Tak Lulus SD, Perempuan Desa Sukses Pertahankan Agen BRILink Kelas Juragan
- 05 Jun 2026 22:54 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Di Dusun Batu Nudung, Desa Karang Penang, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, Madura, kisah Ibu Manepah atau akrab disapa Mbak Mayang menjadi inspirasi. Usianya kini 42 tahun, dan meski hanya menempuh pendidikan hingga kelas dua SD, ia mampu bertahan dan bahkan naik kelas menjadi Agen BRILink Juragan.
Sebelum dikenal sebagai pemilik Agen BRILink Kembar Mayang yang berlokasi di pertokoan Pasar Karang Penang, kesehariannya diisi dengan menjahit pakaian tetangga dan sesekali menjadi tukang ojek. Hidupnya penuh kerja keras, berputar antara mesin jahit, jalanan desa, dan dapur rumah serta kuli genteng.
BACA JUGA: Jejak Ragu yang Berbuah Jawara: Kisah Agen BRILink Syarifah
Tahun 2015 menjadi titik balik. Seorang mantri bank datang berkali-kali menawarkan peluang menjadi agen BRILink. Selama enam bulan ia ragu, bahkan sempat dicibir tetangga.
“Saya ini tak lulus SD, jadi awalnya takut, tidak paham,” kenangnya. Jum’at, 5 Juni 2026. Ia bahkan sempat mengira mesin EDC sebesar ATM, sehingga merasa tidak sanggup. Namun dorongan keluarga membuatnya berani menerima tantangan.
Modal KUR BRI dan Cibiran Tetangga
Modal awalnya berasal dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Dari Rp10 juta, naik bertahap menjadi Rp15 juta, Rp20 juta, hingga Rp25 juta. Dengan modal itu, ia mulai menjalankan agen BRILink sambil tetap menjahit dan mengojek.
BACA JUGA: Dari Alergi Bank, Agen BRILink Menjadi Pusat Perbankan Warga Desa
Namun perjalanan tidak selalu mulus. “Dulu itu saya pas buka Agen BRILink dapat banyak cibiran dari tetangga, sampai ada yang bilang saya ini nggak bisa nulis, nggak pintar baca, kok berani jadi agen,” ujarnya mengenang cibiran tetangga. Tetapi cibiran itu justru menjadi bahan bakar semangatnya.

Kisah Duka, Suka, dan Cerita Lucu
Saat pertama membuka agen, banyak warga tidak langsung datang bertransaksi. “Kan dulu itu banyak yang nggak punya ATM, jadi kalau bikin rekening, saya yang bikinin. Cuma pakai KTP, nanti kartunya diambil ke rumah saya,” kenangnya.
Ada pula cerita lucu yang menggemaskan. Suatu saat, seorang tetangga datang dengan wajah bingung, mengira mesin EDC milik Mbak Mayang bisa mengeluarkan uang seperti ATM besar.
BACA JUGA: Kisah Sulton: Pemuda Desa Dari Sosmed ke BRIlink Kelas Jawara
“Tak kirain mesinnya kayak ATM, ternyata kecil cuma di rumah,” ujarnya sambil tertawa. Ada juga yang menggoda, “Mbak Mayang ini tahu nulis nol saja tidak, kok berani jadi agen.” Candaan itu dulu terasa pedih, tapi kini menjadi kenangan manis yang membuatnya tersenyum.
Aktif Ikut Seminar dan Pelatihan BRI
Selain menjalankan agen, Mbak Mayang rajin mengikuti seminar dan pelatihan yang diadakan BRI. Ia hadir di berbagai kegiatan, bahkan ketika harus menempuh perjalanan jauh.
“Sepenting ilmunya saya dapat, meskipun nggak dapat duit, nggak apa-apa,” katanya.
BACA JUGA: Agen BRIlink di Kampung, Jembatan Keuangan Warga Pelosok
Seminar-seminar itu memberinya bekal pengetahuan tentang layanan perbankan, cara melayani nasabah, hingga strategi menjaga kepercayaan masyarakat. Dari sana, ia belajar bahwa menjadi agen bukan sekadar bisnis, melainkan amanah untuk membantu orang desa agar lebih mudah mengakses layanan keuangan.
Pertahan Agen Kelas Juragan
Perjalanan waktu pun membuahkan hasil. “Alhamdulillah, sekarang saya bisa bangun rumah, beli mobil, anak-anak bisa sekolah,” ujarnya dengan mata berbinar.
Setiap bulan, transaksi di agennya mencapai Rp10–12 juta, dengan rata-rata 200 transaksi per hari. Tarik tunai, setor tunai, transfer antar bank, hingga pembayaran cicilan. Perputaran uang di agennya kini bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar per hari, bahkan menembus Rp30 miliar per bulan.
Agen BRILink Kembar Mayang kini dikelola bersama suami dan anak-anaknya, dengan tiga mesin EDC yang terus beroperasi.
Sejumlah Penghargaan dari BRI
Kerja kerasnya tidak hanya diakui masyarakat, tetapi juga oleh BRI. Selama menjadi agen, Mbak Mayang telah menerima berbagai penghargaan: Emas batangan (2gram dan 4 gram, diberikan dua kali), Handphone sebagai bentuk apresiasi, Televisi untuk mendukung aktivitas keluarga. Sertifikat resmi dari BRI sebagai pengakuan atas pencapaiannya.

“Kalau pengahargaan dari BRI Alhamduliah sudah banyak, dan saya pajang foto-foto dan sertifikat di outlet ini, agar nasabah tambah percaya,” celetuknya dengan sedikit ketawa bahagia.
Penghargaan-penghargaan itu menjadi simbol perjalanan panjangnya, dari seorang perempuan desa yang dulu diremehkan, hingga kini menjadi agen teladan.
Kerjasama dengan Minimarket dan Usaha Lokal
Tak hanya melayani warga desa, Mbak Mayang juga menjalin kerjasama dengan sejumlah minimarket dan toko material bangunan terdekat di Pasar Karang Penang. Ia menjadi mitra utama dalam transaksi keuangan mereka, mulai dari pembayaran supplier hingga layanan transfer.

“Kalau di outlet lain kadang saldo kosong, tapi di saya tetap dilayani. Kalau kurang saldo, saya pinjam ke teman BRILink lain jadi kolabirasi, yang penting nasabah tidak kecewa,” jelasnya.
Kerjasama ini membuat agen BRILink Kembar Mayang semakin dipercaya, bukan hanya oleh masyarakat kecil, tetapi juga oleh pelaku usaha lokal. Kolaborasi dengan minimarket dan toko besar menjadikan agennya sebagai pusat layanan keuangan yang vital di kawasan pasar.
Kesuksesan ini tidak lepas dari dukungan sang suami, Abd Muin, yang kini ikut mengelola agen bersama Mbak Mayang. Dengan ramah, ia melayani warga setiap hari, memastikan transaksi berjalan lancar.
“Saya dan Mayang selalu sejalan. Kami berdua berkomitmen untuk melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Kalau Mayang sibuk melayani di depan, saya ikut membantu di belakang. Prinsip kami sama: jujur, ramah, dan konsisten. Agen ini bukan hanya usaha, tapi ladang ibadah, karena setiap transaksi berarti membantu orang desa,” ungkap Abd Muin dengan senyum tulus.
Suara dari BRI
Meski hanya menempuh pendidikan hingga kelas dua SD, ia berhasil membuktikan diri sebagai Agen BRILink Juragan nomor satu se-Branch Office Sampang.
Menurut Vini Dwi Jayanti, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BO BRI Sampang, Agen BRILink Kembar Mayang menempati posisi teratas dari 674 agen aktif se Kabupate Sampang karena jumlah transaksinya paling banyak. Fee yang dihasilkan untuk agen pun tertinggi, dan fee base income yang didapatkan BRI juga paling besar berasal dari Kembar Mayang.
“Satu itu Mbak Mayang. Agen BRI Sampang nomor satu,” tegas Vini.

Ia menambahkan, sejak awal bergabung, Mbak Mayang konsisten mempertahankan kelas Juragan, meski kini banyak agen baru bermunculan di sekitar Pasar Karangpenang. Ketekunan, kejujuran, dan pelayanan ramah membuatnya tetap dipercaya masyarakat.
“Bukan hanya bertahan, tetapi juga berkembang, menjadikan agennya pusat layanan keuangan yang vital bagi warga desa maupun pelaku usaha local,” kata Vini sapaan akrab perempuan berjilbab itu.
Pesan Inspirasi dari Mbak Mayang
Lebih dari sekadar angka, kisah Mbak Mayang adalah tentang konsistensi dan kejujuran.
“Harus konsisten, jujur, disiplin, dan ramah sama orang,” pesannya. Ia tak pernah lupa jasa para mantri yang dulu sabar menemaninya, terutama Pak Samhari dan Pak Dadang, yang pertama kali memberi semangat.
Kini, dari seorang perempuan desa yang tak lulus SD, Mbak Mayang menjelma menjadi Agen BRILink Juragan nomor satu di Sampang. Di pasar Karang Penang, tempat ia membuka usaha, warga, pedagang besar, hingga minimarket mempercayakan transaksi mereka padanya.
Bahkan kerjasama dengan toko material dan jaringan usaha lokal semakin memperkuat posisinya. Ia pun melayani transaksi lintas daerah, bahkan hingga ke Malaysia, membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat telah melampaui batas desa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....