Rezeki Banyak Belum Tentu Berkah, Ini Cara Islam Memaknainya
- 04 Sep 2026 15:20 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Rezeki yang banyak belum tentu menjadi nikmat. Umur yang panjang belum tentu menghadirkan ketenangan, dan ilmu yang tinggi belum tentu bernilai jika tidak memberi manfaat.
Pesan itu menjadi inti khutbah Jumat Ustaz H. Rusdi Abdullah, di Masjid Negara Ibu Kota Nusantara, Jumat, 4 September 2026.
Dosen Studi Islam Program Doktor UIN Samarinda tersebut mengajak jemaah tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana memperoleh lebih banyak rezeki. Lebih dari itu, umat perlu bertanya bagaimana agar apa yang dimiliki menjadi berkah.
Rusdi mengawali khutbah dengan mengingatkan pentingnya iman dan takwa sebagai jalan memperoleh keberkahan. Ia merujuk Surah Al-A'raf ayat 96 yang menyebutkan bahwa apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi.
Dalam ayat tersebut terdapat frasa “lafatahna ‘alaihim barakatim minas-sama’i wal-ard”. Rusdi memberi perhatian khusus pada kata lafatahna yang berarti membukakan, bukan sekadar memberikan.
Menurut dia, gambaran tersebut menunjukkan bahwa keberkahan bukan sekadar sesuatu yang ditambahkan ke dalam kehidupan manusia. Ada pintu yang perlu dibuka, dan iman serta takwa menjadi bagian dari jalan menuju keberkahan itu.
Keberkahan Tidak Selalu Berarti Banyak
Rusdi kemudian membawa konsep keberkahan ke persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, berkah tidak selalu ditandai dengan jumlah yang besar.
Sesuatu yang sedikit, tetapi mampu mencukupi kebutuhan dan membawa ketenangan, dapat menjadi bentuk keberkahan. Sebaliknya, sesuatu yang melimpah tetapi menjauhkan manusia dari Allah justru dapat berubah menjadi ujian.
Ia memberi sejumlah gambaran sederhana. Makanan yang tidak mewah tetapi dinikmati bersama keluarga dengan rasa syukur dapat menjadi nikmat.
Umur yang tidak panjang pun dapat bernilai apabila digunakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan diridai Allah. Begitu pula ilmu yang mungkin tidak banyak, tetapi diamalkan dan memberi manfaat kepada orang lain.
Dari sini, keberkahan tidak lagi hanya berbicara mengenai ukuran materi. Keberkahan berkaitan dengan manfaat, kecukupan, ketenangan, dan hubungan manusia dengan Allah.
Karena itu, Rusdi mengajak jemaah mengubah cara berdoa. Bukan hanya meminta tambahan rezeki, tetapi memohon agar apa yang telah diberikan Allah mendapatkan keberkahan.
Doa yang ia contohkan adalah “Allahumma barik lana fi ma a'taitana”, yang bermakna memohon agar Allah memberkahi apa yang telah diberikan.
Ketika Banyak Justru Menjadi Ujian
Pesan tersebut menjadi relevan ketika ukuran keberhasilan manusia sering kali diletakkan pada banyaknya harta, tingginya jabatan, popularitas, atau pencapaian materiall.
Rusdi mengingatkan bahwa ukuran tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kenikmatan. Harta yang banyak, tetapi membuat seseorang meninggalkan salat, tidak serta-merta menjadi nikmat.
Begitu pula jabatan yang tinggi jika melahirkan kesombongan dan popularitas yang besar apabila justru menjauhkan seseorang dari Allah. Dalam perspektif keberkahan, nilai sesuatu tidak hanya dilihat dari seberapa banyak yang diperoleh, tetapi apa yang dilakukan manusia dengan apa yang dimilikinya.
Pandangan ini juga membawa konsekuensi pada cara seorang muslim mencari rezeki. Menurut Rusdi, keinginan mendapatkan rezeki harus berjalan bersama perhatian terhadap kehalalan cara memperolehnya.
Ia mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW tentang perkara halal, haram, dan syubhat. Hadis tersebut menjelaskan bahwa perkara halal dan haram telah jelas, sementara di antara keduanya terdapat perkara yang samar dan sebaiknya dihindari.
Pesannya menjadi penting karena persoalan keberkahan tidak berhenti pada jumlah pendapatan. Sumber pendapatan dan cara memperolehnya juga menjadi bagian dari pertanggungjawaban seorang muslim.
Rusdi mengingatkan agar umat tidak berharap keberkahan dari sesuatu yang diperoleh melalui cara yang tidak halal. Begitu pula usaha yang dibangun dengan kezaliman atau ilmu yang tidak diamalkan tidak semestinya hanya dinilai dari hasil materialnya.
Keberkahan Dimulai dari Evaluasi Diri
Pada bagian berikutnya, khutbah bergerak dari persoalan rezeki menuju muhasabah. Rusdi mengajak jemaah tidak terburu-buru menyalahkan keadaan ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Sebaliknya, seseorang perlu kembali melihat dirinya sendiri.
Bagaimana kualitas salatnya? Bagaimana hubungannya dengan Allah? Bagaimana hubungan dengan orang tua dan pasangan? Bagaimana cara memperoleh rezeki? Bagaimana amanah jabatan dijalankan?
Pertanyaan itu kemudian diperluas hingga hubungan dengan anak dan tetangga. Bagi Rusdi, keberkahan kehidupan juga tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan orang-orang yang berada paling dekat dengannya.
Ia mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang memuliakan tetangga sebagai bagian dari iman kepada Allah dan hari akhir. Prinsip tersebut menunjukkan bahwa kesalehan tidak hanya berada di ruang ibadah, tetapi juga hadir dalam hubungan sosial sehari-hari.
Karena itu, muhasabah yang ditawarkan bukan sekadar introspeksi atas kesalahan pribadi. Ia menjadi cara untuk melihat kembali apakah iman dan takwa benar-benar telah memengaruhi perilaku manusia.
Dari Masjid Menuju Kehidupan Nyata
Ada satu benang merah yang kuat dalam khutbah Rusdi: keberkahan tidak cukup diminta, tetapi harus diupayakan melalui cara hidup.
Iman membuat manusia menyadari bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu. Manusia tetap bekerja, mencari rezeki dan mengejar cita-cita, tetapi tidak menjadikan pekerjaan atau materi sebagai tempat bergantung sepenuhnya.
Sementara takwa menjadi pengarah perilaku. Manusia berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, termasuk dalam mencari rezeki, menggunakan jabatan, membangun keluarga, mendidik anak, dan memperlakukan orang lain.
Dalam kerangka itu, keberkahan menjadi konsep yang jauh lebih luas daripada kesejahteraan material.
Seseorang mungkin memiliki harta yang tidak terlalu banyak, tetapi hidupnya cukup dan tenang. Seseorang mungkin tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi amanahnya memberi manfaat. Seseorang mungkin tidak memiliki usia panjang, tetapi kehidupannya meninggalkan kebaikan.
Di situlah pesan khutbah Rusdi menemukan relevansinya dengan kehidupan modern. Manusia sering sibuk menghitung apa yang bertambah, tetapi lupa menghitung apa yang memberi manfaat.
Padahal, menurut pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut, keberkahan justru terletak pada kemampuan menjadikan apa yang dimiliki sebagai jalan mendekat kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama.
Keberkahan untuk Diri dan Lingkungan
Jika gagasan tersebut ditarik ke kehidupan bermasyarakat, keberkahan tidak hanya menjadi persoalan personal. Cara seseorang mencari penghasilan, menjalankan pekerjaan, menggunakan jabatan, mendidik keluarga, hingga memperlakukan tetangga turut menentukan kualitas kehidupan bersama.
Maka, pesan tentang iman dan takwa dalam khutbah tersebut memiliki dimensi sosial. Keberkahan tidak berdiri sendiri ketika kehidupan seseorang bersinggungan dengan kehidupan orang lain.
Masyarakat yang mengejar kekayaan tanpa memperhatikan kehalalan, jabatan tanpa amanah, atau ilmu tanpa pengamalan dapat menghasilkan kemajuan yang secara angka terlihat besar, tetapi belum tentu menghadirkan ketenteraman.
Sebaliknya, ketika harta dicari dengan cara yang halal, jabatan dijalankan sebagai amanah, ilmu diamalkan, keluarga dirawat, dan tetangga dihormati, keberhasilan memperoleh ukuran yang lebih luas.
Pada akhirnya, khutbah Jumat di Masjid Negara IKN itu mengajak jemaah pulang dengan satu pertanyaan sederhana, tetapi mendasar: bukan hanya berapa banyak yang telah kita miliki, melainkan apakah semua itu telah menjadi berkah.
Sebab, sebagaimana pesan Surah Al-A'raf ayat 96 yg menjadi pijakan khutbah,, keberkahan dikaitkan dengan iman dan takwa. Tugas manusia kemudian bukan sekadar mengejar tambahan, tetapi memperbaiki cara hidup agar apa yang telah diberikan Allah memiliki manfaat dan membawa kebaikan. (Dakwah bil Qalam)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....