AI dan Smart Pilotage Berkembang, Kompetensi Pandu Tetap Jadi Penentu Keselamatan
- 02 Sep 2026 12:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Perkembangan teknologi maritim mendorong perubahan dalam sistem pemanduan kapal, tetapi peran pandu tetap dibutuhkan untuk menjaga keselamatan pelayaran. Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Kongres International Maritime Pilots’ Association atau IMPA ke-27 di Bali.
Kongres berlangsung pada 24–28 Agustus 2026 di The Apurva Kempinski Bali, Nusa Dua. Forum internasional tersebut mempertemukan para pandu dari berbagai negara untuk membahas keselamatan pemanduan, perkembangan teknologi, regulasi, lingkungan, dan kompetensi profesi.
Salah satu isu yang dibahas ialah pemanfaatan teknologi dalam aktivitas pemanduan yang memiliki risiko keselamatan tinggi. Perkembangannya mencakup remote pilotage, kecerdasan buatan atau AI, serta sistem pendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Direktur Utama PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) Arief Hermawan mengatakan teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat kemampuan pandu, bukan menggantikan perannya dalam memastikan keselamatan navigasi.
“Pandu tetap menjadi bagian penting dalam memastikan keselamatan navigasi kapal. Perkembangan teknologi bukan untuk menghilangkan peran pandu, tetapi menjadi instrumen untuk memperkuat kompetensi,” ujar Arief.
Menurutnya, penggunaan teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia. Pandu tidak hanya dituntut memahami navigasi dan karakteristik perairan, tetapi juga mampu menggunakan sistem digital dan membaca informasi berbasis data.
Kemampuan tersebut semakin penting seiring berkembangnya konsep smart pilotage. Sistem ini memanfaatkan data maritim secara waktu nyata, Automatic Identification System (AIS), Vessel Traffic Service (VTS), e-navigation, hingga analitik prediktif untuk mendukung proses pemanduan.
Namun, penggunaan teknologi tidak dapat diterapkan secara seragam pada seluruh wilayah perairan. Kondisi alur pelayaran, karakteristik perairan, jenis kapal, hingga tingkat risiko menjadi faktor yang harus diperhitungkan sebelum suatu teknologi diterapkan.
“Pada wilayah atau alur yang memiliki risiko tinggi, aspek keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama. Teknologi harus diterapkan secara terukur sesuai karakteristik perairan dan hasil penilaian risiko,” kata Arief.
Dalam kondisi tertentu, keberadaan pandu secara langsung di atas kapal tetap diperlukan. Pertimbangan tersebut berkaitan dengan kemampuan pandu mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual di lapangan yang tidak seluruhnya dapat digantikan oleh sistem digital.
Transformasi teknologi juga mengubah kebutuhan kompetensi seorang pandu. Selain kemampuan ship handling, navigasi, pengetahuan lokal mengenai perairan, dan penilaian risiko, pandu perlu memahami teknologi navigasi digital dan interpretasi data.
PJM mengikutsertakan 10 pandu dalam Kongres IMPA 2026. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan dan pengalaman para pandu mengenai perkembangan praktik pemanduan di berbagai negara.
Arief menilai forum internasional diperlukan karena perubahan teknologi maritim berlangsung cepat. Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai negara dapat menjadi bahan pembelajaran untuk melihat kesiapan sistem pemanduan di Indonesia.
“Teknologi dan kompetensi manusia harus tumbuh bersama. Semakin maju sistem yang digunakan, semakin tinggi pula kompetensi yang dibutuhkan seorang pandu,” ujarnya.
Perkembangan e-pilotage juga menjadi bagian dari perubahan tersebut. Teknologi digital dapat membantu proses pemanduan, tetapi penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi dan tingkat risiko setiap wilayah operasional.
Dengan demikian, transformasi digital dalam pemanduan bukan sekadar persoalan penggunaan perangkat baru. Faktor manusia, kesiapan kompetensi, karakteristik perairan, serta penilaian risiko tetap menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan.
Bagi keselamatan pelayaran, pendekatan tersebut penting karena keputusan dalam proses pemanduan berhubungan langsung dengan pergerakan kapal dan kondisi perairan. Teknologi dapat memperkaya informasi yang tersedia bagi pandu, tetapi keputusan tetap membutuhkan kompetensi dan pertimbangan profesional.
Kongres IMPA ke-27 mengangkat tema “Navigating Maritime Safety Towards Global Sustainability”. Pembahasan dalam forum tersebut menempatkan keselamatan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya modernisasi dan keberlanjutan industri maritim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....