Suhu Berau Capai 37,8 Derajat Celsius, BMKG Imbau Warga Waspadai Asap
- 02 Sep 2026 07:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Berau – Kondisi cuaca panas dan kabut asap masih melanda sejumlah wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau mencatat jarak pandang di sekitar Bandara Kalimarau berkisar 2 hingga 4,5 kilometer akibat kabut, asap, dan fenomena udara kabur (haze).
Informasi tersebut disampaikan Kepala Stasiun BMKG Berau, Ade Heryadi, didampingi Prakirawan Cuaca BMKG Berau, Ivan Rizki, saat diwawancarai Tim Liputan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Berau, Selasa 1 September 2026.
Berdasarkan pemantauan BMKG, keberadaan asap masih terdeteksi di wilayah Berau. Kondisi kabut, asap, dan haze akibat partikel kering halus yang melayang di udara terpantau sejak pagi hingga malam hari.
Suhu udara juga tercatat mencapai 37,8 derajat Celsius. Angka tersebut sempat menjadi salah satu suhu tertinggi yang tercatat di Indonesia.
Arah angin terpantau bervariasi, mulai dari timur laut hingga barat laut, dengan kecepatan 0–11 kilometer per jam.
BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap untuk menggunakan masker dan terus memantau perkembangan informasi cuaca.
Sisa Pengaruh El Nino Masih Terasa
Prakirawan Cuaca BMKG Berau, Ivan Rizki, menjelaskan kondisi panas dan minimnya hujan dipengaruhi dinamika atmosfer serta sisa pengaruh El Nino.
Meski demikian, kondisi tersebut belum masuk kategori kemarau panjang maupun kekeringan ekstrem. Hal ini karena secara klimatologis Berau memiliki karakteristik iklim yang cenderung basah.
Menurut Ivan, kondisi kekeringan yang terjadi saat ini juga tidak separah yang terjadi pada 2019.
Suhu tertinggi mencapai 37,8 derajat Celsius. Sementara itu, potensi hujan ringan masih dapat muncul sesekali di kawasan pegunungan, sedangkan wilayah lainnya belum menerima curah hujan yang signifikan.
Rekayasa Cuaca Turunkan Titik Panas
Upaya rekayasa cuaca yang dilakukan pemerintah dinilai telah memberikan dampak positif, salah satunya terlihat dari penurunan jumlah titik panas (hotspot).
Namun, Ivan menjelaskan bahwa efektivitas rekayasa cuaca sangat bergantung pada ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Rekayasa cuaca ibarat pupuk, hanya bisa berfungsi jika tersedia bibit awan,” ujar Ivan.
Menurutnya, saat ini jumlah awan pembawa hujan belum mencukupi sehingga rekayasa cuaca belum mampu menghasilkan curah hujan seperti yang diharapkan.
BMKG memperkirakan kondisi kemarau masih berlangsung hingga akhir September 2026. Curah hujan yang lebih merata di seluruh wilayah Berau diprediksi baru terjadi setelah periode tersebut.
BMKG Ingatkan Bahaya Pembakaran Hutan dan Lahan
BMKG mengingatkan, keberadaan asap dan kabut berkaitan erat dengan aktivitas pembakaran hutan dan lahan.
“Tidak akan ada asap jika tidak ada yang membakar,” tegas Ivan.
Masyarakat diimbau menghindari pembakaran lahan maupun sampah karena aktivitas tersebut dapat menambah emisi dan memperburuk kualitas udara.
Masyarakat juga disarankan mengelola sampah dengan cara yang lebih aman, seperti mengubur atau menggunakan metode pengelolaan lainnya yang tidak menghasilkan asap.
Informasi terbaru mengenai titik panas, prakiraan cuaca, dan peringatan gelombang terus diperbarui oleh BMKG. Masyarakat dapat memantau informasi tersebut melalui kanal media sosial resmi BMKG Berau, termasuk Instagram. (DiskominfoBerau/tim)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....