Anak Krakatau, Gunung Muda dengan Sejarah Erupsi Mematikan

  • 07 Sep 2026 15:01 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta – Nama Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian ketika aktivitas vulkaniknya meningkat. Namun, di balik statusnya sebagai salah satu gunung api aktif di Indonesia, Anak Krakatau menyimpan sejarah geologi yang unik. Gunung ini sebenarnya merupakan “anak” dari Krakatau yang mengalami letusan dahsyat pada 1883 dan kemudian tumbuh kembali di kawasan kaldera tersebut. Badan Geologi mencatat Anak Krakatau merupakan gunung api tipe A yang berada di perairan Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra.

Sejarah Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari erupsi Krakatau 1883, salah satu letusan vulkanik terbesar dalam catatan sejarah modern. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature menyebut erupsi tersebut menghasilkan endapan piroklastik dalam jumlah besar dan tsunami destruktif. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat lebih dari 36.000 orang meninggal dalam bencana tersebut, sebagian besar akibat tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra.

Setelah Krakatau runtuh, aktivitas vulkanik kembali membangun sebuah kerucut baru di dalam kaldera. Kemunculan Anak Krakatau mulai terlihat di atas permukaan laut pada akhir 1927 dan terus berkembang melalui berbagai episode erupsi. Smithsonian mencatat, sejak 1927 Anak Krakatau mengalami banyak aktivitas berupa semburan abu, lontaran material pijar, dan aliran lava yang secara perlahan membentuk pulau vulkanik baru.

Salah satu babak paling dramatis terjadi pada 22 Desember 2018. Setelah berbulan-bulan mengalami aktivitas erupsi, sebagian sisi Anak Krakatau mengalami longsoran atau keruntuhan ke arah laut. Penelitian dalam Nature Communications menemukan adanya peningkatan aktivitas vulkanik dan pergerakan lereng sebelum keruntuhan tersebut. Peristiwa itu kemudian memicu tsunami yang menerjang pesisir di sekitar Selat Sunda.

Penelitian lain dalam jurnal Scientific Reports memperkirakan tsunami 2018 mencapai tinggi hingga sekitar 13 meter di sejumlah pesisir Jawa dan Sumatra. Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya 437 orang meninggal dunia. Kajian ilmiah itu menunjukkan bahwa tsunami tidak selalu harus diawali gempa bumi besar karena runtuhan tubuh gunung api ke laut juga dapat menggeser air dalam jumlah besar dan menghasilkan gelombang tsunami.

Menariknya, penelitian terhadap peristiwa 2018 juga menunjukkan bahwa Anak Krakatau tidak berhenti beraktivitas setelah sebagian tubuhnya runtuh. Kajian di Earth and Planetary Science Letters merekonstruksi rangkaian erupsi sebelum dan sesudah keruntuhan berdasarkan data satelit, seismik, infrasonik, dan kesaksian warga. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas erupsi intens telah berlangsung sekitar delapan jam sebelum keruntuhan dan berlanjut setelah kejadian tersebut.

Kini, sejarah panjang tersebut menjadi pengingat bahwa Anak Krakatau bukan sekadar gunung api yang tumbuh dari reruntuhan Krakatau, tetapi juga bagian dari sistem vulkanik yang terus berubah. Badan Geologi melaporkan pada 5 September 2026 bahwa Anak Krakatau mengalami fenomena erupsi menerus dan pengamatan dilakukan melalui pos pemantauan di Kalianda, Lampung Selatan, serta Pasauran, Banten. Sejarah erupsi Krakatau 1883 dan tsunami Anak Krakatau 2018 menunjukkan pentingnya pemantauan gunung api, kesiapsiagaan masyarakat pesisir, serta pemahaman bahwa bahaya vulkanik dapat berkembang menjadi rangkaian bencana seperti longsoran dan tsunami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....