Warga Sepaku Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Segera Turun
- 01 Sep 2026 10:27 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Sepaku— Masyarakat Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, melaksanakan salat Istisqa sebagai ikhtiar menghadapi kondisi cuaca panas dan ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Salat meminta hujan tersebut digelar di Lapangan Desa Tengin Baru, Kecamatan Sepaku, Senin 1 September 2026 pukul 08.00 WITA.
Kegiatan ini dilaksanakan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan bersama Kantor Urusan Agama dan Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Sepaku. Warga dari sejumlah masjid dan musala di wilayah Sepaku turut diajak mengikuti doa bersama tersebut.
Pelaksanaan salat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk memohon turunnya hujan. Dalam surat pemberitahuan Kecamatan Sepaku, doa bersama tersebut diharapkan membawa keberkahan bagi masyarakat Kabupaten Penajam Paser Utara.
Harapan terhadap hujan juga berkaitan dengan kondisi lingkungan yang semakin kering. Cuaca panas dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama apabila masyarakat masih melakukan aktivitas pembakaran di lahan terbuka.
Kapolsek Sepaku AKP Syarifuddin mengatakan, doa bersama menjadi salah satu ikhtiar menghadapi kondisi tersebut. Di sisi lain, aparat bersama berbagai unsur terus melakukan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi karhutla.
“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan dan doa bersama pada hari ini, semoga cepat turun hujan,” kata Syarifuddin.
Menurutnya, penanganan karhutla di Sepaku melibatkan berbagai unsur. Polsek Sepaku berkolaborasi dengan Forkopimcam, Otorita IKN, TNI, pemadam kebakaran, serta unsur terkait lainnya.
Salah satu wilayah yang mendapat perhatian berada di perbatasan Kutai Kartanegara dengan Kecamatan Sepaku, tepatnya kawasan Tengkorak. Petugas masih melakukan pemantauan terhadap titik yang sebelumnya ditemukan adanya api.
“Semua instansi baik TNI, Polri, OIKN, Muspika, dan pemadam sudah bersama-sama untuk memadamkan api,” ujarnya.
Selain penanganan di lapangan, kepolisian memperkuat upaya pencegahan melalui Bhabinkamtibmas. Personel diterjunkan untuk menyampaikan imbauan kepada masyarakat di desa-desa agar tidak melakukan pembakaran.
Warga juga diminta menunda aktivitas pembakaran lahan untuk berkebun maupun pembakaran sampah. Imbauan tersebut menjadi penting karena kondisi panas dan kering dapat membuat api lebih mudah menyebar.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, baik pembakaran sampah maupun lahan untuk berkebun,” kata Syarifuddin.
Kepolisian juga mengingatkan bahwa pembakaran lahan yang terbukti melanggar ketentuan dapat berujung pada proses hukum. Penindakan akan dilakukan apabila petugas menemukan adanya pelaku berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti yang diperoleh.
Bagi masyarakat, salat Istisqa tidak hanya menjadi ritual keagamaan untuk memohon hujan. Momentum tersebut juga dapat menjadi pengingat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan di tengah kondisi yang rawan kebakaran.
Terlebih, Sepaku memiliki posisi strategis sebagai kawasan pembangunan Ibu Kota Nusantara. Kondisi lingkungan yang aman dari kebakaran menjadi kepentingan bersama, bukan hanya bagi pemerintah dan aparat, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut.
Karena itu, doa agar hujan segera turun berjalan bersama dengan upaya pencegahan di lapangan. Masyarakat diharapkan ikut menjaga lingkungan, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Dengan kolaborasi tersebut, upaya menghadapi kemarau tidak berhenti pada pemadaman ketika kebakaran terjadi. Pencegahan dari tingkat masyarakat menjadi bagian penting untuk menjaga lingkungan Sepaku tetap aman sekaligus mengurangi risiko karhutla.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....