Kemarau di Sungai Siring Mulai Berdampak, Petani Kesulitan Air hingga Tanaman Mati
- 04 Sep 2026 08:24 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Musim kemarau mulai dirasakan masyarakat di Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda. Selain meningkatkan risiko kebakaran lahan, kondisi panas dan kering juga berdampak terhadap sektor pertanian serta ketersediaan air bagi masyarakat.
Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Samarinda Utara, Salim, mengatakan dampak kemarau paling dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian. Kekeringan membuat para petani mulai mengalami kesulitan mendapatkan air untuk mengairi lahan.
“Terutama di kalangan para petani ini yang sangat kasihan. Rata-rata petani sudah mengeluhkan kesulitan air. Bahkan untuk persiapan air bersih, kami di Sungai Siring ini juga mulai kesulitan,” ujar Salim dalam program Kentongan RRI, Selasa 1 September 2026.
Menurut Salim, kondisi tersebut terjadi meskipun musim kemarau yang berlangsung belum terlalu panjang. Ia menyebut, wilayah Sungai Siring telah mengalami sekitar 33 hari tanpa hujan. Kondisi tersebut membuat panas semakin terasa dan ketersediaan air di sejumlah sumber mulai berkurang.
“Sebetulnya kemarau kita ini belum terlalu panjang, hanya baru satu bulan tiga hari, sekitar 33 hari tidak ada hujan,” ucapnya.
Dampak kekeringan juga mulai terlihat pada lahan pertanian. Sejumlah tanaman yang membutuhkan pasokan air cukup tidak mampu tumbuh dengan baik. Bahkan, beberapa tanaman dilaporkan mengalami kerusakan akibat kekurangan air.
“Para petani ini, walaupun mengandalkan alam, sudah tidak mampu. Padi tidak berhasil, sayuran juga begitu, tanam jagung banyak yang mati,” kata Salim.
Kondisi tersebut membuat petani harus mencari sumber air alternatif untuk mempertahankan tanaman yang masih dapat diselamatkan. Salah satu sumber yang masih diandalkan adalah air sungai yang berada di sekitar wilayah Sungai Siring.
Salim menjelaskan, terdapat aliran sungai yang merupakan bagian dari hulu Sungai Karang Mumus. Di sekitar aliran tersebut terdapat sejumlah lahan pertanian yang selama ini memanfaatkan air sungai untuk memenuhi keperluan pengairan.

“Yang ada tetap kita mengandalkan sisa air yang ada, yaitu air sungai. Di Sungai Siring ada salah satu sungai yang merupakan hulu Sungai Karang Mumus. Di tepi sungai itu banyak para petani,” ujar Salim.
Namun, kondisi sejumlah anak sungai juga mulai mengkhawatirkan. Aliran air yang sebelumnya dapat dimanfaatkan petani mulai berkurang, bahkan beberapa di antaranya tidak lagi mengalir akibat kondisi kemarau.
“Air-air yang tadinya dari anak hulu sungai tadi, banyak yang sudah tidak mengalir lagi,” ucapnya.
Selain berdampak pada pertanian, kemarau juga mulai memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat. Untuk kebutuhan air minum, Salim mengatakan warga masih relatif aman karena sebagian masyarakat mengandalkan air minum isi ulang.
“Untuk kebutuhan air minum masih cenderung aman karena kami mengandalkan air isi ulang,” kata Salim.
Namun, pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan warga. Menurut Salim, jaringan air PDAM baru menjangkau kawasan tertentu, terutama di sepanjang jalan poros. Bahkan, aliran air di sejumlah wilayah mulai tidak berjalan optimal.
“Air PDAM itu hanya mengaliri sepanjang jalan poros. Di dalam koridor pun sudah mulai mati-mati,” ujarnya.
Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan karena adanya penjadwalan distribusi air, melainkan aliran air yang memang tidak sempurna selama musim kemarau. Kondisi itu membuat sejumlah fasilitas umum harus mencari sumber air alternatif.
“Bukan penjadwalan, tetapi mengalirnya tidak sempurna. Salah satu contoh, di masjid kami airnya akhirnya mengandalkan air sungai kalau PDAM tidak mampu memenuhi,” ucap Salim.
Kondisi yang terjadi di Sungai Siring menjadi gambaran bahwa dampak musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Kekeringan juga dapat berpengaruh terhadap produktivitas pertanian dan pemenuhan kebutuhan air masyarakat.
Salim berharap kondisi tersebut menjadi perhatian bersama. Masyarakat perlu menghemat penggunaan air, sementara pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat mengantisipasi kemungkinan kekurangan air apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Dengan kondisi sekitar 33 hari tanpa hujan, kewaspadaan masyarakat Sungai Siring dinilai perlu terus ditingkatkan. Selain menjaga ketersediaan air, warga juga diharapkan tetap menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran di tengah kondisi lahan yang semakin kering.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....