Perumdam Samarinda Siapkan Antisipasi jika Intrusi Air Asin Kembali Terjadi

  • 18 Sep 2026 10:31 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kondisi intrusi air asin yang sebelumnya memengaruhi sumber air baku Perumdam Tirta Kencana Kota Samarinda kini telah kembali normal. Meski demikian, Perumdam tetap menyiagakan seluruh instalasi pengolahan air atau IPA untuk mengantisipasi kemungkinan intrusi kembali terjadi jika hujan belum turun dalam waktu mendatang.

Direktur Teknik Perumdam Tirta Kencana Kota Samarinda, Kaharuddin, mengatakan kondisi kadar klorida di Sungai Mahakam saat ini telah berada pada kondisi normal. Kadar klorida tercatat berada di bawah 225, dengan pengecualian wilayah Bentuas yang masih membutuhkan perhatian karena kondisi sungainya.

“Alhamdulillah kondisi intrusi air asin normal kembali. Cuma perlu diantisipasi mungkin untuk 10 hari ke depan atau 10 minggu ke depan jika tidak ada hujan,” kata Kaharuddin saat rapat hearing Komisi III DPRD Kota Samarinda di Ruang Rapat Utama Lantai 2 DPRD Kota Samarinda, pada Rabu 16 September 2026.

Kaharuddin menjelaskan, seluruh IPA Perumdam saat ini masih dalam kondisi siaga dan tetap dibuka untuk memastikan pelayanan dapat berjalan apabila terdapat wilayah yang masih terdampak. Namun, karena pengaliran air sudah mulai normal, fasilitas tersebut tidak lagi banyak dimanfaatkan warga seperti saat terjadi gangguan akibat intrusi air asin.

Kondisi berbeda masih terjadi di Bantuas. Menurut Kaharuddin, karakter sungai yang pendek dan tidak mendapatkan dorongan air dari anak sungai membuat wilayah tersebut masih bergantung pada hujan untuk membantu menormalkan kondisi sumber air.

“Kalau Bantuas karena sungainya pendek, tidak ada dorongan dari anak sungainya, itu harus menunggu hujan. Jadi kita tetap operasikan dengan catatan ada perjanjian dengan warga untuk MCK saja, tidak untuk konsumsi,” ucapnya.

Untuk kebutuhan air minum warga Bentuas, Perumdam memasok air dari jaringan perkotaan. Sementara distribusi menggunakan mobil tangki dikoordinasikan melalui satuan tugas penanganan kekeringan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kota Samarinda.

Kaharuddin juga menyebut Perumdam belum memiliki rencana investasi teknologi reverse osmosis atau RO untuk mengolah air asin menjadi air tawar. Menurutnya, intrusi air asin tidak terjadi setiap tahun, melainkan memiliki periode sekitar 10 hingga 12 tahun, sedangkan penggunaan teknologi RO membutuhkan investasi besar dan berpotensi meningkatkan biaya produksi air. "Perumdam saat ini masih mengandalkan air permukaan dari sungai sebagai sumber air baku utama," ujar Kaharuddin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....