar,” kata Malihah yang sudah lama bersama abah Muktadir.
Nanang Ibrahim, salah seorang warga Pulau Mandangin, mengaku kehadiran layanan BRILink benar‑benar mengubah cara masyarakat pulau dalam bertransaksi.
“Dulu kalau mau kirim uang atau ambil tabungan, kami harus ke kota. Itu butuh waktu setengah hari, ongkos kapal dan beca tidak sedikit. Sekarang cukup di kampung, lebih cepat, aman, dan tidak merepotkan. Kehadiran BRILink membuat kami merasa lebih dekat dengan dunia perbankan,” ungkapnya dengan wajah lega.
Dari perwakilan ke ketua paguyuban
Sebelum ada paguyuban nasional, Muktadir sering dipercaya mewakili Sampang dalam acara di Kanwil Surabaya. Ia ikut mempelopori terbentuknya Paguyuban BRILink di Surabaya bersama agen senior lain tahun 2017.
“Saya sempat menolak menjadi ketua karena mobilitas terbatas sebagai warga kepulauan. Namun, setelah terjadi persoalan di kepengurusan, saya akhirnya ditunjuk dan terpilih sejak tahun 2020 resmi menjadi Ketua Paguyuban BRILink Sampang dengan membawai 674 agen aktif Se Kabupaten Sampang,” ujarnya.
Suka duka seorang ketua
Menjadi ketua berarti harus stand by 24 jam. Meski sudah ada grup WhatsApp, banyak anggota lebih nyaman bertanya langsung secara pribadi.
“Kadang jam istirahat saya terganggu, tapi bagaimana lagi, tanggung jawab sebagai ketua harus tetap dilayani,” ujarnya. Setiap hari ada saja telepon dari anggota, mulai dari pengaduan hingga pertanyaan menu-menu BRILink, asuransi, pinjaman, sampai pembukaan rekening baru.

Apresiasi dari BRI
Apresiasi juga datang dari Vini Dwi Jayanti, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BO BRI Sampang). Ia mengungkapkan peran Abah Muktadir sangat besar. Sebagai ketua, beliau membantu saya menghandle agen-agen di Sampang.
“Karena petugas resmi hanya saya seorang. Kehadiran beliau membuat koordinasi lebih ringan dan terarah,” ungkapnya.
Selain itu kata Vini, beliau bersama pengurus lain seperti Mbak Mayang, selalu siap turun tangan ketika ada kesalahpahaman antaragen.
“Beliau menjadi penengah yang bijak, sehingga masalah bisa selesai tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan,” kata Vini.
Lebih jauh, Vini menjelaskan, peran beliau juga sangat penting sebagai jembatan antara petugas BRI dengan agen-agen di masyarakat. Aspirasi anggota bisa tersampaikan, sementara kebijakan dari manajemen dapat diterima dengan lebih jelas oleh para agen.
“Meski hanya berstatus kelas Jawara dengan dua outlet di Pulau Mandangin, konsistensi Abah Muktadir luar biasa. Wilayah pulau memang terbatas, jumlah penduduknya juga segitu, tapi beliau tetap menjaga kualitas layanan dan mempertahankan kepercayaan masyarakat hingga sekarang,” Kata Vini dengan mengakhiri.
Dengan dua outlet berstatus kelas Jawara, Abd. Muktadir membuktikan bahwa agen BRILink bukan sekadar bisnis, melainkan pengabdian. Ia menjadi jembatan keuangan bagi masyarakat pesisir, sekaligus penghubung aspirasi anggota dengan manajemen BRI. Dari Pulau Mandangin, lahirlah seorang jawara BRILink yang menjaga kepercayaan, memperjuangkan aspirasi, dan menggerakkan perubahan di dunia perbankan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....