Sumber Air Mulai Menipis, Warga Sepaku Panjatkan Doa Memohon Hujan
- 01 Sep 2026 13:21 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Penajam Paser Utara - Kekeringan mulai dirasakan masyarakat Sepaku setelah hujan tak kunjung turun dalam beberapa pekan terakhir.
Di tengah berkurangnya sumber air dan ancaman kebakaran hutan dan lahan, warga memilih memperkuat ikhtiar melalui Salat Istisqa.
Salat Istisqa dilaksanakan di Lapangan Desa Tengin Baru, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Selasa, 1 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Salat Istisqa serentak di empat kecamatan di PPU atas arahan pemerintah daerah.
Camat Sepaku Gamaliel Abimanyu Arliandito mengatakan, pelaksanaan salat menjadi bentuk ikhtiar masyarakat menghadapi kondisi kemarau yang semakin terasa.
Menurutnya, dalam sekitar tiga pekan terakhir curah hujan di wilayah Sepaku sangat minim.
“Curah hujan cukup kecil, bahkan dalam tiga minggu ini kayaknya belum ada hujan sama sekali,” kata Gamaliel.
Kondisi tersebut mulai berdampak pada ketersediaan air di sejumlah wilayah Sepaku.
Pemerintah kecamatan mencatat Kelurahan Sepaku dan Desa Karang Jinawi mulai mengalami penurunan sumber air.
Kedua wilayah tersebut juga belum mendapatkan akses jaringan PDAM secara memadai.
Akibatnya, pemerintah harus menyiapkan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Gamaliel menyebut suplai air bersih telah dua kali dilakukan ke dua wilayah tersebut.
Langkah ini menjadi penting karena kebutuhan air tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga kebutuhan rumah tangga dan aktivitas warga sehari-hari.
“Untuk Sepaku sendiri ada dua wilayah, yaitu Kelurahan Sepaku dan Desa Karang Jinawi. Itu sudah dua kali dilakukan suplai air bersih karena sumber-sumber air yang ada di sana juga sudah berkurang,” katanya.
Kondisi Sepaku tersebut terjadi ketika sebagian wilayah Kalimantan Timur masih berada dalam periode cuaca panas dan kering. BMKG pada 31 Agustus 2026 menyebut awal September masih didominasi cuaca panas dan kering, meski peluang hujan lokal tetap ada.
BMKG juga sebelumnya memperkirakan sebagian besar Kalimantan Timur berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada September. Wilayah yang masuk dalam prakiraan tersebut termasuk Penajam Paser Utara.
Situasi kering itu bukan hanya berdampak pada ketersediaan air.
Risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat karena vegetasi dan permukaan tanah lebih mudah terbakar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus di Sepaku yang berada di kawasan strategis sekitar Ibu Kota Nusantara.
Pemerintah bersama unsur terkait harus menghadapi kebutuhan menjaga lingkungan sekaligus memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan.
Bahkan, BMKG bersama Otorita IKN, BNPB, TNI AU, dan Pemerintah Kaltim sebelumnya menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi defisit air di Waduk Sepaku dan ancaman karhutla. (BMKG)
Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan air di kawasan Sepaku bukan sekadar persoalan sesaat.
Ketersediaan air menjadi bagian penting dari kesiapan wilayah menghadapi tekanan cuaca kering dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Di tengah kondisi itu, Salat Istisqa menjadi ruang bagi masyarakat untuk berhenti sejenak dari aktivitas dan memanjatkan doa bersama. Harapannya bukan hanya hujan segera turun, tetapi juga kondisi lingkungan kembali lebih aman dari dampak kekeringan.
Bagi pemerintah kecamatan, ikhtiar melalui doa berjalan bersamaan dengan langkah teknis di lapangan.
Distribusi air bersih tetap dilakukan ketika warga membutuhkan, sementara penanganan karhutla terus diperkuat bersama berbagai unsur.
Gamaliel mengatakan pemerintah telah membangun mekanisme pelaporan untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan suplai air. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui kolaborasi pemerintah, pihak swasta, TNI, dan Polri.
“Ketika masyarakat membutuhkan air bersih, kami sudah membangun posko pelaporan. Kami bersama seluruh jajaran stakeholder akan merespons dan segera mengirimkan suplai air bersih,” ujarnya.
Dengan demikian, Salat Istisqa di Sepaku tidak berdiri sendiri sebagai kegiatan keagamaan. Di balik doa yang dipanjatkan, terdapat persoalan nyata tentang air, lingkungan, kesehatan, dan keselamatan masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama.
Bagi warga yang sumber airnya mulai menipis, turunnya hujan menjadi harapan yang sangat dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Sementara bagi pemerintah, kemarau menjadi momentum untuk memastikan sistem distribusi air dan kesiapsiagaan bencana tetap berjalan sebelum kondisi semakin berat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....